Festival Tari Sanggar dan Pembentukan Moral Sosial Masyarakat Cirebon
Oleh:
Ade Annisa Zalianti Achmad, Aulia Nazwa Syifaa, Amar Shalih Hanafi
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H, M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Festival tari di sanggar Cirebon adalah salah satu kegiatan budaya yang sangat penting untuk pengembangan moral sosial komunitas. Acara ini bukan sekadar pementasan seni, tetapi juga menjadi tempat bagi berbagai kelompok sosial untuk berinteraksi, mulai dari penari, pelatih, panitia, hingga masyarakat luas. Dari sudut pandang sosiologis, festival ini berfungsi sebagai wadah yang membangun nilai-nilai dan perilaku sosial melalui interaksi yang berlangsung terus-menerus. Dalam percakapan dengan seorang pengelola sanggar, terungkap bahwa pertunjukan seni tidak diadakan setiap hari, melainkan hanya pada hari Sabtu.
Festival tari di sanggar Cirebon adalah salah satu kegiatan budaya yang sangat penting untuk pengembangan moral sosial komunitas. Acara ini bukan sekadar pementasan seni, tetapi juga menjadi tempat bagi berbagai kelompok sosial untuk berinteraksi, mulai dari penari, pelatih, panitia, hingga masyarakat luas. Dari sudut pandang sosiologis, festival ini berfungsi sebagai wadah yang membangun nilai-nilai dan perilaku sosial melalui interaksi yang berlangsung terus-menerus. Dalam percakapan dengan seorang pengelola sanggar, terungkap bahwa pertunjukan seni tidak diadakan setiap hari, melainkan hanya pada hari Sabtu.
Jadwal yang konsisten ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah menjadi bagian terintegrasi dari struktur sosial di Cirebon. Frekuensi yang terjadi setiap minggu ini juga memengaruhi cara masyarakat berinteraksi, yang sudah terbiasa berkumpul, berpartisipasi, serta menikmati pertunjukan budaya secara teratur. Pengelola sanggar menjelaskan bahwa penampilan para peserta dalam festival tari dibuat dalam bentuk kompetisi. Artinya, setiap penari tidak hanya menampilkan keahlian seni mereka, tetapi juga mengikuti persaingan yang sehat untuk menunjukkan penampilan terbaik.
Dari pandangan fungsionalisme, kompetisi ini memiliki peran sosial yang konstruktif karena dapat memotivasi peserta untuk lebih disiplin, kreatif, dan bertanggung jawab dalam menjalani proses latihan hingga penampilan.
Terkait dengan sistem penilaian, festival ini tidak melibatkan voting dari penonton. Penilaian dilakukan secara langsung oleh ketua Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) yang berperan sebagai juri utama. Keputusan ini menandakan ada otoritas formal yang menjaga objektivitas dalam penilaian. Dari perspektif interaksionisme simbolik, keberadaan juri yang resmi memberikan simbol keabsahan terhadap kompetisi ini, sehingga para peserta menyadari bahwa kegiatan ini memiliki nilai profesional dan aturan yang perlu dihormati

Informasi dari wawancara tersebut menunjukkan bahwa festival tari sanggar lebih dari sekadar sebuah atraksi, melainkan merupakan bagian dari proses pengembangan moral individu. Para peserta yang rutin berlatih mendapatkan pelajaran tentang disiplin waktu, kerja keras, dan komitmen. Selain itu, mereka juga belajar untuk menghargai arahan pelatih dan bekerja sama dengan rekan- rekan mereka. Nilai-nilai ini membentuk karakter sosial dalam diri peserta yang akan terlihat dalam interaksi mereka di luar sanggar. Festival tari sanggar juga memperkuat rasa solidaritas sosial di antara masyarakat Cirebon.
Aktivitas seperti menyiapkan kostum, berkoordinasi antara sanggar, serta dukungan dari keluarga dan warga sekitar membangun hubungan sosial yang kuat. Ini mencerminkan adanya moral kolektif yang berkembang melalui aktivisme budaya. Dalam pandangan David Emile Durkheim yang sesuai dengan kembangan beberapa konsep besar beliau, kegiatan ini menghasilkan kesadaran bersama yang meneguhkan semangat kebersamaan dalam komunitas.
Proses penciptaan makna ini terjadi melalui pengalamn yang berlangsung berulang sehingga menghasilkan pemahaman budaya yang kian mendalam dalam kehidupan masyarakat. Festival ini pun menjadi alat untuk menguatkan identitas budaya lokal. Dengan memamerkan berbagai jenis tari dari sanggar-sanggar di Cirebon, masyarakat diharapkan dapat mengenali dan menghargai warisan budaya daerah mereka. Identitas budaya yang kokoh akan mendorong individu untuk melestarikan tradisi dan menghargai seni lokal. Selain aspek moral dan budaya, festival tari juga menciptakan lingkungan interaksi sosial yang aktif antara penyelenggara, peserta, juri, dan masyarakat umum.
Proses komunikasi yang terjadi dalam acara ini menunjukkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai sarana yang efektif untuk memperkuat hubungan antara individu dan kelompok. Melalui interaksi itu, nilai-nilai seperti toleransi, kerja sama, dan keterbukaan dapat terjalin dengan lebih alami. Secara keseluruhan, dengan pendekatan dari sudut pandang sosiologis dan data yang diperoleh dari wawancara, dapat disimpulkan bahwa festival tari di sanggar memiliki peranan penting dalam membangun norma sosial masyarakat Cirebon. Kegiatan yang terorganisir, kompetisi yang berimbang, sistem penilaian yang adil, serta interaksi sosial yang mendalam menjadi faktor utama dalam pengembangan nilai-nilai tersebut. Festival ini tidak hanya menjadi sarana seni, tetapi juga sebagai arena sosial yang memperkuat karakter, identitas, dan solidaritas komunitas.










