BAGAIMANA TREN GLOW UP TIKTOK MEMBENTUK PERSEPSI STANDAR KECANTIKAN DI KALANGAN GEN Z
Oleh
Fatimatul Mardiah Azzahra
Institut Darul Falah Bandung Barat
PENDAHULUAN
Dalam beberapa tahun terakhir, TikTok berkembang menjadi salah satu media sosial yang paling banyak digunakan oleh Gen Z di Indonesia. Platform berbasis video pendek ini bukan hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga menjadi arena ekspresi diri, tren gaya hidup, dan pembentukan identitas digital. Melalui sistem algoritma For You Page (FYP), TikTok menampilkan konten yang sesuain dengan minat pengguna sekaligus menyebarkan konten-konten yang sedang populer dengan cepat. Kondisi ini sangat berpengaruh dalam membentuk selera, gaya hidup, dan pandangan sosial generasi muda. Salah satu fenomena yang menonjol di platfrom ini adalah tren glow up. Tren ini biasanya menampilkan perubahan fisik seseorang baik dari segi penampilan, gaya berpakaian, perawatan kulit, hingga bentuk tubuh yang dikemas dalam narasi transformasi diri menjadi lebih baik yang dianggap lebih menarik atau ideal. Banyak video glow up di TikTok yang mendapat jutaan tayangan dan komentar, ini menunjukkan betapa kuatnya perhatian publik terhadap perubahan dan peningkatan fisik seseorang.
Bagi sebagian Gen Z, tren glow up bisa menjadi sumber motivasi yang mendorong mereka untuk merawat diri, meningkatkan percaya diri, atau menjalani hidup lebih sehat. Namun, tren ini juga mempunyai sisi lain. Dengan paparan yang berulang terhadap standar kecantikan yang seragam seperti kulit mulus, tubuh proporsional, wajah glowing, dan gaya tertentu, dapat memunculkan tekanan tersendiri. Generasi Z yang masih berada pada fase membangun jati diri, berpotensi menilai tubuh mereka berdasarkan standar visual yang dipopulerkan platform tersebut, termasuk kecenderungan untuk membandingkan diri yang menumbuhkan rasa ambisius tinggi dengan melakukan segala cara agar terlihat sama seperti figur yang tampil dalam video-video itu. Oleh karena itu, tulisan ini berupaya mengulas bagaimana tren glow up di TikTok memengaruhi cara Generasi Z memahami standar kecantikan, sekaligus melihat implikasi yang muncul terhadap persepsi diri mereka dalam budaya media sosial yang sangat visual dan serba terhubung.
PEMBAHASAN
Tren glow up di TikTok jika dilihat lebih dalam bukan sekadar tentang perubahan penampilan, tetapi juga tentang bagaimana Generasi Z memaknai diri mereka di tengah arus visual yang begitu kuat. Ketika perubahan fisik menjadi sesuatu yang dipertontonkan dan dirayakan bersama, perlahan muncul anggapan bahwa nilai seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia mampu menyesuaikan diri dengan standar yang sedang populer. Penampilan tidak lagi sekadar soal kenyamanan pribadi, melainkan juga menjadi sarana untuk mendapatkan pengakuan. Di titik ini, tubuh seakan berubah menjadi proyek yang terus-menerus harus diperbaiki dan ditampilkan. Dalam pergaulan digital, mereka yang dianggap menarik secara visual lebih mudah memperoleh perhatian dan penerimaan. Kondisi ini sering kali tidak disadari, tetapi berpengaruh pada cara Gen Z membangun relasi sosial. Tanpa disadari pula, muncul semacam kelas sosial baru di ruang digital, di mana mereka yang sesuai dengan standar kecantikan terasa lebih diunggulkan. Sementara itu, mereka yang merasa tidak memenuhi kriteria sering memilih diam, rendah diri, atau bahkan menarik diri dari ruang ekspresi karena takut dinilai.
Dorongan untuk berubah dan menyesuaikan diri dengan tren juga membawa dampak pada pola konsumsi. Tidak sedikit anak muda yang mulai mengaitkan rasa percaya diri dengan produk-produk tertentu, seolah-olah kebahagiaan bisa dibeli melalui skincare, pakaian, atau perawatan tubuh. Di sini, glow up bukan lagi sekadar proses perubahan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi pola hidup yang semakin konsumtif. Di balik layar, ada tekanan yang sering tidak terlihat, yakni keinginan untuk terlihat cukup di mata orang lain. Jika terus diikuti tanpa kesadaran, tren ini bisa menumbuhkan rasa lelah yang tidak selalu disadari. Upaya untuk selalu tampil lebih baik dari hari ke hari dapat berubah menjadi beban, karena standar yang dikejar terus bergerak dan tidak pernah benar-benar usai. Rasa puas terhadap diri sendiri menjadi barang langka, sementara perasaan kurang, iri, dan tidak percaya diri justru lebih mudah muncul. Pada beberapa orang, hal ini bahkan dapat memengaruhi cara mereka memandang hidup dan menghargai diri sendiri.
Di balik semua tekanan itu, menariknya, sebagian Generasi Z juga mulai menunjukkan sikap berbeda. Ada yang berani tampil tanpa filter, berbicara tentang ketidaksempurnaan, dan mengajak orang lain untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Konten-konten seperti ini mungkin tidak selalu seviral glow up, tetapi kehadirannya memberi keseimbangan dan ruang bernapas di tengah derasnya tuntutan visual. Dari sini terlihat bahwa Gen Z sebenarnya tidak sepenuhnya terjebak, tetapi juga sedang belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri. Pada akhirnya, tren glow up di TikTok menghadirkan dua wajah yang berjalan berdampingan. Di satu sisi, ia bisa menjadi sumber semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Namun di sisi lain, ia juga bisa menjadi sumber tekanan yang pelan-pelan menggerus rasa percaya diri. Di sinilah pentingnya bagi Generasi Z untuk tidak sekadar mengikuti arus, tetapi juga sesekali berhenti, melihat ke dalam diri, dan bertanya, sebenarnya perubahan seperti apa yang benar-benar mereka butuhkan, dan untuk siapa perubahan itu dilakukan.
KESIMPULAN
Pada akhirnya, tren glow up menempatkan Generasi Z pada persimpangan antara keinginan untuk berkembang dan tekanan untuk menyesuaikan diri. Perubahan memang merupakan bagian wajar dari kehidupan, tetapi menjadi persoalan ketika arah perubahan itu lebih banyak ditentukan oleh standar luar daripada kesadaran diri. Di sinilah refleksi menjadi penting, agar setiap individu tidak kehilangan kendali atas arti menjadi lebih baik menurut versinya sendiri. Media sosial akan terus bergerak dengan tren-tren baru yang silih berganti, namun yang perlu dijaga adalah cara Generasi Z menempatkan dirinya di tengah arus tersebut. Ketika perubahan dilakukan dengan kesadaran, bukan karena keterpaksaan, maka glow up tidak lagi sekadar soal tampilan, melainkan proses bertumbuh yang lebih bermakna. Dengan demikian, nilai diri tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi tumbuh dari penerimaan, keseimbangan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah tuntutan yang serba visual.










