JARIAH DOSA
Dosa yang Terus Mengalir Sepanjang Sejarah Manusia
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H/2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Pada Senin, 13 Juli 2026, hari terakhir kami berada di Madinah sebelum bertolak menuju Makkah sekitar pukul 11.00 waktu Arab Saudi, saya mengikuti kuliah Subuh berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, sekitar Pintu 20. Tema yang disampaikan penceramah sangat menggugah, yaitu jariah dosa, yakni dosa yang terus mengalir akibat perbuatan yang menjadi contoh buruk bagi manusia sesudahnya.
Rasulullah SAW bersabda:
«”Barang siapa memulai suatu kebiasaan yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)»
Hadis ini menjelaskan bahwa ada dosa yang tidak berhenti ketika pelakunya meninggal dunia. Selama keburukan yang diwariskan masih dilakukan orang lain, selama itu pula dosa terus mengalir.
Contoh pertama adalah Qabil, putra Nabi Adam AS. Karena iri dan dengki, ia membunuh saudaranya, Habil, setelah kurban Habil diterima Allah sedangkan kurbannya ditolak. Kisah ini diabadikan dalam QS. Al-Mā’idah [5]: 27–31. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setiap pembunuhan tanpa hak yang terjadi sesudahnya, Qabil memperoleh bagian dosanya karena dialah orang pertama yang membuka jalan pembunuhan di muka bumi.
Contoh kedua adalah penyembahan berhala pada masa Nabi Nuh AS. Al-Qur’an menyebut nama Wadd, Suwā’, Yaghūts, Ya’ūq, dan Nasr (QS. Nuh [71]: 23). Mereka adalah orang-orang saleh yang pada awalnya dibuatkan patung sebagai pengingat keteladanan. Setelah ilmu agama memudar dan berlalu beberapa generasi, setan mengubah penghormatan menjadi pemujaan, lalu pemujaan berubah menjadi penyembahan. Dari sinilah syirik mulai berkembang dalam sejarah manusia.
Penceramah menjelaskan bahwa setan bekerja dengan sangat sabar. Ia tidak mengajak manusia kepada dosa besar sekaligus, tetapi melalui langkah-langkah kecil: memalingkan hati, menghiasi keburukan sehingga tampak indah, menanamkan pembenaran, lalu akhirnya menjerumuskan manusia kepada kemaksiatan. Allah SWT berfirman:
«”Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 168).»
Kajian Subuh itu menegaskan bahwa syirik merupakan dosa terbesar karena merusak tauhid. Oleh sebab itu seluruh nabi diutus untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah.
Nabi Ibrahim AS bahkan berdoa:
«رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ»
«”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala.”
(QS. Ibrahim [14]: 35).»
Doa ini menunjukkan bahwa menjaga tauhid adalah perjuangan sepanjang hayat.
Dalam konteks kehidupan modern, makna jariah dosa menjadi semakin luas. Siapa pun yang menjadi inisiator, inovator, kreator, atau penyebar berbagai bentuk kemaksiatan melalui media digital, media sosial, platform internet, aplikasi, maupun teknologi informasi, sehingga mengajak, memudahkan, atau menormalisasi perbuatan dosa, termasuk dalam kategori membuka jalan keburukan. Selama konten, gagasan, sistem, atau aplikasi yang dibuatnya terus menginspirasi dan memfasilitasi orang melakukan maksiat, maka dosa itu berpotensi terus mengalir sebagaimana prinsip yang diajarkan Rasulullah SAW.
Demikian pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, jariah dosa dapat lahir dari penyalahgunaan amanah dan kekuasaan. Pejabat yang menyalahgunakan jabatan, pengusaha yang bersekongkol dalam praktik korupsi, suap, gratifikasi, mark-up anggaran, fee ilegal, pungutan liar, serta para “pencuri berdasi” yang merampas hak rakyat melalui cara-cara yang tampak legal tetapi hakikatnya batil, memikul dosa yang sangat berat. Apabila mereka menjadi pelopor, pembangun sistem, atau teladan lahirnya budaya korupsi yang kemudian diwarisi dan ditiru oleh orang lain, maka mereka tidak hanya memikul dosa pribadi, tetapi juga memikul jariah dosa dari setiap kezaliman yang terus berlangsung akibat sistem buruk yang mereka bangun. Kerusakan yang ditimbulkan bukan hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menghancurkan moral bangsa, menghilangkan keadilan, memperlebar kemiskinan, dan mengkhianati amanah rakyat.
Sebaliknya, Islam mengajarkan agar setiap muslim menjadi pelopor kebaikan. Ilmu yang bermanfaat, pendidikan, sedekah, wakaf, karya ilmiah, dakwah, keteladanan, serta inovasi yang membawa maslahat akan menjadi amal jariah yang pahalanya terus mengalir hingga setelah kematian.
Masjid Nabawi pada pagi itu mengajarkan sebuah pelajaran yang sangat mendalam: setiap manusia sedang meninggalkan jejak. Jejak itu bisa menjadi jalan menuju surga melalui amal jariah, atau menjadi jalan menuju siksa melalui jariah dosa. Karena itu, sebelum menciptakan sesuatu, menyebarkan sesuatu, membangun sebuah sistem, atau memulai suatu kebiasaan, hendaknya setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri: apakah yang saya tinggalkan akan menjadi pahala yang terus mengalir, atau justru dosa yang tidak pernah berhenti hingga hari kiamat?
Semoga Allah SWT menjadikan kita pelopor kebaikan, pewaris amal saleh, dan menjauhkan kita dari segala bentuk perbuatan yang melahirkan jariah dosa bagi diri sendiri maupun bagi generasi sesudah kita.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.






