KAPAN INDONESIA SEBERANI IRAN?

KAPAN INDONESIA SEBERANI IRAN?:
(Keberanian Bangsa, Moralitas Pemimpin, dan Kekuatan Ideologi)

Oleh: Duski Samad
Pegiat Keumatan dan Kebangsaan Sejak 1975)

 

Sebuah video melontarkan pertanyaan yang pendek, tetapi menyesakkan: “Kapan Indonesia seberani Iran?” Pertanyaan itu mungkin dimaksudkan untuk membandingkan keberanian sebuah negara menghadapi tekanan dan ancaman dari luar. Namun bagi penululis, pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan membandingkan jumlah rudal, pesawat tempur, kapal perang, teknologi militer, atau besarnya anggaran pertahanan. Ada persoalan yang jauh lebih dalam, yaitu jiwa bangsa, kualitas kepemimpinan, keteladanan elite, kekuatan moral, dan keyakinan terhadap nilai yang diperjuangkan.

Itulah sebabnya pertanyaan tersebut dapat membuat air mata menetes. Bukan karena Indonesia tidak mempunyai tentara yang berani. Sejarah telah membuktikan keberanian tentara dan rakyat Indonesia. Kemerdekaan negeri ini bahkan tidak diberikan sebagai hadiah. Ia diperjuangkan dengan darah, air mata, diplomasi, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Persoalannya adalah apakah keberanian historis itu masih menjadi energi kehidupan bangsa hari ini, atau perlahan-lahan terkikis oleh pragmatisme, hedonisme, kepentingan politik jangka pendek, dan perburuan keuntungan material.

Pertanyaan di atas tepat diajukan ketika usia kemerdekaan bangsa ini sudah semangkin dewasa, 81 tahun.

Kita sering ingin Indonesia menjadi negara yang kuat. Namun ketika negara hendak memperkuat pertahanan, membeli pesawat tempur, kapal perang, radar, atau teknologi militer, segera muncul suara: untuk apa membeli senjata, bukankah rakyat masih miskin? Bukankah sekolah, rumah sakit, jalan, dan lapangan pekerjaan lebih penting?

Kritik seperti itu tentu diperlukan. Dalam negara demokrasi, pembelian alat utama sistem persenjataan tidak boleh menjadi cek kosong bagi pemerintah. Setiap rupiah uang rakyat harus diawasi. Pengadaan pertahanan harus transparan, profesional, bebas korupsi, dan berdasarkan kebutuhan strategis, bukan kepentingan bisnis maupun politik.

Tetapi kritik juga harus adil. Jangan sampai kita menuntut Indonesia menjadi negara yang disegani, tetapi pada saat yang sama menolak setiap biaya untuk membangun daya gentarnya. Jangan meminta TNI menjaga wilayah yang demikian luas, sementara kebutuhan modernisasi pertahanannya selalu dipandang sebagai pemborosan. Lebih tidak masuk akal lagi apabila kita baru sadar pentingnya pertahanan ketika ancaman sudah berada di depan pintu.

Pertahanan tidak dibangun ketika perang dimulai. Pertahanan dibangun justru agar perang tidak mudah terjadi.

Namun pengalaman Iran memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada persoalan senjata. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap sistem politik dan kebijakan luar negerinya, ada satu kenyataan yang menarik untuk direnungkan: kekuatan sebuah negara tidak hanya berasal dari perangkat keras militernya. Ada ideologi, kepemimpinan, struktur sosial, keyakinan, dan kesediaan sebagian masyarakat menanggung konsekuensi dari pilihan politik negaranya.

Di sinilah kita harus berani melakukan introspeksi terhadap Indonesia.

Apakah bangsa ini kekurangan senjata, atau sebenarnya sedang mengalami kekurangan kepercayaan?

Sulit membangun pertahanan nasional yang kuat apabila rakyat tidak percaya kepada elite. Sulit meminta masyarakat berkorban apabila sebagian pemimpin mempertontonkan kemewahan. Sulit mengajak rakyat hidup sederhana ketika kekuasaan justru menjadi jalan menuju fasilitas dan privilese. Sulit berbicara nasionalisme apabila jabatan diperlakukan sebagai investasi politik dan kekayaan negara menjadi sasaran korupsi.

Seorang pemimpin tidak cukup meminta rakyat mencintai negara. Ia terlebih dahulu harus memperlihatkan bagaimana mencintai negara.

Di sinilah keteladanan menjadi kekuatan pertahanan yang sering tidak dihitung dalam statistik militer. Keteladanan memang tidak dapat ditembakkan seperti rudal. Ia tidak terbang seperti pesawat tempur. Tetapi keteladanan menghasilkan sesuatu yang jauh lebih penting: kepercayaan rakyat.

Ketika rakyat percaya kepada pemimpinnya, seruan pengorbanan mempunyai makna. Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, pidato nasionalisme yang paling indah sekalipun terdengar sebagai retorika.

Di Mana Ulama?

Pertanyaan berikutnya juga tidak kalah sensitif: di mana posisi ulama dalam membangun kekuatan moral bangsa?

Pengalaman Iran memperlihatkan besarnya posisi kepemimpinan ulama dalam kehidupan negara dan masyarakatnya. Indonesia tentu tidak harus mengadopsi sistem Iran. Indonesia mempunyai Pancasila, UUD 1945, demokrasi, keragaman agama dan budaya, serta sejarah hubungan agama dan negara yang berbeda.

Namun substansi moralnya layak dipikirkan.

Ulama seharusnya menjadi kekuatan moral yang mampu berbicara melampaui kepentingan kekuasaan. Ulama tidak boleh kehilangan independensi karena terlalu dekat dengan penguasa, tetapi juga tidak boleh menjadikan mimbar agama sebagai instrumen perebutan kekuasaan.

Kalau ulama telah terpecah mengikuti kepentingan politik, kalau fatwa dibaca berdasarkan siapa yang sedang berkuasa, kalau kedekatan kepada pejabat lebih membanggakan daripada kedekatan kepada umat, maka otoritas moral akan mengalami erosi.

Padahal bangsa besar membutuhkan pemimpin formal sekaligus pemimpin moral.

Kepatuhan umat juga tidak boleh dipahami sebagai kepatuhan membabi buta. Kepatuhan yang sehat lahir karena ulama dipercaya, pemimpin memberikan teladan, hukum berlaku adil, dan negara hadir melindungi masyarakat. Ketaatan yang dipaksakan melahirkan ketakutan; ketaatan yang dibangun melalui keteladanan melahirkan kesetiaan.

Itulah modal sosial sebuah bangsa.

Religiusitas atau Hedonisme?

Ada persoalan lain yang lebih serius. Kita sering membanggakan Indonesia sebagai bangsa religius. Masjid penuh, rumah ibadah berkembang, kegiatan keagamaan ramai, simbol agama hadir di ruang publik, dan bahasa agama begitu akrab dalam kehidupan politik.

Tetapi pertanyaannya: apakah religiusitas itu telah menjadi etika publik?

Mengapa korupsi masih terjadi di tengah masyarakat yang religius? Mengapa kerakusan tumbuh berdampingan dengan ritual? Mengapa jabatan diperebutkan dengan biaya sangat mahal? Mengapa kekuasaan begitu menggoda? Mengapa kekayaan sering dipamerkan sebagai ukuran keberhasilan?

Jangan-jangan masalah kita bukan kekurangan agama, tetapi agama belum sepenuhnya berubah menjadi moralitas sosial.

Kita religius dalam simbol, tetapi bisa pragmatis dalam politik. Kita fasih berbicara amanah, tetapi kekuasaan diperebutkan. Kita berbicara zuhud, tetapi budaya pamer kemewahan berkembang. Kita mengajarkan qana’ah kepada umat, sementara sebagian elite berlomba memperbesar kekayaan.

Di sinilah hedonisme menjadi ancaman yang tidak kalah berbahaya dibanding ancaman militer.

Bangsa yang terlalu mencintai kenyamanan akan sulit diajak berkorban. Bangsa yang seluruh pikirannya diarahkan kepada keuntungan akan mudah kehilangan idealisme. Ketika semua dihitung dengan uang, bahkan kehormatan dapat memiliki harga.

Hedonisme bertanya: apa yang bisa saya nikmati?
Pragmatisme bertanya: apa keuntungan saya?
Materialisme bertanya: berapa nilainya?
Religiusitas bertanya: apa yang harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?

Perbedaan cara bertanya itulah yang akhirnya membentuk karakter manusia dan karakter bangsa.

Ideologi Ilahiah versus Materialisme

Karena itu, persoalan Iran tidak semata-mata terletak pada rudalnya. Ada sesuatu yang lebih menarik untuk dikaji: kekuatan keyakinan terhadap sebuah ideologi.

Di sinilah muncul pertanyaan kritis: apakah ideologi ilahiah dapat mengalahkan materialisme dan sekularisme?

Pertanyaan ini tidak boleh disederhanakan seolah-olah setiap masyarakat sekuler pasti lemah atau setiap negara yang memakai simbol agama otomatis kuat dan bermoral. Fakta sejarah tidak sesederhana itu. Negara yang mengatasnamakan agama pun dapat mengalami penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, masyarakat yang sekuler dapat membangun disiplin, ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan yang bersih, dan penghormatan terhadap hukum.

Karena itu, agama tidak cukup dijadikan label negara. Agama harus menjadi kekuatan etik.

Ideologi ilahiah menemukan maknanya ketika keyakinan kepada Tuhan melahirkan kejujuran, keberanian, keadilan, kesederhanaan, pengorbanan, penghormatan terhadap manusia, dan kesediaan mempertanggungjawabkan kekuasaan.

Kalau agama hanya menjadi slogan sementara korupsi terus berlangsung, maka yang menang bukan ilahiah, melainkan materialisme yang memakai pakaian agama.

Itulah kritik yang harus berani kita arahkan juga kepada diri sendiri.

Indonesia Tidak Harus Menjadi Iran

Maka jawaban terhadap pertanyaan “Kapan Indonesia seberani Iran?” sebenarnya tidak boleh berhenti pada keinginan memiliki rudal yang lebih banyak atau pesawat tempur yang lebih canggih.

Indonesia tidak harus menjadi Iran.

Indonesia harus menemukan keberanian Indonesianya sendiri.

Kita membutuhkan TNI yang profesional dan modern. Kita membutuhkan industri pertahanan yang mandiri. Kita membutuhkan ilmuwan yang menguasai AI, teknologi satelit, siber, drone, radar, dan berbagai teknologi strategis. Kita membutuhkan ekonomi yang kuat agar pertahanan tidak bergantung kepada negara lain.

Tetapi semua itu belum cukup.

Kita membutuhkan pemimpin yang dapat dipercaya. Ulama yang berwibawa karena integritasnya. Elite yang memberikan keteladanan. Ilmuwan yang mempunyai idealisme. Pengusaha yang memiliki nasionalisme. Aparatur yang tidak korup. Dan rakyat yang mencintai negeri bukan hanya ketika tim nasional sedang bertanding.

Kekuatan militer tanpa moralitas dapat berubah menjadi kesombongan. Religiusitas tanpa ilmu dapat berubah menjadi fanatisme. Ideologi tanpa kritik dapat berubah menjadi otoritarianisme. Demokrasi tanpa moral dapat berubah menjadi transaksi. Kekayaan tanpa keadilan melahirkan kesenjangan. Sedangkan nasionalisme tanpa pengorbanan hanyalah slogan.

Karena itu, keberanian Indonesia harus dibangun secara utuh: kuat pertahanannya, maju teknologinya, mandiri ekonominya, cerdas rakyatnya, berwibawa ulamanya, berintegritas pemimpinnya, dan hidup nilai ketuhanannya.

Barangkali itulah yang membuat pertanyaan dalam video tadi terasa begitu menyentuh.

Bukan karena kita ingin Indonesia berperang.

Justru kita ingin Indonesia begitu kuat sehingga tidak mudah diperangi; begitu mandiri sehingga tidak mudah ditekan; begitu bersatu sehingga tidak mudah dipecah; dan begitu bermoral sehingga kekuatan yang dimilikinya tidak disalahgunakan.

Maka pertanyaannya akhirnya harus kita balik.

Bukan kapan Indonesia seberani Iran, tetapi kapan Indonesia berani menjadi Indonesia?

Indonesia yang pemimpinnya memberikan teladan sebelum meminta pengorbanan rakyat. Indonesia yang ulamanya menjadi penjaga nurani, bukan pengikut arus kepentingan. Indonesia yang religiusitasnya mengalahkan hedonisme, moralitasnya mengendalikan pragmatisme, dan nilai ilahiahnya memberi arah kepada kemajuan material.

Indonesia yang tidak takut kepada dunia karena mempunyai kekuatan, tetapi juga tidak sombong kepada dunia karena mempunyai Tuhan.

Keberanian sejati sebuah bangsa bukan keberanian memulai perang, melainkan keberanian membangun kekuatan, menegakkan keadilan, menjaga kehormatan, mengendalikan hawa nafsu kekuasaan, dan mempertahankan kedaulatan tanpa kehilangan kemanusiaan. 13082026.

Leave a Reply