TUANKU DI TENGAH BENCANA BANJIR
Oleh: Duski Samad
Pembina WAMY Sumatera Barat dan Pembina Majelis Silaturahmi Tuanku Nasional
Bencana banjir bandang yang melanda Sumatera Barat pada 28 November 2025 tidak hanya meluluhlantakkan rumah warga, fasilitas umum, serta infrastruktur pertanian—tetapi juga menghantam pusat-pusat spiritual umat, terutama surau dan tuanku, pewaris warisan keilmuan Syekh Burhanuddin Ulakan.
Sebagai wujud kepedulian, WAMY Sumatera Barat di bawah pimpinan H. Farindasyah menyalurkan bantuan dari Ibuk Hajjah Rehanawati khusus untuk wilayah Padang Pariaman. Bantuan itu diarahkan kepada Tuanku di Ulakan, tokoh yang memikul amanah besar menjaga ketahanan spiritual dan sosial masyarakat.
TUANKU: PENYANGGA IMAN DAN TRADISI MINANGKABAU
Gelaran “Tuanku” di Padang Pariaman memiliki makna sangat dalam. Ia bukan sekadar panggilan kehormatan, tetapi institusi kepemimpinan dalam tradisi Islam Minangkabau, terutama di lingkungan Tarekat Syattariyah yang dibawa dan disebarkan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan (w. 1704 M).
Secara etimologis, kata Tuanku merupakan kombinasi dari tuan (kakak, pemimpin, orang terhormat) dan ku (yang dekat denganku). Artinya: “pemimpinku yang kuhormati.”
Setelah kedatangan Islam, gelar ini melekat pada ulama:
Pelanjut sanad ilmu,
Pembimbing masyarakat dalam ibadah dan akhlak,
Penjaga harmoni adat dan syarak,
Tempat kembali saat masyarakat dilanda krisis.
Ketika para tuanku terdampak musibah, sesungguhnya yang terguncang bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga pusat-pusat konseling ruhani yang selama ini menjadi rujukan masyarakat.
PENYERAHAN BANTUAN DI DUA TITIK PENTING
WAMY menyerahkan 20 (dua puluh) paket bantuan di dua lokasi yang memiliki nilai historis dan religius tinggi:
1. Surau Gadang Tanjung Medan
Tempat Syekh Burhanuddin mendidik murid-muridnya. Surau ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol estafet keilmuan dan pusat peradaban surau Minangkabau.
2. Masjid Syekh Madinah, Sigimba Sikabu Ulakan
Masjid yang menjadi tempat masyarakat menuntut ilmu dan mencari keteduhan rohani. Kini sebagian fasilitasnya rusak akibat banjir.
Kehadiran WAMY adalah bentuk nyata “membangkitkan yang hampir rubuh, menguatkan yang hampir lemah.”
KERUSAKAN SURAU: LUKA SOSIAL DAN SPIRITUAL
Surau-surau yang terdampak banjir bukan hanya kehilangan atap dan dindingnya—tetapi juga kehilangan fungsinya sebagai pusat zikir, halaqah ngaji, konsolidasi adat, dan bimbingan masyarakat.
Bila sekolah yang rusak memicu krisis pendidikan, maka surau yang rusak memicu krisis spiritual.
Masyarakat yang sedang berduka dan cemas kehilangan ruang untuk menenangkan diri dan memohon kekuatan.
Kita patut khawatir bahwa rusaknya surau akan memperlambat pemulihan psikologis masyarakat pasca-bencana.
MEWASPADAI KRISIS EKONOMI PASCA BANJIR
Kerusakan sawah, ladang, dan sumber ekonomi masyarakat di Padang Pariaman sangat luas. Banyak lahan produktif tertimbun lumpur, irigasi jebol, serta ternak hilang.
Bencana ini berpotensi memicu:
1. Turunnya pendapatan petani,
2. Meningkatnya angka kemiskinan,
3. Migrasi sosial ke kota,
4. Terganggunya ketahanan pangan keluarga,
5. Naiknya biaya hidup di desa,
6. Ketergantungan jangka panjang pada bantuan.
Ini bukan sekadar musibah alam, tetapi gelombang krisis sosial-ekonomi yang harus diantisipasi oleh pemerintah, nagari, dan masyarakat sipil.
Tuanku sebagai figur adat-syarak memainkan peran vital dalam memulihkan ketahanan mental dan sosial masyarakat. Karenanya, menyokong tuanku adalah menyokong pulihnya masyarakat.
KESIMPULAN: MENGUATKAN TUANKU, MENGUATKAN UMAT
Bantuan WAMY hanyalah awal dari kerja besar. Yang dibutuhkan masyarakat Ulakan bukan sekadar logistik, tetapi:
Pemulihan surau sebagai pusat pendidikan dan ruhani
Dukungan jangka panjang untuk tuanku dan ustaz terdampak
Program ekonomi produktif untuk petani dan keluarga miskin
Gerakan sosial lintas lembaga memulihkan kehidupan nagari
Tuanku adalah benteng akhir masyarakat:
mereka menenangkan saat bencana, memandu saat masyarakat putus asa, dan mengobati luka batin yang tak terlihat.
Maka peduli tuanku adalah peduli umat.
Dan membangkitkan kembali surau adalah membangkitkan marwah Minangkabau itu sendiri. DS. 30112025.
–
