Babarit: Tradisi Syukur Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Tanah Sunda
Oleh:
Achmad Hilman ZamZami, Novalda Sawaluna, Farah Fatihatun Fadilah
Dosen Pengampu: Bapak Fadli Daud Abdullah, S.H, M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Babarit adalah tradisi sedekah bumi yang rutin diselenggarakan setahun sekali di berbagai desa di Leuwidingding Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sebagai wujud syukur kolektif atas hasil panen yang melimpah, kesehatan, dan kemakmuran yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Waktu pelaksanaannya bervariasi di tiap desa, disesuaikan dengan adat setempat ada yang merayakannya untuk ulang tahun desa, dan ada pula yang mengaitkannya dengan datangnya bulan-bulan besar dalam kalender Islam seperti Dzulqa’dah, Suro (Muharram), atau Mulud (Rabiul Awal). Secara filosofis, Babarit berasal dari akronim “ngababarkeun ririwit” atau “ngabubarkeun weweri,” yang bermakna menghilangkan kesusahan atau mengusir penyakit dan malapetaka (menolak bala).
Pelaksanaan tradisi ini dikemas dalam bentuk karnaval budaya dengan warga mengenakan pakaian adat Sunda sambil mengarak gunungan hasil bumi dan tumpeng. Inti dari acara adalah doa bersama untuk memohon keselamatan dan keberkahan. Aspek budayanya sangat menonjol dengan dimeriahkan oleh kesenian khas Kuningan, yaitu Tayuban Sunda, yang diiringi oleh instrumen tradisional seperti kendang, gong, dan bonang. Selain itu, ada ritual menyanyikan tujuh lagu khas Babarit yang memuat nasihat- nasihat dari leluhur. Contohnya, lagu Lahir Batin menasihati tentang beribadah dan berbuat baik kepada sesama, sementara lagu Titi Pati berisi pesan untuk teliti dan berhati-hati dalam bertindak. Tradisi ini pada dasarnya merupakan akulturasi harmonis antara kebudayaan agraris Sunda dengan nilai-nilai Islam, di mana sedekah dan doa dijadikan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon perlindungan dari musibah.
Ratusan warga Leuwidingding Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, tampak berduyun-duyun dengan rapi berkeliling desa. Dengan berpakaian adat sunda, mereka membawa tumpeng hias beraneka rupa, ada pula yang mengarak gunungan hasil bumi seperti sayuran, padi, dan berbagai macam buah-buahan. Mereka bersama- sama merayakan Babarit atau tradisi sedekah bumi.
Usai diarak keliling desa, warga berdoa bersama untuk para sesepuh dan leluhur yang telah meninggal dunia serta berdoa atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Sang Maha Kuasa berupa hasil panen melimpah, terhindar dari berbagai bala dan marabahaya. Setelahnya, gunungan hasil bumi dan tumpeng bisa dinikmati bersama, diiringi dengan tembang dan kesenian tradisional khas Sunda. Tampak suasana hangat menyelimuti warga desa.
“ini adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas yang telah diberikan selama satu tahun kebelakang. Kemudian kita juga berdoa mudah-mudahan di tahun yang akan datang kita kembali mendapatkan nikmat dari Allah Swt.” ujar salah satu warga yang mengikuti Babarit.

Menolak Bala dan Wujud Syukur Kepada Yang Maha Kuasa Secara bahasa, Babarit berasal dari bahasa Sunda, yang terdiri dari dua suku kata yaitu Babar yang mempunyai arti “dilahirkan” dan Ririwit yang berarti ‚kesusahan. Sedangkan akronimnya yaitu “ngababarkeun ririwit” atau dalam bahasa Indonesia bermakna menghilangkan kesusahan.
Menurut sumber yang lain, nama tradisi Babarit ini merupakan kepanjangan dari “Ngabubarkeun Weweri”‛, yang mempunyai arti mengusir penyakit. Harapannya, dengan dilaksanakannya tradisi Babarit ini masyarakat berharap dapat terhindar dari segala marabahaya, malapetaka, dan penyakit, begitu juga untuk masyarakat Indonesia pada umumnya. Selain itu, pada pada beberapa desa, tradisi Babarit diartikan sebagai sebuah tradisi selamatan atau sedekah bumi.
Meskipun memiliki perbedaan definisi dari setiap desa nya, namun pada dasarnya tradisi ini memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai ungkapan rasa syukur atas kenikmatan dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Baik berupa limpahan hasil bumi, kesehatan, dan kemakmuran yang keberkahan yang didapatkan masyarakat. Selain itu, tradisi Babarit ini menjadi ikhtiar lahiriyah agar masyarakat terhindar dari segala macam penyakit dan bala bencana yang bisa datang sewaktu-waktu tanpa disadari.











