CERDIKNYA KANCIL:
(Belajar dari Pengalaman dan Membaca Wajah Kekuasaan)
Oleh: Duski Samad
Carito Lapau Bukik 26062026
Cerita rakyat Minangkabau bukan sekadar hiburan, tetapi cermin kehidupan. Di balik kisah-kisah tentang Kancil, Harimau, Babi, dan Anjing, tersimpan kearifan yang mampu menjelaskan perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan dalam dunia pemerintahan, birokrasi, dan kekuasaan.
Pada suatu hari, Harimau, Babi, Anjing, dan Kancil berburu bersama. Sebelum berburu, mereka sepakat bahwa semua hasil buruan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dibagi setelah seluruh perburuan selesai.
Masing-masing memperoleh hasil buruan, lalu semuanya diletakkan di satu tempat.
Harimau kemudian berkata kepada Babi,
“Silakan engkau membagi hasil buruan ini.”
Babi membaginya secara sama rata sesuai dengan hasil yang diperoleh masing-masing. Baginya, keadilan adalah memberikan hak sesuai fakta dan kesepakatan.
Namun Harimau murka. Ia merasa dirinya yang paling kuat sehingga harus memperoleh bagian terbesar. Tanpa mempertimbangkan kesepakatan, Harimau mematahkan kaki Babi.
Setelah itu Harimau memanggil Anjing.
“Sekarang engkau yang membagi.”
Karena takut mengalami nasib seperti Babi, Anjing menyerahkan seluruh hasil buruan kepada Harimau. Ia berharap dengan mengalah dan menyenangkan penguasa dirinya akan selamat.
Ternyata Harimau tetap marah. Ia menganggap Anjing tidak menghargai teman-temannya. Anjing pun dibanting hingga terluka.
Kini tibalah giliran Kancil.
Dengan tenang ia berkata,
“Wahai Harimau, semua buruan ini adalah milik kita bersama. Buruan ini tidak perlu dibagi sekarang. Yang besar kita simpan untuk jamuan besar, yang sedang untuk keperluan berikutnya, dan yang kecil untuk kebutuhan sehari-hari. Engkaulah yang paling tepat menentukan kapan dan bagaimana semuanya digunakan demi kepentingan kita bersama.”
Harimau tersenyum puas.
“Siapa yang mengajarimu cara membagi seperti itu?”
Kancil menjawab,
“Kaki Babi yang patah dan tubuh Anjing yang dibanting adalah guru terbaik saya.”
Jawaban Kancil menunjukkan bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Orang bijaksana tidak selalu belajar dari kesalahan sendiri, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Dalam falsafah Minangkabau dikenal ungkapan:
“Alam takambang jadi guru.”
Artinya, setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita mengandung pelajaran bagi siapa saja yang mau berpikir.
Namun, cerita ini tidak berhenti pada pelajaran tentang kecerdikan. Kisah tersebut juga merupakan kritik sosial terhadap penyalahgunaan kekuasaan.
Harimau tidak mencari keadilan. Apa pun keputusan yang diambil bawahannya selalu dianggap salah karena ukuran yang dipakai bukan aturan, bukan kesepakatan, dan bukan kebenaran, melainkan kepuasan penguasa. Dalam sistem seperti ini, orang jujur dihukum, orang yang menjilat pun tidak memperoleh jaminan keselamatan, sedangkan yang bertahan hanyalah mereka yang mampu membaca selera kekuasaan.
Babi melambangkan orang yang memegang teguh aturan dan prosedur. Ia bekerja berdasarkan kesepakatan, tetapi menjadi korban karena kejujurannya tidak dihargai.
Anjing melambangkan orang yang mengorbankan prinsip demi menyenangkan atasan. Ia berharap loyalitas tanpa batas akan menyelamatkannya, tetapi ternyata penguasa yang rakus tidak pernah merasa cukup.
Sementara itu, Kancil melambangkan orang yang belajar membaca karakter penguasa. Ia bukan sedang mengajarkan kelicikan sebagai nilai moral, melainkan menunjukkan strategi bertahan hidup di bawah kekuasaan yang sewenang-wenang.
Fenomena seperti ini sering ditemukan dalam sistem yang tidak sehat. Aturan formal dikalahkan oleh kehendak elite. Bawahan lebih sibuk menyenangkan atasan daripada melayani masyarakat. Jabatan diberikan bukan karena kompetensi, melainkan karena kedekatan dan loyalitas pribadi. Hadiah, fasilitas, dan berbagai bentuk gratifikasi menjadi jalan memperoleh proyek, jabatan, perlindungan, atau kemudahan.
Dalam birokrasi maupun dunia usaha, pemberian hadiah kepada atasan yang dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan bukan lagi sekadar tanda hormat, melainkan berubah menjadi gratifikasi. Hubungan profesional bergeser menjadi hubungan transaksional. Pengusaha mencari kedekatan agar memperoleh proyek dan fasilitas, sementara pejabat memanfaatkan kewenangannya untuk kepentingan pribadi. Dari sinilah lahir kolusi yang merugikan masyarakat, merusak persaingan usaha, menghambat pelayanan publik, dan mengikis kepercayaan kepada negara.
Budaya “asal bos senang” akhirnya menggantikan budaya profesional. Orang tidak lagi berlomba menghasilkan karya terbaik, tetapi berlomba membaca keinginan atasan. Kreativitas mati, keberanian mengoreksi hilang, integritas melemah, sedangkan organisasi dipenuhi rasa takut.
Kearifan cerita Kancil sesungguhnya bukan mengajarkan agar manusia menjadi licik. Sebaliknya, cerita ini menjadi peringatan bahwa sistem yang tidak adil akan memaksa orang menggunakan kecerdikan hanya untuk bertahan hidup. Karena itu, yang harus dibangun bukanlah budaya menjilat, melainkan budaya keadilan.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menghargai aturan, melindungi orang jujur, memberi penghargaan berdasarkan integritas dan prestasi, menolak gratifikasi dan kolusi, membuka ruang pengawasan yang independen, serta menjadikan hukum sebagai panglima, bukan kehendak pribadi.
Pesan moral cerita ini sangat relevan sepanjang zaman: apabila orang jujur dihukum, penjilat tetap tidak aman, dan yang bertahan hanyalah mereka yang pandai membaca selera penguasa, maka yang rusak bukan sekadar manusianya, tetapi sistem kekuasaannya. Sebaliknya, apabila sistem dibangun di atas keadilan, integritas, transparansi, dan akuntabilitas, maka orang tidak perlu menjadi Kancil untuk dapat hidup dengan selamat. DS.










