IHSAN KEPADA ALAM: PENTINGNYA MENJAGA BUMI
Oleh
Ali Abdul Hakim
Institut Darul Falah Bandung Barat
PENDAHULUAN
Banjir, longsor, udara kotor, krisis air bersih, dan sampah yang menumpuk sering kita sebut sebagai bencana alam. Padahal, kalau jujur, banyak dari bencana itu terjadi karena ulah manusia sendiri. Hutan ditebang sembarangan, sungai dijadikan tempat sampah, dan alam terus dieksploitasi tanpa peduli dampaknya. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah masyarakat yang mengaku beriman dan religius. Kita rajin beribadah, fasih bicara soal halal dan haram, tapi sering lupa menjaga alam yang setiap hari kita gunakan.
Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara kesalehan ritual dan kepedulian terhadap lingkungan. Dalam Islam, manusia bukan penguasa bumi yang boleh berbuat sesuka hati, melainkan khalifah yang diberi amanah. Alam adalah titipan Allah yang harus dijaga. Konsep ihsan, yaitu berbuat baik dengan penuh kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, tidak hanya berlaku kepada sesama manusia, tetapi juga kepada alam. Ketika ihsan kepada alam diabaikan, kerusakan lingkungan sejatinya adalah tanda rusaknya akhlak manusia.
PEMBAHASAN
Kerusakan lingkungan bukan sekadar masalah teknis atau kurangnya teknologi. Ia adalah masalah bersama yang berkaitan dengan cara berpikir, bersikap, dan memaknai agama. Karena itu, penting untuk melihat penyebabnya, dampaknya, serta jalan keluar agar nilai ihsan kepada alam benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini, ihsan sering dipahami hanya sebatas kesungguhan dalam ibadah ritual, seperti shalat, puasa, dan ibadah pribadi lainnya. Akibatnya, banyak orang merasa sudah cukup saleh meski masih membuang sampah sembarangan atau tidak peduli pada kerusakan lingkungan. Muncullah pola beragama yang sibuk mengurus diri sendiri, tetapi abai terhadap dampak perbuatannya bagi alam sekitar. Padahal, merusak lingkungan jelas bertentangan dengan nilai ihsan dan amanah sebagai khalifah di bumi.
Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan kita umat Islam saja, adalah seorang yang sangat pro terhadap linkungan hidup terutama penghijauan. Beliau pernah menanam 499 tunas kurma di kebun Salman al-Farisi dengan tangan beliau sendiri. Rasulullah SAW juga memotivasi kita untuk terus menanam pohon dan mengatakan bahwa setiap kebaikan yang lahir dari pohon akan bernilai sedekah:
“Barang siapa orang yang menanam pohon, kemudian manusia atau mahluk apa pun mengambil manfaatnya, maka itu menjadi sedekah baginya.” (HR Bukhari).
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika mampu sebelum terjadi kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR Bukhari & Ahmad).
Syaikh Yusuf Qaradhawi mengomentari hadits ini panjang lebar tentang produktivitas tentang seorang Muslim dan manfaat ekologis penanaman pohon, termasuk menjaga keseimbangan lingkungan menyerap kebisingan, serta menahan dampak buruk industrialisasi.
Gaya hidup modern yang serba konsumtif ikut memperparah kerusakan lingkungan. Alam sering dipandang hanya sebagai sumber keuntungan ekonomi, bukan sebagai sistem kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Penebangan hutan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya alam kerap dibenarkan atas nama pembangunan. Sayangnya, dampak jangka panjang seperti banjir, krisis pangan, dan kerusakan ekosistem, sering diabaikan. Cara pandang seperti ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan dan melarang kerusakan di muka bumi.
Pendidikan Agama Islam sebenarnya punya peran besar dalam menumbuhkan kepedulian terhadap alam. Namun, dalam kenyataannya, pelajaran agama sering hanya fokus pada hafalan dan ritual. Ayat-ayat tentang menjaga bumi dan amanah kekhalifahan diajarkan secara teori, tanpa dikaitkan dengan persoalan nyata seperti sampah plastik, polusi, atau perubahan iklim. Akibatnya, orang memahami agama sebagai urusan ibadah saja, bukan sebagai pedoman hidup yang harus dipraktikkan dalam menjaga lingkungan.
Kerusakan alam tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan manusia. Yang paling merasakan dampaknya justru masyarakat kecil: petani yang gagal panen, nelayan yang kehilangan mata pencaharian, dan warga miskin yang tinggal di wilayah rawan bencana. Karena itu, krisis lingkungan juga merupakan krisis keadilan sosial. Hal ini bertentangan dengan semangat Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Menghidupkan ihsan kepada alam tidak harus dimulai dari hal besar. Langkah kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air dan listrik, serta menjaga kebersihan lingkungan sudah merupakan bentuk ibadah. Di tingkat pendidikan, nilai-nilai ekologis perlu diintegrasikan dalam pelajaran agama dengan mengaitkan ajaran Islam pada persoalan lingkungan yang nyata. Selain itu, gaya hidup ramah lingkungan perlu dibangun sebagai bagian dari iman, sehingga menjaga bumi tidak lagi dianggap sebagai kewajiban sosial semata, tetapi sebagai wujud ketaatan kepada Allah.
KESIMPULAN
Kerusakan lingkungan hari ini bukan sekadar akibat kesalahan teknis manusia, melainkan cermin krisis moral dalam cara beragama. Alam dieksploitasi, sementara nilai spiritual hanya berhenti pada ritual. Padahal, Islam melalui konsep ihsan menuntut kesadaran yang utuh untuk berbuat baik karena merasa diawasi Allah, termasuk dalam memperlakukan alam sebagai amanah kekhalifahan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa menanam pohon bernilai ibadah yang pahalanya terus mengalir. Ini menunjukkan bahwa kepedulian ekologis bukan isu modern, melainkan bagian dari ajaran Islam sejak awal.
Namun gaya hidup konsumtif, pembangunan eksploitatif, dan pendidikan agama yang minim perspektif lingkungan justru melahirkan banjir, krisis air, dan penderitaan sosial terutama bagi kelompok yang membutuhkan pelindungan lebih. Kondisi ini jelas bertentangan dengan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Menghidupkan ihsan kepada alam tidak harus dimulai dari hal besar. Mengurangi sampah, menghemat energi, dan hidup lebih sederhana adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika agama kembali menyentuh persoalan bumi, kesalehan tidak hanya tampak di masjid, tetapi juga tercermin dalam cara manusia menjaga kehidupan. Sebab merawat alam berarti menjaga masa depan dan itulah wujud sasungguhnya dari ihsan.









