Tradisi Balimau Manjalang Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dan Penguatan Spiritual

Tradisi Balimau Manjalang Ramadhan, Momentum Pembersihan Diri dan Penguatan Spiritual

Oleh: Firdaus Djafri
(Wakil Ketua PW DMI Sumbar / Dosen Sosiologi UNU Sumbar)

Padang – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat memiliki tradisi turun-temurun yang dikenal dengan istilah balimau. Tradisi mandi menggunakan air bercampur jeruk nipis atau limau ini biasanya dilakukan satu hingga dua hari sebelum memasuki bulan puasa sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin.

Wakil Ketua PW DMI Sumbar, Firdaus Djafri, menjelaskan bahwa balimau tidak sekadar tradisi budaya, tetapi memiliki makna religius yang mendalam sebagai bentuk kesiapan spiritual menyambut Ramadhan.

“Balimau merupakan simbol penyucian diri. Dalam perspektif sosiologi agama, ini adalah ritual transisi dari kehidupan biasa menuju fase sakral, yaitu bulan Ramadhan yang penuh ibadah dan pengendalian diri,” ujarnya.

Menurut dosen sosiologi UNU Sumbar tersebut, tradisi balimau seharusnya dimaknai sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Nilai utama yang perlu ditekankan adalah taubat, saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan ibadah menjelang bulan suci.

Namun demikian, ia mengakui bahwa dalam perkembangan zaman, sebagian pelaksanaan balimau mengalami pergeseran makna. Di beberapa daerah, kegiatan ini berubah menjadi ajang rekreasi massal yang kurang memperhatikan norma kesopanan dan nilai religius.

“Kita tentu berharap masyarakat dapat menjaga esensi tradisi ini agar tetap selaras dengan ajaran Islam. Jangan sampai budaya yang sarat makna justru kehilangan nilai spiritualnya,” katanya.

Sebagai pengurus Dewan Masjid Indonesia wilayah Sumatera Barat, Firdaus juga mengajak masyarakat menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan menyambut Ramadhan melalui pengajian, dzikir, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Ia menegaskan bahwa tradisi lokal seperti balimau merupakan bagian dari kearifan budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan dengan pendekatan edukatif dan religius. Jika dijaga dengan baik, tradisi ini dapat menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan kualitas keimanan umat.

“Intinya bukan pada mandi limau semata, tetapi bagaimana hati kita benar-benar bersih dalam menyambut Ramadhan,” tutupnya.