BUPATI JKA:
(Dari Luka Bencana Menuju Kebangkitan)
Oleh: Duski Samad
Cendekiawan Padang Pariaman
Judul tulisan di atas disarikan dari sambutan Bupati Padang Pariaman John Kennedy Aziz (JKA) di Masjid Raya Nagari Sikabu Lubuk Alung saat menghadiri Batagak Kudo-Kudo Masjid.
Kehadiran Bupati Padang Pariaman Dr. H. John Kennedy Aziz, SH, MA pada acara batagak kudo-kudo Masjid Raya Sikabu Lubuk Alung, Kamis 26 Maret 2026, bukan sekadar memenuhi undangan seremonial pembangunan masjid. Kehadiran itu menjadi simbol kepemimpinan yang hadir di tengah masyarakat, terutama di saat Padang Pariaman masih dalam proses bangkit dari bencana banjir besar November 2025.
Acara yang dihadiri Wakil Rektor UNP Prof. Remon Lapisa, H. Ali Amran, Asril Khalis dari Yayasan Islamic Centre Padang Pariaman, Dr. Neni Triana Ketua dan wakil-wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin, kepala dinas, camat, ninik mamak dan undangan mendapat perhatian dan sekaligus kesempatan Bupati menyampaikan kondisi Padang Pariaman pasca bencana banjir dan longsor akhir November 2025.
Dalam sambutannya, Bupati mengingatkan bahwa dari 17 kecamatan di Padang Pariaman, wilayah Lubuk Alung dan Batang Anai termasuk daerah yang mengalami dampak paling berat. Pemerintah daerah, menurutnya, telah berupaya maksimal melakukan penyelamatan warga serta pemulihan infrastruktur dasar.
Data yang disampaikan menunjukkan besarnya ujian yang dihadapi daerah ini. Tercatat 9 orang meninggal dunia di Padang Pariaman, sementara sekitar 40 korban lainnya merupakan kiriman dari Tanah Datar. Infrastruktur publik juga mengalami kerusakan cukup berat, dengan 38 jembatan terdampak, 13 di antaranya putus total. Selain itu, 36 ruas jalan mengalami kerusakan dengan 12 titik amblas, serta kerusakan jaringan irigasi dan fasilitas air bersih masyarakat.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan, pemerintah daerah telah menyiapkan sekitar 500 unit rumah pengganti bagi masyarakat terdampak serta mengajukan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi sekitar Rp3 triliun kepada pemerintah pusat.
Tidak hanya infrastruktur, bencana juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Sekitar 600 warga kehilangan mata pencaharian. Sebagai langkah awal pemulihan, pemerintah daerah telah memberikan bantuan stimulus sebesar Rp2 juta kepada 450 warga terdampak sebagai bentuk perhatian terhadap pemulihan ekonomi keluarga.
Bupati juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap infrastruktur yang terdampak bencana, termasuk kondisi Jembatan Kampung Apar yang kini dipasangi portal pembatas sebagai langkah preventif. Berdasarkan kajian teknis Balai Jalan, kerusakan jembatan tersebut disebabkan oleh tergerusnya pondasi akibat derasnya arus banjir.
Di penghujung sambutannya, Bupati juga menyampaikan ucapan menjelang Idul Fitri, mengajak masyarakat memperkuat persatuan dalam suasana saling memaafkan.
Namun di balik laporan kondisi daerah tersebut, acara batagak kudo-kudo Masjid Raya Sikabu justru memperlihatkan wajah lain Padang Pariaman: wajah kebangkitan. Wajah masyarakat yang tidak larut dalam kesedihan, tetapi memilih bangkit dengan iman dan kebersamaan.
Masjid Raya Sikabu sendiri memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak 1925 setelah pengakuan adat Nagari Sikabu tahun 1909 oleh ninik mamak 10 nagari Lubuk Alung, masjid ini menjadi simbol kuatnya perpaduan adat dan syarak dalam kehidupan masyarakat.
Renovasi pernah dilakukan tahun 1985, dan setelah empat puluh tahun, pada 2025 masyarakat kembali membangun masjid yang lebih besar. Selain untuk kebutuhan jamaah, pembangunan ini juga merupakan kesiapan strategis karena letaknya sangat dekat dengan Stadion Utama Sumatera Barat. Masjid ini diharapkan menjadi pusat ibadah bagi masyarakat sekaligus tamu daerah.
Yang paling mengharukan dari momentum ini adalah hidupnya kembali tradisi badoncek. Masyarakat berbondong-bondong berinfak, tidak hanya dengan uang, tetapi juga dengan membawa seng dan bahan bangunan lainnya. Inilah kekuatan sosial Minangkabau yang tidak pernah hilang: gotong royong yang lahir dari iman dan adat.
Pepatah Minang mengatakan: Ringan samo dijinjiang, barek samo dipikua.
Tradisi badoncek adalah bukti bahwa nilai agama dan budaya masih hidup dalam masyarakat. Ini bukan sekadar pengumpulan dana, tetapi manifestasi dari sedekah sosial yang bernilai ibadah. Allah SWT menegaskan:
“Perumpamaan orang yang berinfak di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, setiap bulir seratus biji.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Apa yang dilakukan masyarakat Sikabu sejatinya bukan hanya membangun masjid, tetapi sedang menabung amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir selama masjid itu digunakan untuk ibadah dan kebaikan.
Jika stadion di dekatnya menjadi pusat kekuatan jasmani, maka Masjid Raya Sikabu harus menjadi pusat kekuatan ruhani. Jika olahraga membangun fisik, maka masjid harus membangun akhlak.
Inilah makna pembangunan yang sesungguhnya: keseimbangan antara kemajuan fisik dan kemajuan moral.
Momentum ini juga memperlihatkan bahwa kekuatan suatu daerah bukan hanya pada APBD atau proyek pembangunan, tetapi pada modal sosial masyarakatnya: kepercayaan, solidaritas, dan kebersamaan.
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa bencana boleh merusak bangunan, tetapi tidak boleh meruntuhkan semangat masyarakat. Jalan boleh putus, jembatan boleh rusak, tetapi persatuan tidak boleh retak.
Batagak kudo-kudo Masjid Raya Sikabu menjadi simbol bahwa Padang Pariaman sedang bangkit. Bangkit dengan pembangunan, bangkit dengan kebersamaan, dan bangkit dengan iman.
Karena pada akhirnya:
Masjid dibangun dengan dana, tetapi diselesaikan dengan iman.
Masjid ditegakkan dengan kayu dan besi, tetapi dimuliakan oleh kebersamaan.
Pada bahagian akhir Bupati meminta masyarakat untuk mematuhi Keputusan Bersama di antaranya baralek dan pesta apapun batas akhirnya pukul 23.30 ini dimaksud untuk mengurangi bahaya kemaksiatan dan pelanggaran moral tidak saja generasi muda, tetapi juga kaum yang sudah senja.
Akhirnya Bupati menyampaikan bahwa Masjid Rumah Allah yang semua kita wajib memberikan bantuan. Pengurus Masjid diminta mengajukan proposal untuk tahun 2027 mendatang. Badoncek hari ini bukti kehadiran kami.
Semoga Masjid Raya Sikabu segera berdiri megah, menjadi pusat ibadah, pusat pembinaan umat, dan simbol bahwa dari musibah lahir kekuatan baru: kekuatan iman dan persatuan masyarakat.ds.260326.
