LAILATUL QADAR

LAILATUL QADAR:
Malam yang Kita Cari, Pesan yang Kita Lupakan

Oleh: Duski Samad
Pengasuh surautuanku professor#series28.

 

Suatu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, seorang jamaah tua duduk lama di dalam masjid. Tangannya memegang tasbih. Bibirnya berzikir. Matanya sesekali terpejam. Sesekali ia mengangkat tangan berdoa dengan suara lirih.
Ia datang dengan satu harapan yang sama seperti jutaan Muslim lainnya:

menemukan Lailatul Qadar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Malam pengampunan.
Malam perubahan takdir.

Tetapi mungkin ada satu pertanyaan yang jarang sekali kita ajukan:

Jika kita bertemu Lailatul Qadar setiap tahun, mengapa kehidupan umat tidak berubah secara drastis setiap tahun?

Mengapa kita masih mendengar berita korupsi?

Mengapa kejujuran masih menjadi barang mahal?

Mengapa disiplin masih lemah?

Mengapa umat yang begitu religius belum menjadi umat yang unggul dalam ilmu dan teknologi?

Pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman.

Tetapi justru karena cinta kepada umat, pertanyaan ini harus diajukan.
Karena Islam bukan agama yang takut pada kejujuran.

Empat belas abad lalu, Islam dimulai dari kesunyian sebuah gua. Tidak ada istana. Tidak ada podium. Tidak ada keramaian. Hanya seorang Nabi yang sedang mencari makna hidup.

Lalu datang satu kata yang mengubah sejarah manusia:

Iqra’.
Bacalah.
Satu kata sederhana.
Tetapi dampaknya luar biasa. Seolah Allah ingin mengatakan bahwa kebangkitan umat ini harus dimulai dari kesadaran intelektual.

Bahwa kekuatan umat bukan hanya pada jumlahnya.

Tetapi pada kualitas pikirannya.
Bahwa iman tanpa ilmu akan rapuh. Dan ilmu tanpa iman akan kehilangan arah.

Generasi awal Islam memahami ini.

Mereka tidak hanya beribadah.
Mereka belajar.
Mereka membaca.
Mereka meneliti.
Mereka berpikir.

Dan dari sanalah lahir generasi yang membangun peradaban.
Masjid menjadi pusat ilmu.
Ulama menjadi ilmuwan.
Ibadah melahirkan etos kerja.
Doa melahirkan keberanian.
Tahajud melahirkan pemimpin.
Tetapi perjalanan sejarah tidak selalu lurus.
Ada masa ketika umat mulai merasa cukup dengan simbol.
Merasa cukup dengan ritual.
Merasa cukup dengan seremonial.

Tanpa sadar, orientasi berubah.
Dari ilmu menjadi retorika.
Dari kerja keras menjadi kebanggaan masa lalu.
Dari mental pencipta menjadi mental pengguna.
Dan mungkin inilah yang kita lihat hari ini.

Setiap Ramadan kita melihat pemandangan yang indah.
Masjid penuh.
Tadarus ramai.
Sedekah meningkat.

Tetapi setelah Ramadan berlalu, sering kali kehidupan kembali seperti biasa.

Disiplin kembali longgar.
Kejujuran kembali diuji.
Etos kerja kembali menurun. Seolah Ramadan hanya menjadi jeda spiritual.

Bukan titik perubahan.

Padahal Lailatul Qadar seharusnya menjadi:
malam transformasi.
Malam reset jiwa.
Malam kelahiran manusia baru.

Mungkin kita perlu bertanya lebih jujur kepada diri sendiri:

Apakah kita benar-benar mencari Lailatul Qadar?

Ataukah kita hanya mencari pahala tanpa siap berubah?

Karena tanda Lailatul Qadar bukan cahaya yang kita lihat di langit.

Tetapi cahaya yang lahir di dalam hati.

Ia terlihat dari perubahan sikap. Dari cara seseorang bekerja lebih jujur.
Dari cara seseorang memegang amanah lebih serius.

Dari cara seseorang memperlakukan orang lain lebih baik.

Jika seseorang setelah Ramadan menjadi lebih baik, maka mungkin ia telah menemukan Lailatul Qadar.

Jika tidak, maka mungkin ia hanya melewati malamnya. Belum menangkap maknanya.

Ada satu refleksi yang mungkin perlu kita renungkan bersama:

Barangkali masalah umat bukan karena kurang ibadah.

Barangkali masalah umat karena kurang perubahan setelah ibadah.

Kita tidak kekurangan orang yang bisa berdoa.

Kita tidak kekurangan orang yang bisa berceramah.

Kita tidak kekurangan simbol keagamaan.

Yang sering kita kekurangan adalah:
keteladanan.
integritas.
budaya ilmu.
disiplin.

Padahal itulah buah sejati dari Lailatul Qadar.

Mungkin pertanyaan paling penting bukan lagi:
Apakah kita mendapatkan Lailatul Qadar?

Tetapi:
Apakah Lailatul Qadar mendapatkan kita?
Apakah ia menemukan hati yang siap berubah?
Apakah ia menemukan jiwa yang siap jujur?
Apakah ia menemukan manusia yang siap memperbaiki diri?

Karena sejatinya Lailatul Qadar bukan hanya malam turunnya Al-Qur’an.

Tetapi malam naiknya kualitas manusia.
Dan mungkin pelajaran paling dalam dari Lailatul Qadar adalah ini:
Jangan sampai kita menangis pada malam itu,
tetapi tidak berubah setelahnya.

Karena ukuran seseorang mendapatkan Lailatul Qadar bukan berapa lama ia berdoa pada malam itu.
Tetapi siapa dirinya setelah malam itu.
Karena sejatinya Lailatul Qadar bukan tentang satu malam.

Tetapi tentang:
apakah setelah malam itu kita menjadi manusia yang berbeda.

Leave a Reply