KETIKA MIZAN RETAK, ALAM MENAGIS
Ketika Mīzān Retak, Alam Menangis. Banjir Bandang Sumatera Barat dan Etika Keseimbangan yang Dilanggar
Oleh: Duski Samad
Banjir bandang yang berulang melanda Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir bukanlah peristiwa kebetulan. Ia adalah isyarat keras dari alam bahwa keseimbangan—mīzān—yang ditetapkan Allah telah lama dilanggar. Al-Qur’an mengingatkan dengan bahasa yang singkat namun mendalam:
> “Allā tatghaw fil-mīzān” — janganlah kamu melampaui batas dalam keseimbangan.
(QS. Ar-Raḥmān: 8)
Ayat ini bukan hanya tuntunan spiritual, melainkan prinsip etik ekologis dan kebijakan publik. Ketika mīzān retak, alam tidak diam. Ia menangis—dan di Sumatera Barat, tangisan itu hadir dalam rupa banjir bandang, longsor, dan rusaknya ruang hidup masyarakat nagari.
Sumatera Barat: Alam Sensitif yang Dilampaui Batasnya
Secara geografis, Sumatera Barat adalah wilayah dengan kerentanan ekologis tinggi. Pegunungan Bukit Barisan menjadi tulang punggung daerah tangkapan air, sementara sungai-sungai pendek dan berlereng curam mengalir cepat menuju pesisir. Sistem ini menuntut kehati-hatian ekstrem dalam tata ruang dan pemanfaatan lahan.
Namun fakta lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Dalam dua dekade terakhir, kerusakan kawasan hulu meningkat signifikan. Alih fungsi hutan menjadi kebun, pembukaan lahan di lereng curam, aktivitas tambang mineral dan galian C, serta pemukiman yang mendekati sempadan sungai telah melemahkan daya dukung alam.
Banjir bandang di Kabupaten Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Padang Pariaman, dan Kota Padang menunjukkan pola yang sama: hulu sungai rusak atau terbuka, sedimentasi tinggi di badan sungai, kayu dan material dari atas terbawa deras, permukiman tumbuh di zona rawan.
Ketika hujan ekstrem turun—yang kini semakin sering akibat perubahan iklim—air tidak lagi diserap tanah, melainkan turun sebagai gelombang destruktif. Inilah bentuk nyata retaknya mīzān ekologis.
Bencana Bukan Sekadar Alam, tetapi Kebijakan
Namun menyederhanakan banjir bandang Sumatera Barat sebagai “murka alam” adalah kekeliruan. Di balik air yang meluap, ada keputusan manusia: izin yang dikeluarkan tanpa kehati-hatian, pengawasan yang lemah, dan pembiaran pelanggaran tata ruang.
Inilah yang oleh Al-Qur’an disebut ṭughyān—melampaui batas. Bukan hanya melampaui batas alam, tetapi juga batas etika kekuasaan. Ketika izin tambang, kebun, atau pembangunan dibiarkan masuk ke wilayah tangkapan air dan sempadan sungai, maka negara sejatinya ikut meretakkan mīzān.
Ironisnya, setelah bencana terjadi, yang sering tampak adalah reaksi simbolik: kunjungan pejabat, penyerahan bantuan, foto bersama korban. Padahal, tanpa evaluasi kebijakan hulu, semua itu hanya merawat ilusi empati, bukan mitigasi sejati.
Mīzān dan Mitigasi Bencana Sumatera Barat
Mitigasi bencana di Sumatera Barat selama ini cenderung reaktif—berfokus pada penanganan setelah bencana. QS. Ar-Raḥmān ayat 8 mengajarkan pendekatan sebaliknya: menjaga keseimbangan sebelum runtuh.
Mitigasi berbasis mīzān di Sumatera Barat setidaknya mencakup tiga hal pokok.
Pertama, etika ekologis.
Tidak semua ruang boleh disentuh. Hulu sungai, lereng Bukit Barisan, dan kawasan resapan air harus diperlakukan sebagai wilayah sakral ekologis. Mengorbankannya demi kepentingan ekonomi jangka pendek adalah pelanggaran keseimbangan yang mahal biayanya.
Kedua, etika kebijakan dan kekuasaan.
Kekuasaan adalah amanah, bukan hak untuk menguasai alam. Setiap bencana semestinya diikuti audit tata ruang, evaluasi izin, dan penegakan hukum lingkungan. Tanpa itu, negara ikut menambah luka mīzān.
Ketiga, etika kemanusiaan.
Korban bencana bukan objek kamera dan konten. Bantuan harus adil, transparan, dan bermartabat, menjangkau nagari-nagari yang jauh dari sorotan media. Ketika penderitaan dijadikan tontonan, mīzān kemanusiaan kembali dilanggar.
Kearifan Lokal yang Ditinggalkan
Sumatera Barat sejatinya memiliki modal etik yang kuat. Falsafah “alam takambang jadi guru” dan prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah adalah terjemahan lokal dari konsep mīzān. Alam mengajarkan batas, adat mengajarkan kepantasan, dan syarak memberi rambu moral.
Banjir bandang yang berulang menandakan bahwa kearifan ini kian terpinggirkan oleh logika eksploitasi dan pencitraan.
Penutup
Ketika mīzān retak, alam menangis. Dan Sumatera Barat sedang mendengar tangisan itu—melalui air bah, lumpur, dan kehilangan. QS. Ar-Raḥmān ayat 8 memberi peringatan yang jelas: jangan melampaui batas.
Banjir bandang mungkin tidak sepenuhnya bisa dicegah. Tetapi pelanggaran keseimbangan bisa dihentikan. Di situlah mitigasi sejati bermula: bukan hanya membangun tanggul, tetapi menegakkan etika, membatasi keserakahan, dan mengembalikan kekuasaan pada amanahnya.
Jika tidak, alam akan terus berbicara—dan setiap tangisannya selalu lebih jujur daripada pidato siapa pun.13122025.DS.












