FENOMENA FOMO DI ERA DI GITAL: KETAKUTAN TERTINGAL DALAM ARUS MEDIA SOSIAL
Oleh
Salsabila Ainimas Awaludin
Institut Darul Falah Bandung Barat
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital dan media sosial di era sekarang telah memberikan kemudahan dalam mengakses informasi serta berinteraksi tanpa batas ruang dan waktu. Media sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda. Melalui platform tersebut, berbagai aktivitas, pencapaian, gaya hidup, hingga tren terbaru dapat dengan mudah dilihat dan diikuti. Namun, derasnya arus informasi yang terus muncul sering kali membuat seseorang merasa perlu untuk selalu terlibat agar tidak tertinggal dari lingkungan sekitarnya. Kebiasaan membandingkan diri dengan apa yang ditampilkan orang lain di media sosial pun menjadi hal yang sulit dihindari.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut tertinggal terhadap pengalaman, informasi, atau tren yang sedang populer. FOMO mendorong seseorang untuk terus memantau media sosial dan mengikuti berbagai hal yang sedang viral, meskipun terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan atau kemampuannya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, dan kesehatan mental, seperti munculnya rasa cemas, stres, serta ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, memahami istilah FOMO dan dampaknya di era sekarang menjadi penting agar individu dapat lebih bijak dalam menyikapi penggunaan media sosial dan mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
PEMBAHASAN
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menjadi salah satu gejala sosial yang semakin terlihat jelas di era sekarang, terutama sejak media sosial berkembang dengan sangat pesat. Media sosial menghadirkan berbagai informasi, aktivitas, dan pengalaman orang lain secara real time. Setiap hari, pengguna disuguhkan dengan unggahan tentang pencapaian, hiburan, gaya hidup, hingga tren terbaru. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan dorongan psikologis untuk selalu terhubung dan mengikuti apa yang sedang terjadi, karena muncul kekhawatiran akan tertinggal dari lingkungan sosialnya.
Arus media sosial yang terus mengalir membuat seseorang mudah membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Tanpa disadari, apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya merupakan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh yang sebenarnya. Namun, bagi sebagian orang, hal tersebut dapat memunculkan perasaan kurang, tidak puas, atau bahkan merasa gagal. Dari sinilah FOMO mulai terbentuk, yaitu ketika seseorang merasa harus ikut tren, hadir dalam suatu aktivitas, atau memiliki sesuatu hanya agar tidak merasa tertinggal atau berbeda dari orang lain.
Media sosial sering menampilkan sisi terbaik dari kehidupan orang lain, bukan gambaran utuhnya. Seperti melihat temannya berlibur ke tempat populer atau mendapatkan prestasi tertentu bisa membuat sebagian orang merasa hidupnya kurang menarik. Perasaan iri, kurang puas, atau gagal pun sering muncul dari sini. Dari situlah FOMO mulai terbentuk, yaitu rasa takut tertinggal zaman.
Di era sekarang, FOMO tidak hanya berkaitan dengan hiburan atau gaya hidup, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pergaulan, dan konsumsi. Misalnya, seseorang merasa harus mengikuti metode belajar tertentu karena sedang ramai dibicarakan, atau membeli barang tertentu karena dianggap sedang populer. Dorongan ini sering kali membuat individu bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi dirinya. Akibatnya, keputusan yang diambil lebih didasarkan pada tekanan sosial daripada kesadaran diri.
Selain memengaruhi perilaku, FOMO juga berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Rasa cemas ketika tidak membuka media sosial, takut tertinggal informasi, hingga perasaan gelisah saat melihat unggahan orang lain merupakan tanda-tanda yang sering muncul. Jika dibiarkan terus-menerus, FOMO dapat menimbulkan stres, kelelahan mental, serta menurunnya rasa percaya diri. Hubungan sosial di dunia nyata pun berpotensi terganggu karena perhatian lebih banyak tertuju pada dunia digital.
Namun, FOMO tidak selalu berdampak negatif. Dalam batas tertentu, fenomena ini dapat mendorong seseorang untuk lebih aktif, terbuka terhadap hal baru, dan mengikuti perkembangan zaman. Yang menjadi permasalahan adalah ketika FOMO tidak dikendalikan dan justru menguasai cara berpikir serta bertindak. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memiliki sikap bijak dalam menggunakan media sosial, seperti menyadari batasan diri, tidak mudah membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain, serta memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti.
Dengan memahami istilah FOMO dan pengaruhnya di era sekarang, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar dalam menyikapi arus media sosial yang begitu kuat. Media sosial seharusnya menjadi sarana yang mendukung perkembangan diri, bukan sumber tekanan yang menimbulkan kecemasan. Kesadaran diri dan keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata menjadi kunci utama agar individu tidak terjebak dalam ketakutan tertinggal, tetapi tetap mampu menjalani hidup secara tenang dan bermakna.
KESIMPULAN
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menunjukkan bagaimana arus informasi cepat dan tekanan sosial dapat memengaruhi perilaku, keputusan, dan kondisi mental seseorang. Rasa takut tertinggal mendorong individu mengikuti tren, aktivitas, atau informasi terbaru, meski tidak selalu sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pribadinya. Kondisi ini berpotensi menimbulkan stres, kecemasan, dan rasa kurang puas terhadap diri sendiri, namun sekaligus memberikan pelajaran penting tentang kesadaran diri. Dengan memahami dorongan dari tekanan sosial, individu dapat memilah mana hal yang benar-benar penting, bersikap bijak dalam menggunakan media sosial, dan tetap fokus pada prioritas pribadi. Pengelolaan FOMO bukan hanya soal membatasi waktu penggunaan media sosial, tetapi juga membangun keseimbangan hidup yang sehat. Aktivitas bermakna, hubungan sosial yang kuat, serta rasa puas terhadap pencapaian pribadi membantu individu tetap tenang dan produktif. Kesadaran diri, pengendalian media sosial, dan fokus pada hal-hal penting menjadi kunci agar hidup seimbang dan bebas dari rasa cemas karena takut ketinggalan.






