BENCANA BAGI SEMUA Empati dan Berbagi sebagai Kewajiban Iman, Bangsa, dan Kemanusiaan

BENCANA BAGI SEMUA
Empati dan Berbagi sebagai Kewajiban Iman, Bangsa, dan Kemanusiaan

Oleh: Duski Samad
Diskusi dengan Mas Rudi Tim Kesehatan LK NU ke Sumbar

Bencana tidak pernah berhenti pada titik jatuhnya air bah, runtuhnya tanah, atau robohnya rumah. Ia bergerak lebih jauh—menyentuh relasi sosial, mengguncang nurani, dan menguji kualitas iman serta kebangsaan. Karena itu, bencana sejatinya bukan hanya milik mereka yang terdampak langsung, melainkan urusan semua: sekeluarga, sebangsa, seiman, dan sesama manusia.

Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa musibah dapat bersifat kolektif, bukan individual semata:

> “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kamu.”
(QS. Al-Anfāl: 25)

Ayat ini menegaskan bahwa pembiaran terhadap ketimpangan, kezaliman, dan penderitaan sesama dapat berujung pada bencana sosial yang menimpa semua pihak. Dalam konteks ini, bencana bukan hanya peristiwa alam, melainkan peringatan moral dan sosial.

Dampak Bertingkat, Tanggung Jawab Menyeluruh

Bencana selalu hadir dalam lapisan dampak.
Pertama, dampak langsung: korban kehilangan rumah, nyawa, dan rasa aman.
Kedua, dampak sekeluarga: anak-anak terputus sekolah, ekonomi keluarga lumpuh, trauma berkepanjangan.
Ketiga, dampak sebangsa: ekonomi nasional melemah, kepercayaan publik diuji, dan solidaritas sosial dipertaruhkan.
Keempat, dampak seiman dan sesama manusia: nilai iman dan kemanusiaan diuji—apakah ia hidup dalam tindakan atau berhenti sebagai slogan.

Rasulullah ﷺ menggambarkan relasi ini dengan sangat tegas:

> “Perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan empati seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menempatkan empati sebagai ukuran iman sosial. Ketika korban bencana dibiarkan sendiri, sesungguhnya yang sakit bukan hanya mereka, tetapi tubuh umat dan bangsa secara keseluruhan.

Empati: Dari Rasa ke Kewajiban

Empati sering direduksi menjadi rasa iba atau simpati sesaat. Padahal, dalam Islam dan etika sosial, empati adalah kewajiban moral dan syar‘i. Ia menuntut kehadiran nyata, bukan sekadar doa atau unggahan media sosial.

Allah mengikat keselamatan dengan tindakan memberi:

> “Adapun orang yang memberi dan bertakwa, serta membenarkan pahala yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan.”
(QS. Al-Lail: 5–7)

Memberi di saat bencana bukanlah pilihan sukarela semata, tetapi jalan kemudahan kolektif—bagi yang memberi dan yang menerima. Karena itu para ulama menegaskan bahwa menolong korban bencana adalah fardhu kifayah, dan berubah menjadi fardhu ‘ain bila tidak ada pihak lain yang menolong.

Kaidah fikih menyempurnakan hal ini:
> الضَّرَرُ يُزَالُ
Kemudaratan harus dihilangkan.

Jika penderitaan korban hanya bisa dihilangkan dengan solidaritas publik, maka solidaritas itu menjadi kewajiban. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf bukan sekadar ibadah individual, melainkan instrumen penyelamat sosial untuk menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan martabat manusia.

Perspektif Sosiologis: Bencana sebagai Fakta Sosial Total

Dalam sosiologi modern, bencana disebut sebagai fakta sosial total—ia memengaruhi seluruh sendi kehidupan: ekonomi, budaya, politik, dan psikologi masyarakat. Solidaritas sosial adalah modal utama pemulihan. Penelitian-penelitian sosial menunjukkan bahwa masyarakat dengan empati dan kohesi tinggi lebih cepat bangkit, lebih minim konflik, dan lebih tahan terhadap krisis lanjutan.

Sebaliknya, ketidakpedulian melahirkan anomali sosial: kecemburuan, ketegangan, dan runtuhnya kepercayaan. Dalam konteks kebangsaan Indonesia, bencana menjadi ujian nyata Pancasila—apakah nilai kemanusiaan dan persatuan benar-benar hidup, atau sekadar teks di dinding.

Penutup: Bencana adalah Cermin Kita

Bencana adalah cermin peradaban. Ia memperlihatkan siapa kita sesungguhnya. Jika empati mati, maka yang runtuh bukan hanya rumah, tetapi nilai kemanusiaan. Jika berbagi hidup, maka dari puing-puing akan tumbuh harapan dan persaudaraan.

Karena itu, bencana adalah untuk semua.
Yang terdampak langsung—kita rangkul.
Yang sekeluarga—kita kuatkan.
Yang sebangsa—kita satukan.
Yang seiman dan sesama manusia—kita muliakan.

Empati dan berbagi bukan sekadar kebajikan.
Ia kewajiban iman, tanggung jawab kebangsaan, dan syarat kelangsungan kemanusiaan. 24122025.