THE INTEGRATION OF KNOWLEDGE AND THE ISLAMISATION OF KNOWLEDGE: (Penguatan Turāṡ sebagai Fondasi Epistemologi Pendidikan Tinggi Islam)

THE INTEGRATION OF KNOWLEDGE AND THE ISLAMISATION OF KNOWLEDGE:
(Penguatan Turāṡ sebagai Fondasi Epistemologi Pendidikan Tinggi Islam)

Duski Samad
Dosen UIN Imam Bonjol Padang

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan konseptual dan implementatif antara integration of knowledge dan Islamisation of knowledge dalam pendidikan tinggi Islam kontemporer, khususnya dalam konteks UIN di Indonesia. Studi ini menunjukkan bahwa integrasi keilmuan yang selama ini berkembang di perguruan tinggi Islam cenderung berhenti pada tataran struktural—menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum—tanpa menyentuh rekonstruksi epistemologi keilmuan. Sebaliknya, islamisasi ilmu menawarkan orientasi normatif yang menegaskan turāṡ sebagai modal epistemik, namun belum terinstitusionalisasi dalam ekosistem akademik. Melalui kajian kepustakaan dan analisis komparatif terhadap praktik UIN Malang dan Universitas Al-Azhar, penelitian ini merekomendasikan model integrasi-islamisasi berbasis halaqah prodi, penguatan epistemologi turāṡ, dan rekonstruksi kurikulum berbasis Islamic worldview. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan turāṡ melalui ekosistem halaqah lebih efektif daripada pendekatan kurikulum administratif semata.

Kata kunci: integrasi ilmu, islamisasi ilmu, turāṡ, epistemologi Islam, halaqah, pendidikan tinggi Islam.

1.Pendahuluan

Diskursus mengenai integration of knowledge dan Islamisation of knowledge merupakan isu strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Sejak transformasi IAIN menjadi UIN, muncul perubahan paradigma yang mengupayakan penyatuan ilmu agama dengan sains modern melalui pendekatan integratif (Azra, 2015; Abdullah, 2018). Namun, implementasi integrasi sering kali bersifat struktural, bukan epistemologis.

Di sisi lain, gagasan islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dikemukakan al-Attas (1978) dan al-Faruqi (1982) menekankan pentingnya subordinasi epistemologi modern kepada Islamic worldview. Akan tetapi, gagasan ini sering berada pada tataran teoritik tanpa terimplementasi dalam kurikulum, metodologi riset, dan budaya akademik UIN.

Indonesia membutuhkan model yang memadukan keduanya: integrasi ilmu yang aplikatif dan islamisasi ilmu yang berakar pada turāṡ. Tulisan ini menganalisis perbedaan, titik temu, dan strategi implementasi dua pendekatan tersebut dalam konteks UIN, sambil merujuk pada praktik baik (best practices) UIN Malang dan Universitas Al-Azhar sebagai model penguatan turāṡ.

2.Tinjauan Pustaka

2.1 Integration of Knowledge

Integrasi ilmu dipahami sebagai upaya menyatukan disiplin agama dan sains dalam sistem pendidikan (Abdullah, 2018). Integrasi sering dioperasionalkan melalui:

desain kurikulum gabungan,

pendekatan interdisipliner,

model tree of knowledge, unity of sciences, atau interconnected circles.

Namun berbagai studi menunjukkan integrasi kerap bersifat administratif—sekadar penambahan mata kuliah agama pada prodi sains (Sukardi, 2019). Integrasi tidak otomatis menghasilkan sintesis epistemologis.

2.2 Islamisation of Knowledge

Islamisasi ilmu menekankan pentingnya mengembalikan seluruh proses keilmuan pada kerangka tauhidi (al-Attas, 1978). Islamisasi berfungsi sebagai:

pembersihan konsep Barat yang tidak selaras dengan wahyu (dewesternization),

rekonstruksi pengetahuan berdasarkan nilai-nilai Islam.

Islamisasi menghasilkan paradigma berpikir yang melihat realitas melalui petunjuk wahyu, bukan sekadar integrasi tematik.

2.3 Turāṡ sebagai Modal Epistemik

Turāṡ (warisan intelektual Islam) bukan hanya produk sejarah, tetapi modal epistemologi yang membentuk cara berpikir ulama—melalui fiqh, kalam, ushul, mantiq, tafsir, tasawuf, dan etika ilmiah.

Studi mutakhir menegaskan bahwa penguatan turāṡ perlu dilakukan melalui:

halaqah berbasis guru-murid (Abdel-Haleem, 2010),

bimbingan sanad intelektual,

pembiasaan manhaj istinbāṭ.

3.Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode:

1.Kajian kepustakaan terhadap buku dan artikel mengenai integrasi– islamisasi ilmu.

2.Analisis komparatif terhadap implementasi praktis pada:

UIN Malang (model integrasi-turāṡ),

Universitas Al-Azhar Mesir (model halaqah-turāṡ).

3.Analisis kebijakan terhadap ekosistem keilmuan UIN di Indonesia.

Data dianalisis dengan pendekatan tematik untuk menemukan pola epistemologi dan strategi penguatan turāṡ.

4.Hasil dan Pembahasan

4.1 Distingsi Epistemologis Integrasi dan Islamisasi

Integrasi Ilmu

Menggabungkan dua disiplin ke dalam satu sistem.

Tidak mengubah struktur epistemologi masing-masing.

Hasil: kolaborasi keilmuan (interdisipliner).

Islamisasi Ilmu

Merekonstruksi epistemologi sains dalam kerangka wahyu.

Mempersatukan nash normatif dengan data empiris.

Hasil: ilmu bercorak tauhidi dan berorientasi maqāṣid.

Temuan

Integrasi bersifat struktural, sedangkan islamisasi bersifat paradigmatik.

4.2 Tantangan UTAMA UIN: Kepemimpinan Non-Islamic Studies

Banyak UIN dipimpin oleh akademisi ilmu sosial atau sains murni yang tidak melalui tradisi turāṡ. Hal ini berdampak pada:

1.Inferioritas ilmu agama dalam kebijakan kampus.

2.Sekularisasi kebijakan ilmiah tanpa disadari.

3.Hilirisasi riset yang teknokratis, bukan teosentris.

4.Reduksi turāṡ ke mata kuliah, bukan paradigma hidup.

Temuan ini konsisten dengan kritik Abdullah (2021) tentang “krisis epistemik integrasi ilmu di UIN”.

4.3 Model Penerapan: UIN Malang dan Al-Azhar

UIN Malang

Semua mahasiswa sains diwajibkan mengikuti program turāṡ intensif.

Kurikulum tidak hanya mengintegrasikan, tetapi meleburkan worldview Islam dalam sains.

Penguatan akhlak dan halaqah menjadi kunci.

Universitas Al-Azhar

Turāṡ diajarkan melalui halaqah yang bersifat personal-sanadi.

Perkuliahan formal hanya memberikan lisensi akademik.

Ekosistem kampus menumbuhkan habitus keilmuan Islam.

Temuan

Model Al-Azhar lebih mendalam dalam turāṡ epistemik, sementara UIN Malang kuat dalam rekayasa kurikulum.

4.4 Rekomendasi Model Baru:“Integration–Islamisation–Turāṡ Framework”
Penelitian ini mengusulkan kerangka baru:

1.Integrasi Kurikulum

Mata kuliah turāṡ wajib bagi semua prodi (bukan hanya agama).

Modul Islamic worldview terintegrasi dalam riset dan teknologi.

2.Islamisasi Epistemologi

Pembacaan ulang ilmu modern dengan paradigma tauhid.

Etika sains, etika data, dan maqāṣid sebagai fondasi.

3.Turāṡ sebagai Core Prodi

Halaqah wajib per prodi: teknologi, ekonomi, sosial, hukum, dan dakwah.

Pembimbing halaqah ditentukan berdasarkan kompetensi sanad intelektual, bukan administratif.

Turāṡ menjadi learning ecosystem, bukan sekadar mata kuliah.

4. Ekosistem Kampus

Budaya kitab kuning.
Diskusi ilmiah malam.
Lingkar kajian dosen-mahasiswa.

Model ini menempatkan turāṡ sebagai pusat rekonstruksi epistemologi, bukan ornamen kurikulum.

5. Kesimpulan

Integrasi ilmu dan islamisasi ilmu bukan dua pendekatan yang saling bertentangan, tetapi dua sisi dari upaya membangun epistemologi Islam modern. Integrasi memberikan struktur, islamisasi memberikan orientasi, sementara turāṡ memberikan fondasi metodologis.

Penelitian ini menyimpulkan:

1.Integrasi ilmu tanpa islamisasi hanya menghasilkan hibrida administratif.

2.Islamisasi ilmu tanpa turāṡ hanya menghasilkan wacana normatif.

3.Model paling kuat adalah integrasi-islamisasi yang berbasis halaqah prodi dan penguatan turāṡ epistemik sebagai inti pendidikan tinggi Islam.

Dengan demikian, perguruan tinggi Islam di Indonesia harus bergerak dari integrasi teknis menuju islamisasi epistemik yang berakar pada turāṡ, sebagaimana dipraktikkan Al-Azhar dan dimodifikasi melalui rekayasa kurikulum modern seperti UIN Malang.ds.bkt-slk-pdg@diskusipintuangin.ds.sy.ef.lh. 28112025

Daftar Pustaka (Contoh Format APA)

(Bisa diperbanyak sesuai kebutuhan Bapak)

Abdullah, M. A. (2018). Islamic studies di perguruan tinggi: Pendekatan integratif-interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, M. A. (2021). Epistemologi keilmuan integratif: Tantangan UIN masa depan. Jurnal Ushuluddin, 29(2), 133–150.

Al-Attas, S. M. N. (1978). Islam and secularism. Kuala Lumpur: ABIM.

Al-Faruqi, I. R. (1982). Islamization of knowledge: General principles and workplan. Washington: IIIT.

Azra, A. (2015). Transformasi IAIN ke UIN: Fondasi epistemik dan tantangannya. Studia Islamika, 22(3), 435–464.

Sukardi, S. (2019). Problematika integrasi ilmu di Indonesia. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 22–34.

Leave a Reply

News Feed