KESULITAN ITU BERBARENGAN DENGAN KEMUDAHAN
Oleh: Duski Samad
Pembina Yayasan Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah (YP2TI) Batang Kabung Padang
Cahaya Harapan di Tengah Banjir Bandang
Ungkapan “Sejatinya kesulitan itu berbarengan dengan kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5–6) kembali menemukan relevansinya ketika Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah (T.I) Batang Kabung dihantam banjir bandang pada 28 November 2025. Arus deras yang menggerus bantaran sungai, merobohkan fondasi bangunan, dan menghentikan proses belajar mengajar secara fisik telah menjadi ujian yang berat bagi keluarga besar pesantren.
Namun, sebagaimana janji Allah, setiap kesulitan senantiasa membawa pintu kemudahan. Pernyataan H. Fauzi Bahar saat meninjau lokasi dampak bencana bersama anggota DPRD Kota Padang, Fautia Fauzi, pada Sabtu, 29 November 2025, menjadi pemantik semangat: “Belajar tidak boleh berhenti, dan rekonstruksi harus segera dimulai.”
Belajar Tak Boleh Terhenti: Satgas Bergerak Cepat
Pascabencana, YP2TI segera membentuk Satuan Tugas (SATGAS) Rekonstruksi yang dipimpin oleh Agusrianto, MA dan Sy. Datuk Dubalang, dibantu puluhan alumni yang bergerak tanpa menunggu komando.
Satgas menjalankan tiga misi utama:
1. Memetakan kerusakan fisik
Termasuk ruang belajar, aula, kantor pesantren, asrama putri, rumah pengawas (sekuriti), dan fasilitas MCK.
2. Menjamin keberlanjutan pembelajaran
Dengan memindahkan santri sementara ke ruang-ruang yang aman dan tenda darurat agar kegiatan pendidikan tidak terhenti.
3. Menyiapkan dokumen rekonstruksi
Sebagai dasar untuk mengajukan bantuan kepada pemerintah, donatur, dan jejaring alumni.
Langkah cepat ini merupakan bentuk kesadaran bahwa pesantren bukan sekadar bangunan, tetapi institusi kehidupan tempat akhlak, ilmu, dan keberadaban ditanamkan.
Sinergi Tiga Kekuatan: Pemerintah, Donatur, dan Alumni
Rekonstruksi Pesantren T.I Batang Kabung harus dikerjakan dengan prinsip kolaborasi total. Ada tiga power yang menjadi fondasi kebangkitan:
1. Power Pemerintah
Pemerintah Kota Padang memiliki tanggung jawab kebencanaan dan perlindungan sosial. Melalui BPBD, Dinas PU, dan Dinas Pendidikan, dukungan dapat diberikan berupa:
normalisasi dan penguatan tebing sungai,
penyediaan material darurat,
bantuan relokasi sementara,
percepatan program mitigasi bencana pendidikan.
Kunjungan H. Fauzi Bahar menjadi sinyal kuat bahwa sinergi ini harus diintensifkan.
2. Power Donatur
Bencana sering kali menggerakkan solidaritas publik. Masyarakat, perusahaan, tokoh masyarakat, dan lembaga filantropi dapat berperan dalam:
penggalangan dana,
bantuan material bangunan,
pembangunan ruang belajar darurat,
dukungan logistik bagi santri.
Ini momentum yang harus dikelola baik oleh Satgas dan Yayasan.
3. Power Alumni
Alumni adalah kekuatan spiritual, moral, dan finansial yang tidak pernah mengecewakan. Sejarah membuktikan bahwa alumni T.I Batang Kabung selalu hadir ketika pesantren membutuhkan.
Karena itu, rapat besar alumni pada Sabtu mendatang menjadi titik balik:
Tempat bertemunya kesulitan dan kemudahan.
Proposal Rekonstruksi per Unit
Untuk memastikan rekonstruksi berjalan cepat, akuntabel, dan terukur, Yayasan menyiapkan Usulan Pembangunan per Unit, meliputi:
1. Ruang Belajar (6 x 20 meter)
Prioritas utama agar KBM kembali normal.
Desain tahan banjir dan ramah lingkungan.
2. Aula Pesantren
Ruang pertemuan, kegiatan halaqah, dan pembinaan santri.
Bisa difungsikan sebagai ruang darurat bila terjadi musibah.
3. Rumah Pengawas / Sekuriti (4 x 6 meter)
Penting untuk pemantauan malam, terutama pascabencana.
4. Asrama Putri
Prioritas kedua setelah ruang belajar; memastikan keamanan dan kenyamanan santri.
5. Kantor Pesantren (6 x 20 meter)
Pusat administrasi, manajemen pendidikan, dan koordinasi bantuan.
6. Fasilitas MCK
Menjamin kesehatan santri dan standar kebersihan selama proses pemulihan.
Setiap unit dilengkapi dengan estimasi anggaran, gambar teknis, timeline pengerjaan, serta skema pembiayaan kolaboratif: pemerintah–donatur–alumni.
Momentum Pembaruan: Ketika Ujian Menjadi Jalan Kemajuan
Bencana bukan hanya ujian, tetapi juga panggilan untuk memperbarui sistem pendidikan pesantren, terutama:
memperkuat mitigasi bencana,
menata ulang site plan pesantren,
membangun bangunan memenuhi standar keamanan,
membentuk tim tanggap darurat berbasis santri,
dan memperkuat solidaritas alumni.
Dengan semangat “fa inna ma’al ‘usri yusrā”, Pesantren T.I Batang Kabung tidak akan surut oleh musibah. Sebaliknya, pesantren akan bangkit lebih kuat, lebih siap, dan lebih terhormat.
Penutup:
Kita Bangkit Bersama
Kesulitan adalah fase.
Kemudahan adalah janji.
Musibah adalah panggilan untuk bersatu.
Dengan kekuatan pemerintah, para donatur, dan para alumni, rekonstruksi Pesantren T.I Batang Kabung bukan hanya mungkin—tetapi pasti terwujud.
Saat besi panas, tempalah ia. Saat pesantren membutuhkan, kita hadir dan bekerja.
Semoga Allah memudahkan setiap langkah, menerima setiap bantuan sebagai amal jariyah, dan menguatkan pesantren ini sebagai benteng ilmu dan akhlak bagi generasi masa depan.
DS. 29112025.
–
