BUYA DI TIMPA BENCANA

BUYA DI TIMPA BENCANA

Oleh:
Duski Samad
Pembina Relawan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) Sumatera Barat. WAMY adalah organisasi internasional yang bergerak bidang pengembangan pemuda Muslim, pendidikan, kemanusiaan, dan dakwah.

 

Musibah banjir bandang 28 November 2025 menyisa kan kesedihan mendalam bagi warga Sumatera Barat. Di balik kerusakan rumah, fasilitas umum, dan sarana pendidikan, terdapat satu kelompok yang jarang disebut namun paling terpukul oleh bencana ini: para Buya, ustaz, tuanku, dan pimpinan surau – pesantren. Mereka adalah mata air ilmu, penjaga akhlak, dan tempat bertanya masyarakat ketika hati gamang oleh ujian.

Dalam rangkaian penyaluran bantuan kemanusiaan bersama Relawan WAMY Sumatera Barat yang dipimpin H. Faridansyah, kami menjumpai empat tokoh agama yang selama hidupnya mengabdi untuk umat, namun kini berdiri tegar dalam derita bencana.

1.Buya Mahyuddin Salif Tuanku Sutan – MTI Batang Kabung

Pesantren MTI Batang Kabung adalah benteng ilmu di Koto Tangah. Kini bangunannya runtuh masuk ke sungai: ruang belajar, kantor guru, mushalla, aula serbaguna, hingga pagar yang dulu menjadi batas aman santri.

Kerugian diperkirakan mencapai 15 miliar rupiah.
Namun Buya Mahyuddin tetap berdiri dengan keteguhan spiritual seorang ulama—tenang, sabar, dan yakin bahwa “ma’a al-‘usri yusra”, setiap kesulitan pasti bersama kemudahan.

2.Buya Jamaris Amir – Koto Tuo, Koto Tangah

Surau dan rumah beliau amblas terseret derasnya Sungai Lubuk Minturun. Tempat beliau mengajar ilmu dan membina anak-anak nagari hilang seketika. Namun wajahnya tetap bersinar dengan keikhlasan yang sulit dicari padanannya.

3.Ustaz Muhammad Zen – Lubuk Minturun

Rumah beliau turut terdampak air bah yang datang tiba-tiba. Meski rumah rusak, beliau lebih memikirkan jamaah yang kehilangan harta dan sanak keluarga. Itulah karakter pejuang agama: deritanya tak menghapus kepeduliannya terhadap orang lain.

4.Buya Amsaidi Tuanku Khalifah – Tanjung Medan, Ulakan

Penyaluran bantuan kepada beliau diserahkan langsung oleh penulis bersama Firdaus dan tim relawan WAMY. Di Ulakan—tanah para ulama Syattariyah dan pewaris Syekh Burhanuddin—kita kembali diingatkan bahwa para khalifah, syekh, dan tuanku memiliki beban ganda: menjaga umat dan menjaga dirinya tetap tegar dalam musibah.

MENYANTUNI BUYA TERDAMPAK BANJIR

Mengapa WAMY memberi perhatian khusus kepada para buya?

Karena merekalah pilar ketahanan spiritual umat. Bila ulama terdampak, maka hilanglah pusat bimbingan jiwa masyarakat yang sedang cemas, takut, dan kehilangan arah setelah bencana.

Dalam tradisi Islam, menyantuni ulama bukan sekadar amal, tapi penjaga peradaban. Ulama-lah yang selama ini hadir mengajar Al-Qur’an, membina akhlak, menyatukan jamaah, dan menjadi penengah ketika masalah bermunculan. Ketika mereka tertimpa bencana, umat wajib hadir membalas budi.

RELAWAN TAK BOLEH PENSIUN

Dalam perjalanan menyerahkan bantuan, H. Faridansyah—penggerak WAMY sejak 2001 dan dulu pernah menjadi kepala PKPU Sumbar lembaga kemanusiaan dan juga koordinator sejak 2010—bercakap ringan bahwa ia berencana pensiun dari kerja-kerja kemanusiaan. Namun ternyata tidak bisa pensiun dan tidak boleh pensiun untuk kegiatan kemanusiaan.

Saya menjawab sambil tersenyum:

“Menjadi relawan tidak mengenal pensiun. Yang pensiun itu jabatan, bukan pengabdian.”

Kerja kemanusiaan adalah ladang amal yang tidak dibatasi umur maupun status sosial. Sebab Allah berfirman:
> وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Salah satu tanda seorang muslim yang baik adalah ia terus berbuat kebaikan sampai akhir hayatnya.

RELAWAN: “TOL MENUJU SURGA”

Bagi relawan sejati, membantu orang lain adalah jalan bebas hambatan menuju surga.
Tanpa lampu merah.
Tanpa antrean panjang.
Tanpa tiket khusus.

Setiap langkah kaki menuju lokasi bencana adalah sedekah.
Setiap peluh yang jatuh adalah doa.
Setiap bantuan yang diberikan adalah amal jariyah.

Karena Rasulullah SAW bersabda:

> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Thabrani)

Relawan tidak menunggu dipanggil, tapi menjemput panggilan amal.
Relawan tidak menuntut balasan, karena balasannya telah dipersiapkan Allah di akhirat.

PENUTUP:
ULAMA TEGUH, UMAT KUAT

Bencana boleh meruntuhkan bangunan, tapi jangan sampai meruntuhkan solidaritas.
Ulama boleh kehilangan rumah, tapi umat jangan sampai kehilangan empati.
Pesantren boleh roboh, tapi semangat membangunnya kembali tak boleh padam.

Semoga bantuan kecil ini menjadi penguat bagi para buya yang sedang diuji.
Dan semoga WAMY, relawan, donatur, serta masyarakat luas dipanjangkan Allah usia dan istiqamahnya untuk terus hadir dalam suka dan duka umat.

Karena relawan tidak lahir dari kekayaan—tetapi dari hati yang peduli. DS. 30112025.

Leave a Reply