Vihara Dewi Welas Asih Perkembangan dan Peranannya dalam Relasi Buddhis-Tionghoa dengan Muslim Cirebon

Vihara Dewi Welas Asih Perkembangan dan Peranannya dalam Relasi Buddhis-Tionghoa dengan Muslim Cirebon

Oleh :

Saskia Nur Amalia, Aulia Istiazah, May Abdul Illah

Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

 

Cirebon — Vihara Dewi Welas Asih yang berlokasi di kawasan Pekojan, Kecamatan Lemahwungkuk, Cirebon, terus menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam aspek keagamaan, sosial, dan budaya. Selain menjadi tempat ibadah bagi komunitas Buddhis-Tionghoa, vihara ini memainkan peran penting dalam menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat Muslim di sekitarnya.

Secara historis, keberadaan vihara yang berdiri sejak abad ke-18 ini tidak terlepas dari interaksi pedagang Tionghoa dengan masyarakat Muslim pesisir Cirebon. Tradisi saling menghormati yang terbangun sejak masa Kesultanan Cirebon menjadikan vihara sebagai ruang pertemuan budaya yang inklusif.

Menurut Bapak Hendra Biokong, selaku pengurus vihara menjelaskan bahwa perkembangan vihara tidak hanya terlihat dari renovasi fisik, tetapi juga dari meningkatnya peran sosial terhadap masyarakat sekitar. “Vihara Dewi Welas Asih sejak dulu terbuka bagi siapa pun. Kami tidak hanya fokus pada kegiatan keagamaan, tetapi juga sosial kemasyarakatan. Setiap tahun, terutama menjelang Ramadan, kami mengadakan pembagian sembako dan takjil untuk masyarakat Muslim di sekitar vihara,” ujar pak Hendra.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan budaya seperti Festival Cap Go Meh menjadi salah satu momentum penting dalam mempererat hubungan antar komunitas. “Banyak warga Muslim yang ikut terlibat sebagai panitia maupun pedagang. Mereka merasa menjadi bagian dari kegiatan ini, bukan sekadar penonton,” tambahnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat Muslim setempat, KH. Abdul Majid dari Kampung Arab Cirebon, menilai keberadaan vihara memberikan kontribusi positif dalam menjaga kerukunan. Saat ditemui usai kegiatan sosial, ia menyampaikan apresiasinya.

“Kami sudah sejak lama hidup berdampingan dengan komunitas Tionghoa di sini. Vihara bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan. Mereka sering membantu masyarakat tanpa melihat agama. Itu yang membuat hubungan kami tetap baik,” ungkapnya.

Menurutnya, hubungan harmonis tersebut terjaga karena adanya sikap saling menghargai tradisi masing-masing. “Ketika kami ada kegiatan keagamaan seperti Maulid atau pengajian, pihak vihara juga menghormati dan bahkan ikut membantu fasilitas. Begitu juga sebaliknya,” sambungnya.

Perkembangan dan keterlibatan Vihara Dewi Welas Asih dalam kegiatan sosial dan budaya menjadikannya contoh nyata praktik toleransi di Cirebon. Peran aktif vihara dalam membangun relasi Buddhis-Tionghoa dengan masyarakat Muslim menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis.

Selain itu, perayaan Imlek di Vihara Dewi Welas Asih biasanya dilaksanakan pada awal tahun menurut penanggalan lunar Tionghoa, yang jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Pada momen ini, vihara ramai dikunjungi umat untuk melakukan sembahyang, memberikan persembahan, menyalakan lilin, serta mengikuti tradisi budaya seperti barongsai dan pemberian angpao kepada anak-anak. Tradisi-tradisi ini bukan hanya dijalankan oleh komunitas Buddhis-Tionghoa, tetapi juga disaksikan dengan antusias oleh masyarakat sekitar, termasuk warga Muslim, sehingga menambah suasana kebersamaan di lingkungan tersebut.

Di sisi lain, meskipun terdapat perbedaan agama dan budaya antara komunitas Buddhis-Tionghoa dan masyarakat Muslim sekitar, tidak tampak adanya kesenjangan sosial yang signifikan. Interaksi yang terbangun bersifat inklusif, di mana kedua komunitas saling mendukung dalam kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan. Kerja sama dalam kegiatan kemasyarakatan serta sikap saling menghormati membuat potensi konflik dapat diminimalisasi. Justru, hubungan ini menjadi contoh integrasi sosial yang kuat di Cirebon.

Kehadiran vihara ini sekaligus mempertegas identitas Cirebon sebagai kota budaya yang menjunjung nilai keberagaman dan saling menghormati antar umat beragama, sebuah cerminan masyarakat madani yang ideal di Indonesia.