TRI SUKSES KEMENHAJ

TRI SUKSES KEMENHAJ
Ibadah yang Tertata, Ekonomi yang Bermartabat, Peradaban yang Beradab

Oleh: Duski Samad

 

Bagi masyarakat Sumatera Barat, haji dan umrah bukan sekadar perjalanan ibadah ke Tanah Suci. Ia adalah peristiwa batin, kehormatan sosial, dan tanggung jawab moral. Dalam budaya Minangkabau, ibadah selalu dipautkan dengan martabat: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Maka, ketika Tri Sukses Kementerian Haji dan Umrah RI ditegaskan—sukses penyelenggaraan, sukses ekosistem ekonomi, dan sukses peradaban—sesungguhnya ia menemukan rumah kulturalnya di Ranah Minang.

Pada Tabligh Akbar Isra’ Mi‘raj dan Reuni Akbar Jemaah Umrah Travel Holiday di Padang, 10 Januari 2026, Kakanwil Kemenhaj Sumatera Barat menegaskan arah besar tersebut. Data menunjukkan Sumbar berada di peringkat 8 nasional pelunasan haji (106%), bahkan menyisakan ratusan jamaah siap tunda. Angka-angka ini penting, namun bagi orang Minang, angka tidak pernah berdiri sendiri—ia selalu ditimbang dengan niat, adab, dan dampak.

Ibadah yang Tertata, Batin yang Terjaga

Religiusitas masyarakat Sumatera Barat berakar kuat pada tradisi surau, pengajian nagari, dan tarekat yang membentuk kedisiplinan ibadah sekaligus ketenangan batin. Karena itu, sukses penyelenggaraan haji dan umrah tidak hanya dimaknai sebagai kelancaran administrasi, tetapi terjaganya kekhusyukan jamaah.
Al-Qur’an menegaskan, “Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah”—kesempurnaan yang bukan hanya rukun dan wajib, tetapi juga keikhlasan dan amanah pengelola. Dalam kacamata orang Minang, pelanggaran amanah bukan sekadar kesalahan hukum, melainkan aib adat dan luka batin kolektif.

Ekonomi Ibadah yang Bermartabat

Sumatera Barat mencatat 40.000–60.000 jamaah umrah per tahun. Ini bukan sekadar pasar, tetapi ladang maslahat. Religiusitas Minangkabau selalu mengajarkan bahwa mencari nafkah adalah ibadah, selama halal dan berkeadilan. Al-Qur’an membuka ruang itu: “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia Tuhanmu.”
Namun budaya Minang juga tegas: untung tanpa adab adalah cela. Karena itu, ekosistem ekonomi haji–umrah mesti dijaga dari praktik menipu, spekulatif, dan eksploitatif. Ekonomi ibadah harus menghidupkan UMKM, membuka lapangan kerja, dan memperkuat solidaritas, bukan sekadar memperkaya segelintir.

Puncak Makna: Peradaban dan Keadaban

Di sinilah Tri Sukses menemukan makna terdalamnya. Bagi masyarakat Sumatera Barat, gelar haji bukan mahkota, melainkan beban moral. Orang yang telah berhaji diharapkan menjadi urang nan tuo dalam akhlak—menjadi peneduh, penengah, dan teladan.
Al-Qur’an menyebut, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” Dalam tafsir sosial Minangkabau, ayat ini diterjemahkan sederhana: makin tinggi ibadah, makin rendah hati dan luas manfaat.

Pepatah adat mengingatkan: “Nan tinggi ka ujuang, nan randah ka tapian.” Semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin ia hadir membela yang lemah. Maka haji dan umrah yang sukses secara peradaban adalah ketika jamaah pulang dengan akhlak yang lebih jujur, lisan yang lebih santun, kepedulian yang lebih luas, dan keberanian menolak korupsi serta ketidakadilan.

Menjaga Cahaya Itu Tetap Menyala

Religiusitas Sumatera Barat memberi fondasi kuat bagi Tri Sukses Kemenhaj. Tinggal bagaimana semua pihak—negara, travel, ulama, dan jamaah—menjaga cahaya ibadah itu agar tidak padam setelah ihram dilepas.
Jika haji dan umrah hanya berakhir pada foto dan gelar, ia kehilangan rohnya. Tetapi jika ia menjelma menjadi energi moral dan sosial, maka benar sabda itu: Islam yu‘la wa la yu‘la ‘alaih—Islam ditinggikan bukan oleh simbol, melainkan oleh akhlak penganutnya.

Di Ranah Minang, harapan itu bukan utopia. Ia hidup dalam surau, dalam adat, dan dalam kesadaran kolektif bahwa ibadah sejati adalah yang menata hubungan dengan Allah sekaligus memuliakan manusia.ds

Leave a Reply