TABAYYUN ILMIAH LONGSOR KAMPUS III UIN IMAM BONJOL
Oleh: Duski Samad
Tulisan ini hadir sebagai wujud apresiasi terhadap Pimpinan UIN Imam Bonjol yang terus memberikan penjelasan tentang longsor di kampus III Balaigadang Koto Tangah Padang yang letaknya diperbukitan dan dalam bencana akhir November 2025 lalu ikut terdampak bencana.
Topik Tabayyun Ilmiah maksudnya adalah adanya klarifikasi dan penjelasan keilmuan dari ilmuwan yang memiliki otoritas keilmuan dalam bidang geoteknik. Alhamdulillah menghadir Professor Hakam di kampus UIN Imam Bonjol adalah wujud dari tabayyun ilmiah tentang realitas kampus pasca bencana.
Dalam link medsos UIN Imam Bonjol di tulis bahwa…peristiwa longsor yang terjadi di area turap dan lereng Kampus III UIN Imam Bonjol Padang di Balaigadang, Koto Tangah, Kota Padang, sesungguhnya bukan hanya peristiwa alam. Ia adalah peristiwa sosial—yang menguji cara kita memahami risiko, menyaring informasi, dan menjaga nalar publik di tengah arus media sosial yang deras.
Sejak kabar itu beredar, sebagian unggahan di media sosial bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Judul-judul sensasional, potongan video tanpa konteks, dan narasi “kampus terancam runtuh” menyebar luas. Padahal, klarifikasi ilmiah telah disampaikan secara terbuka melalui diskusi teknis bersama Pusat Studi Bencana Universitas Andalas pada Senin (12/01/2026).
Pakar geoteknik UNAND, Abdul Hakam, menegaskan dengan bahasa sains yang tenang bahwa longsor tersebut tidak berdampak pada gedung perkuliahan, melainkan terbatas pada turap dan bagian lereng tertentu akibat kondisi alam, terutama hujan intens. Dalam kondisi normal, kawasan Kampus III stabil dan tidak berpotensi longsor struktural.
Namun di ruang digital, ketenangan sains sering kalah oleh kegaduhan emosi.
Ketika Bencana Bertemu Masyarakat Risiko. Dalam kajian sosiologi bencana, bencana tidak pernah berdiri sendiri sebagai peristiwa fisik. Ia selalu berkelindan dengan persepsi, ketakutan kolektif, dan kepercayaan sosial. Longsor kecil bisa menjelma “bencana besar” ketika informasi dilepaskan dari konteks ilmiahnya.
Masyarakat modern hidup dalam apa yang oleh para sosiolog disebut risk society—masyarakat risiko—di mana ancaman seringkali lebih dulu hadir dalam imajinasi publik sebelum benar-benar terbukti secara faktual. Media sosial mempercepat proses ini. Setiap orang bisa menjadi “wartawan dadakan”, tetapi tidak semua siap menjadi penjaga kebenaran.
Dalam konteks Kampus III UIN Imam Bonjol, kesalahan informasi memunculkan beberapa dampak sosiologis yang serius:
1.Kepanikan Sosial yang Tidak Perlu.
Mahasiswa, orang tua, dan masyarakat sekitar bisa mengalami kecemasan berlebihan. Rasa aman—modal sosial paling dasar dalam pendidikan—tergerus oleh kabar yang tidak akurat.
2.Erosi Kepercayaan pada Institusi.
Ketika narasi liar lebih dipercaya daripada penjelasan pakar, kepercayaan publik terhadap universitas, akademisi, dan lembaga keilmuan ikut melemah. Ini berbahaya bagi dunia pendidikan.
3.Stigmatisasi Ruang dan Institusi.
Kampus dapat dicap sebagai “rawan bencana”, meski secara ilmiah tidak demikian. Label sosial semacam ini sulit dihapus dan berdampak panjang pada citra dan keberlanjutan institusi.
4.Distraksi dari Mitigasi Nyata.
Energi publik habis untuk debat dan ketakutan, bukan untuk mendorong solusi teknis yang tepat penguatan turap, perbaikan drainase, dan pemantauan lereng secara berkala.
Ilmu Pengetahuan sebagai Penenang Sosial
Dalam sosiologi bencana, pengetahuan ilmiah berfungsi sebagai penenang sosial (social calming mechanism). Penjelasan Prof. Abdul Hakam bukan sekadar uraian teknis tentang perbedaan longsor dan erosi, tetapi juga pesan sosial bahwa tidak setiap retakan adalah tanda kehancuran, dan tidak setiap insiden alam berarti kegagalan sistem.
Longsor yang terjadi adalah peristiwa lokal, bukan indikasi instabilitas kawasan. Turap bisa diperbaiki, lereng bisa diperkuat, dan risiko bisa dikelola. Yang jauh lebih sulit diperbaiki adalah kerusakan nalar publik akibat informasi yang salah.
Etika Bermedia di Wilayah Rawan Bencana
Medsos sejatinya bisa menjadi alat edukasi kebencanaan. Namun tanpa etika, ia berubah menjadi mesin amplifikasi ketakutan. Dalam perspektif sosiologi, menyebarkan informasi bencana tanpa verifikasi adalah bentuk kekerasan simbolik tidak melukai fisik, tetapi melukai rasa aman dan kewarasan kolektif.
Karena itu, ajakan ini perlu ditegaskan: Tunda unggahan, dahulukan tabayyun. Rujuk pakar, bukan prasangka. Bedakan fakta teknis dan opini pribadi.
Penutup
Peristiwa di Kampus III UIN Imam Bonjol mengajarkan satu hal penting bencana alam bisa dikelola dengan teknologi, tetapi bencana informasi hanya bisa dikelola dengan kedewasaan sosial. Ketika sains berbicara, seharusnya emosi menepi. Ketika pakar menjelaskan, seharusnya nalar memimpin.
Di tengah iklim yang makin ekstrem dan ruang digital yang makin bising, kita membutuhkan lebih banyak ketenangan ilmiah dan tanggung jawab sosial. Sebab, yang paling rapuh dalam setiap bencana bukan hanya lereng tanah—melainkan kepercayaan dan kesadaran kolektif kita sendiri. DS. 13012026.












