Transformasi dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon Ke UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Oleh :
Risma juliyanti, Mochamad Hafiz Anami, Moh dzikri Sholahun Naqib
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H., M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Cirebon– Sejak 21 Mei 2024, satu babak penting dalam sejarah pendidikan tinggi Islam di Cirebon resmi ditutup, dan babak baru yang sarat teknologi dibuka. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon telah bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Siber Syekh Nurjati Cirebon. Keputusan ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan puncak dari perjalanan panjang lembaga yang bermula dari STAIN, beralih menjadi IAIN pada 2009, dan kini mengusung mandat baru sebagai universitas berbasis siber.
Penetapan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2024 juga menjadi penanda berakhirnya Perpres Nomor 48 Tahun 2009. Regulasi yang selama 15 tahun menjadi dasar perubahan STAIN menjadi IAIN itu resmi dicabut. Dengan status baru sebagai UIN Siber, institusi ini memasuki fase baru yang berorientasi pada digitalisasi pendidikan Islam. Transformasi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon membawa dua tujuan besar: mengintegrasikan ilmu Agama Islam dengan ilmu umum secara lebih kuat, serta mendorong perguruan tinggi keagamaan Islam memasuki ekosistem pendidikan berbasis teknologi. Perpres tersebut menegaskan sinergi dua kementerian dalam membina kampus ini, yakni Kementerian Agama untuk program studi keagamaan dan Kementerian Pendidikan untuk pembinaan teknis program umum.
Perubahan status tersebut merupakan kelanjutan panjang sejarah pendidikan Islam di Cirebon. Kampus ini memikul harapan besar sebagai pelopor PTKIN Siber pertama di Indonesia. UIN Siber diharapkan mampu mencetak SDM unggul yang mahir dalam ilmu agama sekaligus adaptif terhadap kemajuan teknologi. Sejarah lembaga ini berakar pada dinamika sosial politik awal 1960-an ketika pengaruh ideologi komunis (PKI) berkembang. Umat Islam Cirebon menjadikan pendidikan sebagai ruang perjuangan dan mendirikan Universitas Islam Syarif Hidayatullah (UNISHA) sebagai wadah mencetak Sarjana Muslim Pejuang. Langkah itu menjadi fondasi lahirnya perguruan tinggi Islam di Cirebon.
Pada Agustus 1965, salah satu fakultas UNISHA Fakultas Agama dinegerikan menjadi Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta Cabang Cirebon. Dua fakultas lainnya, yakni Hukum dan Ekonomi, menjadi cabang Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Tanggal 12 Agustus 1965 kemudian ditetapkan sebagai hari lahir IAIN Cirebon.
Perjalanan lembaga ini terus berubah seiring kebijakan pemerintah. Fakultas Ushuluddin sempat dibuka pada 1967, namun ditutup pada 1974 karena rasionalisasi. Pada 1976, Fakultas Tarbiyah dialihkan pengelolaannya ke IAIN Sunan Gunung Djati Bandung hingga status lembaga berubah menjadi STAIN Cirebon pada 1997 melalui Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997. Pada 2009, melalui Perpres Nomor 48 Tahun 2009, STAIN resmi beralih menjadi IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Meski status berubah, hari kelahiran lembaga tetap pada 12 Agustus 1965. Sejumlah tokoh telah memimpin lembaga ini, mulai dari Prof Abdul Kahar Mudzakir hingga Prof Dr Aan Jaelani MAg yang menjabat sejak 2023.
Transformasi menuju UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon kemudian ditegaskan melalui Perpres 60 Tahun 2024. Rektor UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof Dr H Aan Jaelani MAg, menegaskan bahwa perubahan ini merupakan penguatan arah baru pendidikan tinggi Islam di era digital. “Transformasi ini menegaskan reposisi kelembagaan menuju perguruan tinggi yang sepenuhnya mengadopsi sistem pembelajaran berbasis teknologi,” ujarnya. Gagasan mengenai universitas siber telah lebih dulu berkembang melalui inisiasi Universitas Islam Siber Syekh Nurjati Indonesia (UISSI) yang digagas Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1175 Tahun 2021 menetapkan IAIN Cirebon sebagai pilot project perguruan tinggi Islam berbasis siber.

Digitalisasi pembelajaran mulai diperkenalkan melalui soft launching Program Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) PAI pada 14 Desember 2021. Prof Aan menyatakan bahwa PJJ menjadi fondasi utama bagi model universitas siber. Program ini dinilai mampu menjangkau masyarakat yang terkendala akses pendidikan, termasuk para guru madrasah. Data menunjukkan bahwa 86 persen guru madrasah belum memiliki kualifikasi S1, sehingga UIN Siber diharapkan dapat menjadi solusi. Konsep “siber” menjadi identitas utama universitas ini. UIN Siber memiliki tiga fungsi strategis: menyediakan sumber daya pendidikan Islam terbuka berbasis siber, mengembangkan bahan ajar digital multimedia, dan menyelenggarakan pendidikan jarak jauh di berbagai jenjang. Ketiga fungsi tersebut menjadi dasar penguatan sistem pendidikan Islam di era digital.
Dari sisi sumber daya manusia, hingga Mei 2024 kampus telah melatih puluhan dosen berketerampilan digital. Delapan studio pembelajaran modern telah beroperasi di Pusat Inovasi Pembelajaran Digital (PIPD) dengan produksi ratusan video pembelajaran. Layanan akademik dan administrasi pun diarahkan menuju sistem digital terpadu dengan target satu data kampus pada Desember 2024. Prof Aan menegaskan bahwa digitalisasi akan meningkatkan efisiensi layanan dan menekan biaya operasional, termasuk kemungkinan penyesuaian UKT agar lebih terjangkau. Transformasi ini sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama tahun 2024, seperti internasionalisasi kampus dan penguatan kurikulum digital. Prof Aan menyatakan bahwa keberhasilan program tersebut memerlukan budaya digital yang solid dan kolaborasi seluruh unit kampus. Dukungan terhadap transformasi IAIN Syekh Nurjati juga datang dari pemerintah pusat. Dalam kunjungan kerja Komisi VIII DPR RI, para anggotanya menyatakan komitmen mengawal alih status tersebut. Ketua rombongan, Selly Andriany Gantina, menegaskan bahwa Jawa Barat layak memiliki universitas Islam berbasis siber pertama di Indonesia dan DPR mendukung penuh kebijakan Menteri Agama dalam memajukan pendidikan tinggi keagamaan.
Dalam kesempatan itu, Rektor IAIN Syekh Nurjati saat itu, Sumanta Hasyim, menyampaikan bahwa proses transformasi telah berlangsung selama tiga tahun dan semua persyaratan regulatif telah dipenuhi. Sebelum Perpres terbit, kampus telah membuka Program Studi PJJ PAI dan menerima lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai daerah. Dengan dukungan penuh pemerintah dan kesiapan infrastruktur digital, transformasi menjadi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menjadi babak baru pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Kehadiran universitas berbasis siber ini diharapkan membuka akses pendidikan lebih luas bagi masyarakat, mulai dari guru, pekerja, petani, hingga WNI di luar negeri yang membutuhkan fleksibilitas pembelajaran digital.
Namun, transformasi menuju UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon bukan tanpa tantangan. Implementasi sistem pembelajaran digital berskala besar memerlukan kesiapan infrastruktur, budaya akademik yang adaptif, serta kepastian regulasi. Tantangan terbesar muncul pada pemerataan fasilitas teknologi bagi mahasiswa dan dosen, terutama terkait akses internet stabil, perangkat memadai, dan sistem pembelajaran yang benar-benar user-friendly. Selain itu, digitalisasi layanan akademik membutuhkan integrasi data yang kuat agar sistem “satu data kampus” dapat berjalan optimal. Dari sisi SDM, kampus memang telah melatih puluhan dosen yang memiliki kompetensi digital, namun jumlah tersebut masih perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh program studi di UIN Siber. Keterampilan pedagogi digital, produksi konten multimedia, serta kemampuan mengelola kelas virtual menjadi tuntutan baru yang belum sepenuhnya merata di kalangan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan.
Jika dibandingkan dengan universitas siber di luar negeri seperti University of Phoenix (Amerika Serikat), Open University (Inggris), atau Korea National Open University UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon masih berada pada tahap penguatan fondasi. Kampus-kampus siber luar negeri tersebut telah memiliki ekosistem digital mapan, mulai dari Learning Management System (LMS) yang stabil, pusat produksi konten yang sangat besar, hingga standar kualitas PJJ yang telah teruji internasional. Sementara itu, UIN Siber berada pada fase pengembangan infrastruktur dan kompetensi SDM, meski memiliki keunggulan berupa pendekatan pendidikan Islam berbasis siber pertama di Indonesia. Walaupun masih dalam tahap awal, UIN Siber berpotensi berkembang dengan cepat karena mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah, kementerian terkait, serta berfokus pada peningkatan akses pendidikan untuk guru madrasah dan masyarakat luas.






