SETAHUN SMART SURAU SEBAGAI GERAKAN PERADABAN BARU

SETAHUN SMART SURAU SEBAGAI GERAKAN PERADABAN BARU

Oleh: Duski Samad
STP@series62.01042026

 

Program unggulan (Progul) Smart Surau yang diluncurkan Pemerintah Kota Padang di bawah kepemimpinan Wali Kota Padang patut dicatat sebagai salah satu ikhtiar strategis mengembalikan fungsi surau tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter generasi muda. Dalam konteks Minangkabau, langkah ini sebenarnya bukan hal baru, tetapi revitalisasi nilai lama yang diperbarui dengan pendekatan modern.

Surau dalam sejarah Minangkabau bukan sekadar tempat shalat. Ia adalah pusat pendidikan, pembinaan akhlak, penguatan adat, bahkan pusat kaderisasi kepemimpinan umat. Karena itu, ketika program Smart Surau digerakkan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi fondasi peradaban.

Program yang diterima luas masyarakat

Dalam pengamatan setahun berjalan, Smart Surau termasuk program yang relatif diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Hampir tidak ada resistensi berarti, karena masyarakat Minangkabau secara kultural memang memiliki kedekatan emosional dengan surau.

Program ini dipahami bukan sebagai beban, tetapi sebagai investasi moral jangka panjang untuk generasi muda. Di tengah kekhawatiran terhadap pengaruh negatif media sosial, pergaulan bebas, dan melemahnya kontrol sosial, Smart Surau menjadi salah satu jawaban strategis memperkuat benteng karakter anak-anak Kota Padang.

Secara sosiologis, program ini memiliki legitimasi budaya karena sejalan dengan falsafah: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Kepemimpinan edukatif, bukan sekadar komando administratif

Salah satu kekuatan program ini adalah pendekatan kepemimpinan yang lebih bersifat edukatif daripada sekadar administratif. Program tidak hanya dijalankan melalui instruksi formal, tetapi melalui pendekatan pembinaan, sosialisasi, dan kesadaran kolektif.

Model seperti ini penting, karena gerakan sosial tidak bisa hanya digerakkan oleh perintah, tetapi oleh kesadaran bersama. Jika hanya bersifat komando, program akan berjalan secara formalitas. Tetapi jika bersifat edukatif, ia berpotensi menjadi gerakan budaya.

Dalam perspektif kepemimpinan modern, ini disebut transformational leadership, yaitu kepemimpinan yang menggerakkan kesadaran, bukan sekadar mengatur prosedur.

Tantangan teknis: persoalan teknologi dan implementasi lapangan

Namun demikian, setiap program besar pasti menghadapi tantangan teknis. Dalam pelaksanaan Smart Surau, salah satu kendala yang muncul adalah masalah teknologi, khususnya penggunaan barcode absensi yang terkadang mengalami gangguan sistem.

Masalah ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi berdampak pada administrasi sekolah. Ketika data tidak terbaca secara optimal, seringkali pihak sekolah yang menerima dampak evaluasi, bahkan kepala sekolah mendapat teguran karena dianggap tidak optimal dalam pelaksanaan.

Di sinilah pentingnya evaluasi sistem berbasis realitas lapangan. Program yang baik perlu didukung oleh sistem teknologi yang stabil, dukungan teknis yang memadai, serta mekanisme solusi cepat ketika terjadi gangguan.

Pendekatan evaluasi seharusnya tidak hanya melihat hasil data, tetapi juga mempertimbangkan faktor teknis yang mungkin berada di luar kendali pelaksana lapangan.

Perlunya pembagian tugas pengawasan yang lebih proporsional

Masukan dari para guru juga menjadi catatan penting. Sebagian menyampaikan perlunya pembagian tugas pengawasan yang lebih proporsional, agar tidak menimbulkan beban tambahan yang terlalu berat, terutama pada jam-jam awal sekolah.

Beberapa keluhan muncul terkait keharusan pengawasan pagi di masjid yang beririsan dengan tugas utama guru dalam persiapan pembelajaran. Jika tidak diatur dengan baik, hal ini bisa menimbulkan kelelahan administratif dan psikologis.

Karena itu perlu skema manajemen yang lebih adaptif, misalnya:
Pembagian jadwal pengawasan bergilir
Keterlibatan unsur masyarakat sekitar
Kolaborasi dengan pengurus masjid.

Dukungan tenaga pendamping kegiatan.
Program sosial akan lebih kuat jika menjadi gerakan bersama, bukan hanya tugas institusi pendidikan.

Smart Surau sebagai investasi karakter jangka panjang

Terlepas dari berbagai catatan teknis tersebut, Smart Surau tetap harus dilihat sebagai investasi karakter jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam satu atau dua tahun, tetapi dalam 10–20 tahun ke depan ketika generasi yang dibina hari ini menjadi pemimpin masa depan.

Dalam perspektif pendidikan karakter, pembiasaan spiritual seperti shalat berjamaah, interaksi dengan masjid, dan pembinaan akhlak memiliki dampak signifikan terhadap pembentukan disiplin, empati sosial, dan kontrol diri.

Bahkan dalam banyak penelitian pendidikan, keterlibatan remaja dalam kegiatan keagamaan terbukti berkorelasi dengan: Penurunan perilaku menyimpang. Peningkatan kontrol diri. Penguatan moralitas sosial
Stabilitas emosi.

Dari program menjadi gerakan peradaban

Ke depan, tantangan terbesar Smart Surau bukan pada keberlanjutan program, tetapi bagaimana menjadikannya gerakan budaya. Program bisa berhenti ketika kepemimpinan berganti, tetapi gerakan budaya akan hidup jika sudah menjadi kesadaran masyarakat.

Karena itu Smart Surau idealnya terus diarahkan menjadi: Gerakan pembinaan karakter, Gerakan literasi Al-Qur’an, Gerakan akhlak generasi muda

Gerakan revitalisasi fungsi masjid. Jika ini berhasil, maka Smart Surau bukan hanya program wali kota, tetapi warisan peradaban Kota Padang.

Penutup

Setahun perjalanan Smart Surau menunjukkan satu hal penting: membangun kota tidak cukup dengan infrastruktur, tetapi harus dengan karakter. Jalan bisa dibangun dalam waktu singkat, tetapi karakter generasi hanya bisa dibangun dengan kesabaran dan konsistensi.

Karena itu Smart Surau harus terus disempurnakan secara teknis tanpa kehilangan ruh besarnya sebagai gerakan moral.

Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah kota bukan hanya pada gedungnya, tetapi pada akhlak generasinya.
Jika surau hidup, karakter hidup. Jika karakter hidup, peradaban akan tegak.ds