BANJIR KIAMAT DAN BANJIR SUMATERA 28 NOVEMBER 2025
Oleh:
Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Banjir adalah bahasa alam yang paling tua. Sejak manusia pertama melangkah di bumi, air selalu menjadi sahabat sekaligus peringatan. Al-Qur’an menggambarkan bahwa salah satu tanda kehancuran besar pada hari kiamat adalah meledaknya laut, meluapnya air, dan terbukanya pintu langit dengan hujan yang tak tertahankan. Gambaran itu bukan sekadar cerita tentang masa depan, tetapi juga cermin bagi manusia agar membaca ulang bagaimana mereka memperlakukan bumi hari ini.
Pada 28 November 2025, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Banda Aceh mengalami salah satu banjir bandang terbesar dalam dua dekade terakhir. Air menghantam kampung-kampung, meruntuhkan sekolah, merobohkan surau, membawa tubuh manusia, binatang, pohon, batu, dan masa depan yang sedang dibangun. Dalam hitungan menit, beberapa nagari berubah wajah, dan keluarga-keluarga kehilangan rumah, harta, serta kenangan. Alam seolah menunjukkan bahwa ia memiliki cara sendiri mengingatkan manusia, dan peringatan itu sangat mirip dengan ayat-ayat yang kita baca tentang kedahsyatan hari kiamat.
Al-Qur’an menegaskan dalam QS. Al-Qamar ayat 11–12 bagaimana banjir besar di zaman Nuh terjadi ketika langit dibuka dengan air yang tercurah, dan bumi memancarkan mata air dari dasar-dasarnya, lalu air dari atas dan bawah bertemu menjadi kehancuran yang telah ditetapkan. Polanya sama: hujan ekstrem jatuh dari langit, sungai meluap, tanah retak, dan air tak lagi mengenal batas. Inilah miniatur kecil dari thufan yang dahulu menghapus satu generasi.
Dalam ayat lain, QS. At-Takwīr 6 menyebut:
> “Dan apabila lautan meluap…”
Air yang meluap bukan hanya air laut; ia menggambarkan situasi ketika seluruh sistem alam kehilangan keseimbangannya. Seperti itulah kondisi sungai-sungai di Sumatera pada hari itu: meluap, keluar dari jalurnya, menelan jalan, rumah, dan jembatan dalam sekali terjangan.
Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa bencana tidak selalu turun tanpa sebab. QS. Ar-Rūm 41 menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut muncul karena ulah manusia sendiri. Dan jika kita jujur menengok Sumatera hari ini, ayat itu seakan turun tepat di hadapan mata:
Hutan yang dahulu menjadi pelindung tebing kini tinggal kenangan.
Rawa yang seharusnya menjadi penyangga air telah berubah menjadi perumahan.
Sungai dikerdilkan oleh bangunan, jembatan, dan galian material.
Bukit-bukit dibelah demi villa, resort, dan tambang uang.
Ketika air datang, ia tidak menemukan sahabat alamnya—pohon, akar, tanah gambut—tetapi tembok, jalan, dan pemukiman. Air pun memilih jalan sendiri, dan manusia menanggung akibatnya.
Tetapi bencana bukan hanya cerita tentang kerusakan alam. Ia juga cerita tentang jiwa manusia. Dalam kacamata tasawuf, bencana adalah sirru at-tanbīh, rahasia peringatan Tuhan. Allah tidak menghancurkan semuanya, tetapi cukup memberi “sentuhan kecil” agar manusia sadar bahwa mereka hanyalah makhluk kecil dalam bentangan besar Sunnatullah. Ketika air mengalir deras, manusia kembali menyebut nama Allah, saling tolong-menolong, menangis bersama, dan menyadari bahwa apa pun yang dibangun dengan sombong dapat hilang dalam waktu singkat.
Banjir 28 November 2025 mengajarkan kita bahwa manusia hidup di antara dua kekuatan: ketentuan Allah di langit dan tanggung jawab manusia di bumi. Air adalah perintah dari atas, tetapi kerusakan adalah akibat dari bawah. Dua kekuatan itu bertemu sebagaimana digambarkan dalam ayat-ayat kiamat, mengingatkan kita bahwa keseimbangan hidup harus dijaga secara ekologis, sosial, dan spiritual.
Naratif ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengajak kita membaca bencana dengan kearifan: agar pemerintah tidak bermain-main dengan tata ruang dan izin lingkungan, agar masyarakat belajar menjaga sungai seperti menjaga diri sendiri, dan agar semua hati kembali kepada Allah dengan istighfar, taubat, dan kesadaran baru bahwa bumi bukanlah milik kita—kita hanya menumpang, dan Allah sewaktu-waktu dapat mengambil apa yang Ia titipkan.
Pada akhirnya, banjir bandang Sumatera 28 November 2025 bukan sekadar musibah. Ia adalah ayat, tanda bagi manusia yang mau berpikir. Seperti banjir kiamat yang digambarkan dalam Al-Qur’an, bencana ini datang sebagai peringatan agar kita memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan alam, dan memperbaiki cara kita memimpin negeri ini. Karena sesungguhnya, bencana besar selalu menjadi awal dari kesadaran baru, jika manusia mau mendengarnya.ds.02122025











