SI AWAK # “Kok Pandai Mangecek Bak Santan jo Tangguli, Kok Indak Pandai Mangecek Bak Alu Pancukie Duru”

SI AWAK49 Views

SI AWAK #
“Kok Pandai Mangecek Bak Santan jo Tangguli, Kok Indak Pandai Mangecek Bak Alu Pancukie Duru”

Oleh: Duski Samad
Pembelajar MK Islam dan Budaya Minangkabau UIN Imam Bonjol Padang

 

Kearifan adat Minangkabau di atas relevan dan patut menjadi pertimbangan di saat era keterbukaan informasi yang behitu luas saat ini.

Nitizen sebagai entitas medsos begitu menentukan di era digital ini. Viral, framing, bullying dan ujaran kebencian adalah bentuk komunikasi virtual yang mesti menjadi perhatian siapapun yang menjadi pejabat publik.

Komunikasi Pemimpin Publik: Antara Santan, Tangguli, dan Alu Pancukie Duru

Pepatah Minangkabau “Kok pandai mangecek bak santan jo tangguli, kok indak pandai mangecek bak alu pancukie duru” mengajarkan bahwa kata-kata dapat menjadi penenang seperti santan yang bercampur tangguli—lembut, manis, dan menyejukkan—atau dapat pula menjadi bencana seperti alu yang memecah lesung—keras, melukai, dan merusak tatanan.

Dalam tradisi Minangkabau, komunikasi bukan sekadar penyampaian pesan, tetapi cermin karakter, akal budi, dan kewibawaan seseorang. Terlebih bagi seorang pemimpin publik, kualitas komunikasi adalah penentu apakah ia menjadi pemersatu atau justru sumber kegaduhan sosial.

1.Komunikasi sebagai Pilar Kepemimpinan Publik

Pemimpin publik hidup di ruang sosial yang penuh harapan, kecurigaan, dan dinamika. Karena itu:

Informasi yang jelas dan elegan adalah bentuk pertanggungjawaban kepada rakyat.

Komunikasi yang salah, kabur, atau arogan dapat memperkeruh suasana, memicu salah paham, dan menimbulkan distrust.

Dalam konteks demokrasi, kegagalan berkomunikasi adalah bentuk kegagalan kepemimpinan.

Seorang pemimpin tidak hanya perlu bekerja baik, tetapi juga mengkomunikasikan kebaikan itu secara benar.

2.Perspektif Sosiologi Minangkabau: Kata adalah Marwah

Dalam sosiologi Minang, kata memiliki status tinggi:

Kata adalah marwah, karena kehormatan seseorang terlihat dari caranya berkata.

Masyarakat Minang mengembangkan budaya musyawarah dan mufakat, yang menuntut kecerdasan komunikasi: sabar, jelas, tidak kasar.

Pepatah “karatau madang di hulu, babuah babungo balun; marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun” menegaskan bahwa kearifan berkomunikasi menjadi syarat diterimanya seseorang di perantauan.

Pemimpin yang komunikasinya baik dianggap manusia beradat, sedangkan yang keliru atau sembrono dinilai belum “jadi urang”.

3.Perspektif Antropologi Minangkabau: Komunikasi sebagai Sistem Nilai

Antropologi Minangkabau melihat komunikasi bukan sekadar teknis, tetapi bagian dari sistem budaya:

a. Komunikasi sebagai alat menjaga harmoni

Dalam masyarakat nagari, konflik diselesaikan lewat kato nan ampek:

1.Kato mandaki (kepada yang dihormati)

2.Kato manurun (kepada yang lebih muda)

3.Kato mandeh (kepada keluarga dekat)

4.Kato malereng (kepada sesama atau pihak lain)

Pemimpin publik yang gagal menempatkan “kato” sesuai situasi akan menciptakan kegaduhan sosial.

b. Komunikasi membangun legitimasi

Dalam antropologi kekuasaan Minangkabau, pemimpin yang “indah kato” dihargai dan diterima.
Sebaliknya, pemimpin yang kasar, ambigu, atau defensif dianggap tidak matang secara adat.

c. Komunikasi sebagai simbol kepemimpinan moral

Minang memandang pemimpin sebagai moral guardian, sehingga ucapan pemimpin harus menjadi contoh: menenteramkan,
tidak memecah-belah,
memberi arah.

Pepatah “cabiak tabang, kacang balimbiang—kok ciek rusak, rusaklah salingka” mengingatkan bahwa kesalahan komunikasi pemimpin akan berdampak luas pada masyarakat.

4.Relevansi Hari Ini: Pemimpin di Era Medsos

Pada era digital, setiap kata pemimpin: cepat menyebar,
mudah dipelintir, dan dapat mempengaruhi stabilitas psikologis publik.

Karena itu pepatah Minang tadi menemukan relevansi baru: Pemimpin yang “pandai mangecek bak santan jo tangguli” adalah pemimpin yang mampu memberi informasi jernih, transparan, dan menenangkan dalam badai isu.

Sebaliknya, yang “mangecek bak alu pancukie duru” akan menjadi sumber krisis kepercayaan.

5.Penutup:
Komunikasi Baik Adalah Tanggung Jawab Moral

Pepatah Minangkabau bukan sekadar ungkapan estetik, tetapi panduan etis bagi pemimpin:

Gunakan kata sebagai penawar, bukan pemecah.

Berikan informasi yang valid, jangan membiarkan rakyat berspekulasi.

Bangun komunikasi yang merawat marwah, bukan meruntuhkannya.

Karena pada akhirnya, marwah pemimpin adalah marwah rakyatnya, dan komunikasi adalah cermin jiwa kepemimpinan.aurduri @tunjang06122025.