JATI DIRI ULAMA DAN PEMAKMUR MASJID

JATI DIRI ULAMA DAN PEMAKMUR MASJID

Oleh: Duski Samad
Taushiyah Peresmian Masjid Muttaqin, 04072026

 

Al-Qur’an menempatkan khasyiah sebagai salah satu karakter paling mendasar dalam pembentukan pribadi mukmin. Khasyiah bukan sekadar rasa takut, melainkan perpaduan antara pengetahuan, pengenalan, pengagungan, kecintaan, dan kepatuhan kepada Allah SWT. Karena itu, Al-Qur’an menghubungkan khasyiah dengan dua identitas penting dalam kehidupan umat, yaitu ulama sebagai pewaris ilmu dan pemakmur masjid sebagai penggerak peradaban.

Firman Allah SWT dalam QS. Fāṭir ayat 28 menegaskan:
«إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ»
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”

Ayat ini tidak bermakna bahwa hanya ulama yang takut kepada Allah, tetapi menegaskan bahwa orang yang paling sempurna rasa khasyiahnya kepada Allah adalah mereka yang memiliki ilmu yang benar. Semakin luas ilmu seseorang tentang Allah, semakin dalam pula ketundukan hatinya kepada-Nya.

Menurut Ibn Kathir, orang yang paling mengenal kebesaran, kekuasaan, rahmat, dan keagungan Allah adalah orang yang paling besar rasa takutnya kepada-Nya. Ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan, melainkan kerendahan hati. Sementara itu, Al-Qurṭubī menjelaskan bahwa khasyiah adalah rasa takut yang lahir dari ma’rifatullah. Orang yang mengenal Allah akan semakin berhati-hati dalam perkataan, tindakan, dan seluruh perjalanan hidupnya.

Karena itu, khasyiah berbeda dengan khauf. Khauf adalah rasa takut secara umum terhadap sesuatu yang mengancam, sedangkan khasyiah merupakan rasa takut yang lahir dari ilmu, pengenalan, penghormatan, dan cinta kepada Allah. Khasyiah bukan rasa takut yang melemahkan, tetapi kekuatan ruhani yang melahirkan ketakwaan, kejujuran, amanah, kerendahan hati, keikhlasan, dan keteguhan dalam menjauhi maksiat.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ilmu sejati selalu melahirkan ketakwaan. Ilmu yang tidak menambah rasa takut kepada Allah belum mencapai hakikatnya. Ukuran ulama dalam perspektif Al-Qur’an bukan semata-mata banyaknya hafalan, gelar akademik, atau popularitas, melainkan kualitas hati yang dipenuhi khasyiah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hati dan tanggung jawab moralnya.

Karakter batin ini kemudian dipertegas dalam QS. At-Taubah ayat 18 yang menjelaskan siapa yang layak memakmurkan rumah Allah.
«إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ…»
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.”

Frasa وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ (dan tidak takut kecuali kepada Allah) menunjukkan bahwa pemakmur masjid harus memiliki keberanian moral yang bersumber dari tauhid. Ia tidak tunduk kepada tekanan kekuasaan, kepentingan politik, kekuatan ekonomi, popularitas, maupun tekanan massa. Yang mengendalikan langkahnya hanyalah keridaan Allah SWT.

Di sinilah tampak hubungan yang sangat erat antara kedua ayat tersebut. QS. Fāṭir ayat 28 menjelaskan identitas batin ulama, sedangkan QS. At-Taubah ayat 18 menjelaskan identitas sosial pemakmur masjid. Keduanya dipersatukan oleh satu fondasi yang sama, yaitu khasyiah.

Dengan demikian, Al-Qur’an membangun sebuah mata rantai peradaban. Ilmu melahirkan ma’rifatullah, ma’rifatullah melahirkan khasyiah, khasyiah melahirkan keberanian moral, keberanian moral melahirkan kemakmuran masjid, dan masjid yang makmur melahirkan peradaban Islam yang berkeadaban.

Dalam perspektif dakwah profetik, kedua ayat ini membentuk karakter ideal seorang dai. Dai tidak cukup hanya menguasai ilmu agama (tafaqquh fid-din), tetapi juga harus memiliki kedalaman spiritual (khasyiah), keberanian moral dalam menyampaikan kebenaran, serta komitmen menjadikan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, pemberdayaan sosial, dan pembangunan peradaban.

Tanpa khasyiah, ilmu dapat berubah menjadi alat mencari jabatan, pengaruh, dan popularitas. Tanpa khasyiah, masjid dapat kehilangan fungsi profetiknya dan hanya menjadi bangunan fisik yang megah namun sepi dari ruh dakwah. Sebaliknya, ketika ilmu bertemu dengan khasyiah, lahirlah ulama yang amanah, dai yang istiqamah, pemimpin yang adil, dan pengurus masjid yang ikhlas menghidupkan syiar Allah.

Oleh karena itu, karakter dai profetik dapat dirumuskan dalam satu bangunan konseptual yang utuh:

Ilmu → Ma’rifatullah → Khasyiah → Keberanian Moral → Memakmurkan Masjid → Membangun Peradaban.

Inilah pesan mendalam Al-Qur’an. Kemuliaan seorang ulama tidak pertama-tama diukur dari keluasan ilmunya, dan keberhasilan pengurus masjid tidak semata-mata diukur dari kemegahan bangunannya. Ukuran sejatinya adalah seberapa dalam rasa khasyiah kepada Allah yang tercermin dalam akhlak, amanah, keberanian menegakkan kebenaran, serta pengabdian tanpa pamrih kepada umat. Dari pribadi-pribadi seperti inilah lahir masjid yang hidup, dakwah yang mencerahkan, dan peradaban yang diridhai Allah SWT.ds.03072026

Leave a Reply