DOSEN SYUHADA KORBAN BANJIR BANDANG
Oleh: Duski Samad
Pembina Relawan WAMY
(World Assembly of Muslim Youth) organisasi internasional yang bergerak bidang pengembangan pemuda Muslim, pendidikan, kemanusiaan, dan dakwah.
Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat. Salah satu dosen terbaiknya, almarhum Roni Saputra, bersama putri kecilnya Syafania (3 tahun), menjadi korban banjir bandang 28 November 2025 di kawasan Koto Panjang, tepat di bawah perumahan Lumin Park, Kota Padang.
Tragedi itu menyapu rumah dan kehidupan banyak keluarga, termasuk keluarga kecil ini yang tak sempat menyelamatkan diri dari derasnya arus lumpur dan air bah. Kabar kepergian almarhum Roni dan buah hati tercintanya menjadi pukulan berat bagi isterinya, Siska, yang juga dosen UNU pada mata kuliah Ekonomi Islam.
Dalam suasana berduka saat tim relawan WAMY Sumatera Barat menyerahkan bantuan di tempat Siska mengungsi—rumah mertua di Aur Duri—terasa jelas betapa dalam dan pedihnya luka ini. Tangis, kehilangan, dan ketabahan bercampur menjadi satu dalam kisah seorang ibu yang kehilangan suami dan anak sekaligus.
Syahid Akhirat:
Kemuliaan Korban Bencana
Dalam tradisi Islam, para korban bencana alam yang wafat dalam keadaan beriman mendapat kedudukan mulia sebagai syuhadā’ al-ākhirah—syahid akhirat. Mereka tidak mati sia-sia; mereka gugur dalam qadar Allah yang penuh rahmat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Asy-syuhadā’ khamsah…”
“…Para syuhada itu ada lima golongan: orang yang mati karena ṭa‘ūn (wabah), orang yang mati karena al-bathan (sakit perut), orang yang mati tenggelam, orang yang mati tertimpa reruntuhan, dan orang yang mati syahid di medan perang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
> “Al-ghariqu syahīd.”
“Orang yang wafat karena tenggelam adalah syahid.”
(HR. al-Bukhari)
Korban banjir bandang, yang meninggal akibat tertimpa reruntuhan atau terseret arus air, termasuk dalam kategori “ghariq” (tenggelam) dan “hadm” (tertimpa) yang disebutkan langsung oleh Nabi ﷺ sebagai syahid akhirat.
Dengan dasar ini, insyaAllah almarhum Roni Saputra dan putrinya Syafania wafat dalam kemuliaan sebagai syuhada.
Nash Al-Qur’an:
Allah Tidak Menyia-nyiakan Pengorbanan
Allah menegaskan:
> “Wa lā taḥsabanna alladzīna qutilū fī sabīlillāhi amwātā, bal aḥyā’un ‘inda rabbihim yurzaqūn.”
“Janganlah kamu mengira orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan diberi rezeki.”
(QS. Āli ‘Imrān: 169)
Ayat ini menjelaskan kemuliaan syuhada: mereka tidak mati, tetapi hidup dalam kasih sayang Allah. Korban bencana yang wafat dalam keadaan beriman berada dalam payung ayat ini sebagai syahid akhirat yang dimuliakan.
Allah juga menegaskan bahwa setiap musibah telah ditetapkan dengan hikmah:
> “Mā aṣāba min muṣībah illā bi-idznillāh…”
“Tidak ada musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah.”
(QS. at-Taghābun: 11)
Dan:
> “Fa inna ma‘al ‘usri yusrā…”
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. asy-Syarḥ: 5–6)
Taushiyah:
Menguatkan Keluarga yang Ditinggalkan
1. Kesabaran Adalah Mahkota Iman
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Innallāha idzā aḥabba qawman ibtalāhum.”
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Ujian berat yang dialami Ibu Siska bukan tanda murka, tetapi tanda perhatian Allah. Kesabaran dalam musibah seperti ini adalah amal yang pahalanya tiada terputus.
2.Tidak Ada Musibah Kecuali Menghapus Dosa
Nabi ﷺ bersabda:
> “Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, walau hanya duri, melainkan Allah hapuskan dosa-dosanya karenanya.”
(HR. Bukhari)
Musibah ini mengangkat derajat keluarga yang ditinggalkan dan menghapus dosa almarhum.
3.Anak Kecil Wafat Masuk Surga dan Menjadi Penolong Orang Tuanya
Rasulullah ﷺ pernah menenangkan seorang sahabat yang anaknya wafat:
> “Anakmu di surga menjadi penarik bagimu (penolong) menuju surga.”
(HR. Muslim)
Syafania yang wafat dalam usia fitrah akan menjadi penjemput orang tuanya di pintu surga.
Renungan:
Tragedi yang Mengajarkan Kepedulian
Kepergian seorang dosen muda, ayah, pendidik, dan dua generasi calon pemimpin adalah kehilangan besar—bukan hanya bagi keluarga UNU, tetapi bagi dunia pendidikan dan masyarakat Sumatera Barat.
Musibah ini mengingatkan kita bahwa:
hidup manusia sangat rapuh kasih sayang Allah sangat luas kemuliaan syahid adalah bentuk penghiburan ilahi bangsa ini perlu membangun kebijakan yang melindungi warga, bukan yang membahaya kan mereka
Kita mendoakan semoga keluarga almarhum diberi ketabahan, kekuatan hati, dan gantian yang lebih baik oleh Allah.
Semoga almarhum Roni Saputra dan putrinya Syafania ditempatkan bersama para syuhada yang mulia.
Doa
> “Allāhumma’ghfirlahum warhamhum wa ‘āfihim wa‘fu ‘anhum.
Jadikanlah mereka syuhada-Mu yang mulia, terimalah amal mereka, dan lapangkan bagi keluarga yang ditinggalkan jalan kesabaran dan keikhlasan.”
Amin ya Rabbal ‘Alamin.












