GURU BESAR MEMBESARKAN UMAT

 GURU BESAR MEMBESARKAN UMAT:

Dakwah, Amanah, dan Kepemimpinan Peradaban

Oleh: Duski Samad

Suraudigitaltuankuprofessor#series104.19042026.

 

Alhamdulillah wasy-syukru lillah. Dalam lintasan sejarah umat, selalu ada sosok-sosok yang tidak hanya menyimpan ilmu di kepala, tetapi menyalakannya menjadi cahaya bagi masyarakat. Guru besar bukan sekadar gelar akademik, tetapi panggilan pengabdian. Ia menjadi jembatan antara ilmu dan amal, antara kampus dan umat, antara teori dan realitas kehidupan.

Di Sumatera Barat, kita menyaksikan satu kenyataan yang patut disyukuri: para dosen dan guru besar UIN Imam Bonjol Padang tidak berhenti pada ruang kuliah, tetapi hadir aktif dalam berbagai medan dakwah dan pengabdian. Mereka memimpin organisasi keagamaan, menggerakkan lembaga sosial, menguatkan pembaharuan umat, dan menjadi rujukan moral di tengah masyarakat. Ini bukan fenomena biasa, tetapi manifestasi dari ajaran Islam itu sendiri—bahwa ilmu harus berbuah manfaat. Rasulullah telah menegaskan arah itu dalam sabdanya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.(HR. Ahmad)

Dalam konteks ini, amanah yang kini diemban oleh Prof. Dr. Efrinaldi, M.Ag sebagai Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Sumatera Barat periode 2026–2031 adalah bagian dari mata rantai panjang pengabdian tersebut. Ini bukan sekadar jabatan, tetapi tanggung jawab besar dalam menjaga, melanjutkan, dan mengembangkan gerakan dakwah di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.

Menyebut Dewan Dakwah, ingatan kita tidak bisa lepas dari sosok besar Muhammad Natsir. Beliau bukan hanya pendiri, tetapi peletak fondasi pemikiran dakwah yang kokoh—dakwah yang berbasis ilmu, hikmah, dan strategi. Warisan beliau tidak hanya tertulis dalam buku seperti Fiqh Dakwah, tetapi juga hidup dalam berbagai amal nyata: pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan umat. Di Sumatera Barat, jejak itu terasa dalam bentuk institusi dan gerakan yang terus memberi manfaat bagi masyarakat.

DDII DAN WARISAN PERJUANGAN MUHAMMAD NATSIR

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) merupakan salah satu lembaga dakwah yang lahir dari kesadaran historis umat Islam Indonesia untuk mengorganisasi gerakan dakwah secara lebih sistematis, terarah, dan berdampak luas. DDII tidak sekadar organisasi, tetapi sebuah gerakan yang berupaya menjadikan dakwah sebagai kekuatan perubahan sosial—menghubungkan nilai-nilai Islam dengan realitas kehidupan masyarakat.

Didirikan pada tahun 1967, Dewan Dakwah hadir dalam konteks pasca-kemerdekaan ketika umat Islam menghadapi berbagai tantangan: keterbatasan pendidikan, ketimpangan sosial, serta kebutuhan akan penguatan identitas keislaman di tengah dinamika politik dan ideologi global. Dalam perjalanannya, DDII menempatkan dakwah bukan hanya sebagai aktivitas ceramah, tetapi sebagai gerakan transformasi umat melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat.

Di sinilah peran sentral Muhammad Natsir menjadi sangat menentukan. Sebagai pendiri DDII, Natsir bukan hanya seorang politikus dan negarawan, tetapi juga seorang da’i dan pemikir strategis yang melihat dakwah sebagai fondasi peradaban. Setelah tidak lagi berada dalam panggung politik praktis, beliau memilih jalur dakwah sebagai medan perjuangan yang lebih luas dan mendalam.

Bagi Natsir, dakwah bukan sekadar menyampaikan ajaran, tetapi membangun manusia dan masyarakat. Ia memandang bahwa kekuatan umat tidak hanya ditentukan oleh jumlah, tetapi oleh kualitas iman, ilmu, dan akhlaknya. Karena itu, pendekatan dakwah yang beliau bangun sangat komprehensif—menggabungkan dimensi spiritual, intelektual, dan sosial.

Salah satu warisan pemikiran penting beliau adalah konsep “Fiqh Dakwah”, yaitu pemahaman bahwa dakwah harus dilakukan dengan strategi, metode, dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Dakwah tidak boleh kaku, tetapi harus bijaksana (hikmah), kontekstual, dan solutif. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…”(QS. An-Nahl: 125)

Dalam praktiknya, Muhammad Natsir membangun jaringan dakwah yang luas melalui DDII. Ia mengirim da’i ke daerah-daerah terpencil, membangun masjid, mendirikan lembaga pendidikan, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah di tingkat nasional dan internasional. Dakwah bagi beliau tidak berhenti di kota-kota besar, tetapi harus menjangkau pelosok negeri—menyapa umat yang sering terpinggirkan.

Natsir menegaskan bahwa dakwah harus hadir sebagai solusi atas problem nyata umat: kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Karena itu, lahirlah berbagai amal usaha yang menjadi bagian dari gerakan dakwah, seperti lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya. Di Sumatera Barat, jejak ini dapat kita lihat dalam berbagai institusi yang terus hidup dan memberi manfaat hingga hari ini.

Keistimewaan lain dari pendekatan Natsir adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara prinsip dan realitas. Ia tegas dalam aqidah, tetapi bijak dalam pendekatan. Ia berpegang pada nilai, tetapi memahami konteks. Dakwah yang dibangunnya bukan dakwah yang memecah belah, tetapi dakwah yang merangkul dan menyatukan.

Dalam konteks kekinian, peran DDII menjadi semakin relevan. Dunia mengalami perubahan yang sangat cepat—disrupsi digital, krisis moral, polarisasi sosial, dan tantangan global lainnya. Dakwah dituntut untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Di sinilah warisan pemikiran Muhammad Natsir menjadi pedoman penting: bahwa dakwah harus cerdas membaca zaman, tetapi tetap teguh pada nilai-nilai Islam.

Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bukan sekadar organisasi historis, tetapi sebuah amanah peradaban. Ia adalah kelanjutan dari perjuangan Muhammad Natsir dan para ulama yang melihat dakwah sebagai jalan membangun umat. Tugas generasi hari ini adalah merawat, mengembangkan, dan menyalakan kembali semangat itu—agar dakwah tetap hidup, relevan, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

DAKWAH MEMBANGUN PERADABAN

Kepemimpinan Prof. Efrinaldi hari ini berada pada persimpangan penting. Dakwah tidak lagi menghadapi tantangan klasik semata, tetapi juga realitas baru: disrupsi digital, polarisasi umat, krisis keteladanan, dan melemahnya otoritas moral. Dalam situasi seperti ini, dakwah membutuhkan lebih dari sekadar semangat; ia membutuhkan visi, strategi, dan keteladanan.

Dakwah harus kembali pada ruhnya: mengajak dengan hikmah, menyentuh hati, dan memberikan solusi.(QS. An-Nahl: 125). Di sinilah peran seorang guru besar menjadi sangat strategis. Ia tidak hanya berbicara, tetapi memberi arah. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan jalan keluar. Ia tidak hanya memimpin organisasi, tetapi membangun peradaban.

Namun kita juga memahami satu hal yang sering luput disadari: memimpin adalah ujian. H. Agus Salim pernah mengingatkan, “memimpin adalah menderita.” Artinya, kepemimpinan bukanlah kehormatan semata, tetapi pengorbanan. Ia menuntut kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tekanan dan harapan.

Karena itu, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh pemimpin, tetapi juga oleh dukungan umat. Dakwah adalah kerja kolektif. Ia membutuhkan sinergi antara ulama, akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Tanpa kebersamaan, dakwah akan berjalan sendiri; dengan kebersamaan, dakwah akan menjadi gerakan yang kuat dan berdampak.

Kita berharap, kepemimpinan Prof. Efrinaldi dapat menjadi energi baru bagi dakwah di Sumatera Barat—menguatkan persatuan umat, memperluas jangkauan dakwah, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semua. Dakwah yang tidak hanya terdengar di mimbar, tetapi terasa dalam kehidupan masyarakat. Dakwah mencerahkan masyarakat di nagari-nagari, daerah tertinggal, dakwah yang mengisi filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK) seperti sudah dikukuhkan dengan UU No. 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat.

DAKWAH RAMAI DI LAYAR, SEPI DALAM PERUBAHAN

Era digital ini umat berada pada lanskap yang berbeda. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di surau dan mimbar, tetapi telah berpindah ke layar-layar kecil di genggaman. Ceramah hadir setiap detik, kutipan ayat dan hadits tersebar tanpa batas, dai bermunculan dari berbagai platform. Secara lahiriah, ini adalah kemajuan. Tetapi secara batiniah, muncul pertanyaan yang mengusik: mengapa di tengah limpahan dakwah, kualitas kehidupan beragama tidak selalu ikut menguat?

Di sinilah kita menghadapi apa yang dapat disebut sebagai krisis dakwah di era digital. Krisis ini bukan karena dakwah tidak ada, tetapi karena dakwah kehilangan kedalaman. Informasi melimpah, tetapi hikmah terasa berkurang. Orang semakin mudah berbicara tentang agama, tetapi tidak selalu semakin dalam menghayatinya. Dakwah berubah menjadi cepat, ringkas, dan viral—namun sering kali kehilangan proses panjang yang dahulu menjadi kekuatan pendidikan surau: kesabaran, kedekatan, dan pembentukan akhlak. Bahkan dalam batas tertentu kegiatan dakwah menjadi ajang transaksi dan bisnis dengan tarif dengan berama bentuk acara.

Lebih jauh, era digital juga mengubah wajah otoritas keilmuan. Dahulu, masyarakat mengenal gurunya, mengetahui sanad ilmunya, dan belajar dengan adab. Hari ini, otoritas itu menjadi kabur. Siapa yang paling banyak diikuti, sering kali dianggap paling benar. Popularitas menggeser kedalaman. Algoritma menggantikan sanad.

Akibatnya, umat tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga kebingungan. Mereka dihadapkan pada banyak suara, banyak tafsir, bahkan banyak pertentangan. Dalam situasi seperti ini, dakwah yang seharusnya menuntun justru terkadang menambah kegaduhan.

Krisis lain yang tidak kalah serius adalah fragmentasi umat. Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi, sering berubah menjadi arena perdebatan tanpa adab. Perbedaan yang dahulu dikelola dengan kearifan, kini mudah berubah menjadi konflik terbuka. Dakwah tidak lagi selalu menjadi perekat, tetapi dalam beberapa kasus justru menjadi pemicu perpecahan.

Padahal, tradisi keislaman mengajarkan keseimbangan: keras dalam prinsip, tetapi lembut dalam pendekatan. Dakwah yang kehilangan hikmah akan mudah melukai, bukan menyembuhkan.

Di sisi lain, kita juga menghadapi krisis keteladanan. Umat hari ini tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat. Mereka menilai bukan hanya dari kata, tetapi dari sikap dan perilaku. Ketika dakwah tidak sejalan dengan kehidupan, maka kepercayaan pun perlahan runtuh. Di era digital, ketidaksesuaian ini cepat tersebar dan sulit dikendalikan.

Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap melemahnya fungsi surau. Banyak surau yang masih berdiri, tetapi tidak lagi menjadi pusat pembinaan seperti dahulu. Padahal, surau adalah jantung dakwah Minangkabau—tempat di mana ilmu, akhlak, dan budaya menyatu. Ketika surau melemah, dakwah kehilangan akar kulturalnya.

Namun krisis ini bukan akhir. Ia adalah tanda bahwa dakwah membutuhkan pembaruan.

Dakwah di Sumatera Barat harus mampu menjembatani dua dunia: dunia tradisi dan dunia digital. Teknologi tidak boleh ditolak, tetapi harus diarahkan. Dakwah digital harus tetap berakar pada keilmuan yang kuat dan akhlak yang hidup. Surau harus dihidupkan kembali, tidak hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai pusat pembinaan umat.

Lebih dari itu, dakwah harus kembali pada ruhnya: menghadirkan Islam sebagai rahmat. Dakwah yang menenangkan, bukan menegangkan. Dakwah yang menyatukan, bukan memecah. Dakwah yang membangun manusia, bukan sekadar membangun opini.

Akhirnya, kita harus jujur pada diri sendiri: tantangan dakwah hari ini bukan karena kurangnya sarana, tetapi karena kurangnya kedalaman dan keteladanan. Jika kita mampu mengembalikan ruh dakwah—menggabungkan ilmu, hikmah, dan amal—maka era digital justru akan menjadi peluang besar untuk kebangkitan. Tetapi jika tidak, maka kita akan terus menyaksikan paradoks: dakwah semakin ramai, tetapi perubahan semakin sepi.

Akhirnya, kita berdoa: semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, dan petunjuk kepada professor Efrinaldi yang masih muda, energi dan bergagasan  dalam mengemban amanah ini. Semoga setiap langkahnya menjadi bagian dari amal saleh yang terus mengalir, dan semoga dakwah yang dipimpinnya mampu melahirkan perubahan yang membawa kebaikan bagi umat dan bangsa.

Guru besar tidak hanya mengajar, tetapi membesarkan umat. Dan ketika ilmu bertemu dengan amanah, di situlah peradaban menemukan harapannya. Wallahu waliyuttaufiq wal hidayah.DS.

Leave a Reply

News Feed