SUDUT PANDANG GEN-Z TERHADAP PERNIKAHAN
Oleh
Siti Asiah Nur Latifah
Institut Darul Falah Bandung Barat
Dalam Agama Islam pernikahan adalah sebuah akad atau perjanjian yang sangat kuat untuk mentaati perintah Allah Swt. Menghalalkan hubungan seksual, menjaga kesucian, serta memperolah ketenangan dan keturunan. Tujuan pernikahan itu sendiri yaitu membentuk keluarga menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah (tenang, penuh cinta, dan kasih sayang). Seperti yang kita ketahui dari apa yang sudah diamati, banyak dari generasi Z ini ketakutan akan dunia pernikahan. Generasi Z bukan tidak mau menikah, namun mereka takut salah dalam memilih pasangan. Tidak sedikit kasus orang yang mengerti agama saja melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perselingkuhan, keegoisan pasangan, kesalahpahaman, dan berbagai kasus lainnya.
Generasi Z memandang pernikahan sebagai personal yang butuh kesiapan matang secara finansial, mental, dan emosional. Generasi Z sering menunda pernikahan karena fokus pada pencapaian pribadi agar terhindar dari konflik sosial. Angka perceraian generasi Z ini sangat mengkhawatirkan. Persentase angka perceraian generasi Z secara nasional belum ada angka pasti, tetapi mereka termasuk kelompok usia yang signifikan. Data tahun 2022 menunjukkan usia 19-25 tahun berkontribusi sekitar 8,65% dari kasus perceraian, dan generasi Z juga merupakan kelompok yang paling banyak mengakui tingginya tingkat perceraian (59%). Adapun faktor-faktor utama pandangan pernikahan Generasi Z diantaranya:
Harus Siap secara Finansial dan Emosional
Ini merupakan faktor terpenting karena generasi Z ingin matang terlebih dahulu dalam ekonomi seperti pekerjaan stabil, mempunyai tabungan yang cukup, serta dapat mengontrol emosional sehingga dapat menyelesaikan masalah diri sendiri, dan mampu menghadapi tantangan sebelum menikah.
Mengembangkan Diri sebelum Menikah
Menekankan kebebasan secara individu sebelum terjadinya komitmen dengan orang lain. Menghabiskan waktu muda sebelum menghadapi konflik sosial yang akan terjadi setelah pernikahan itu terjadi. Banyak juga yang menunda demi pendidikan, karier, atau mencapai kemapanan ideal yang terekspos seperti di media sosial.
Pengaruh dari Media Sosial terhadap Pernikahan
Marriage is scary artinya pernikahan itu menakutkan. Sebuah istilah viral di media sosial ini menjadi gambaran kecemasan, ketakutan, dan keraguan sebagian generasi muda terhadap pernikahan karena tanggung jawab besar. Melihat kasus perceraian, KDRT, atau hubungan toxic membuatnya lebih waspada.
Tekanan Sosial dan Budaya
Bagi wanita ketika usia sudah memasuki kepala dua, banyak diantaranya penekanan dari orang sekitar untuk menyegerakan pernikahan. Padahal untuk menemukan calon yang tepat itu tidak harus cepat. Tidak hanya wanita, pria juga terkadang sudah diharuskan mencari pasangan agar segera melangsungkan pernikahan, namun generasi Z ini takut akan tanggung jawab yang akan diemban serta tidak siapnya akan pengaruh perubahan gaya hidup setelah menikah.
Nilai Pernikahan Berubah
Generasi muda tidak lagi terburu-buru menikah muda. Generasi Z berasumsi bahwa pernikahan itu sebuah pilihan bukan lagi kewajiban yang harus disegerakan. Seperti penentuan mahar kini bergeser dari simbol tanggung jawab menjadi alat ukur status sosial yang sering kali membebani, bertentangan dengan nilai kesederhanaan dalam agama Islam.
Secara garis besar, generasi Z memandang pernikahan sebagai komitmen serius yang membutuhkan persiapan menyeluruh dan kesamaan nilai. Generasi Z juga lebih mengutamakan kesetaraan dalam sebuah hubungan. Sehingga tidak banyak konflik yang akan terjadi dan dapat menghadapinya secara tenang. Generasi Z bukan tidak mau menikah, melainkan ingin lebih siap secara lahiriyah dan batiniahnya, agar tidak terjadi perceraian dalam sebuah pernikahan.












