MENGENALKAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM DUNIA BERMAIN ANAK

Artikel36 Views

MENGENALKAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM DUNIA BERMAIN ANAK

Neng Fitriyani

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Falah

 

Permainan dan bermain merupakan bagian dari dunia anak-anak. Melalui bermain permainan anak-anak dapat memperoleh kesenangan. Permainan yang dilakukan anak-anak menjadi salah satu media belajar secara langsung di lingkungan sosialnya. Melalui permainan, anak-anak akan mendapatkan pengetahuan sekaligus menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tersebut. Pada kenyataan era sekarang, anak-anak cenderung menyukai permainan dari gudget atau smartphone masing-masing. Sehingga pembelajaran sosial dan penerapan nilai-nilai permainan sudah sangat kurang dibanding dengan permainan tradisional. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), bermain tidak lagi menjadi aktivitas fisik yang mendukung tumbuh kembang anak. Permainan yang dimainkan Adalah jenis permainan seperti game online atau permainan yang terdapat pada gudget. Subrahmayan menyatakan anak cenderung tidak bergerak ketika memainkan permainan yang sudah memanfaatkan teknologi, tidak hanya berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, tetapi juga berdampak pada perkembangan sosial, emosional, dan mental anak.

Permainan yang berkembang di era revolusi 4.0 saat ini lebih menekankan pada kegiatan bermain individu dan tidak melakukan kontak langsung dengan berinteraksi dilingkungan masyarakat atau sosial. Permainan yang dikembangkan juga sangat minim dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat. Hal ini jauh berbeda dengan permainan tranisional yang tercipta dari lingkungan sosial yang mengandung berbagai nilai-nilai kearifan lokal masyarakat tersebut. Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom), dan lokal (local). Secara umum maka local wisdom atau kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Implementasi nilai-nilai kearifan lokal melalui kegiatan bermain pada permainan tradisional yang dilakukan anak-anak akan menjadi media dan sumber belajar secara konkrit bagi anak-anak. Nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat sangat penting ditransfortasikan dan diwariskan kepada anak-anak. Untuk melestarikannya, sehingga tidak hilang diterjang perkembangan zaman. Perenialisme memandang bahwa masa lalu Adalah sebuah mata rantai kehidupan umat manusia yang tidak mungkin diabaikan. Masa yang sudah dilewati menjadi bagian penting dari perjalanan waktu manusia dan memiliki   pengaruh kuat terhadap kejadian masa kini dan masa yang akan datang. Nilai-nilai yang lahir pada masa lalu adalah hal yang berharga untuk diwariskan kepada generasi muda.

  1. Fungsi kearifan lokal
  • Konservasi dan pelestarian sumber daya alam
  • Pengembangan sumber daya manusia
  • Pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan
  • Petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan
  • Bermakna sosial misalnya upacara integrasi komunal/kerabat
  • Bermakna etika dan moral
  • Bermakna politik, misalnya upacara

Sebagian besar permainan tradisional merupakan ekpresi budaya asli dan cara hidup yang memberikan kontribusi terhadap identitas suatu kelompok masyarakat. Sekarang ini permainan tradisional sudah mulai ditinggalkan oleh anak -anak dan bahkan tidak sedikit anak-anak tidak tahu ap aitu permainan tradisional. Hilangnya permainan tradisional disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: sarana dan tempat bermain tidak ada, adanya penyempitan waktu, terlebih lagi semakin permainan modern dari luar negeri dimana tidak memakan tempat, tak terkendala waktu baik siang hari, sore hari, ataupun malam hari bisa dilakukan serta perlu menunggu orang lain untuk bermain, dan terputusnya pewarisan budaya yang dilakukan oleh generasi sebelumnya Dimana mereka tidak sempat mencatat, mendata dan mensosialisasi sebagai produk budaya masyarakat kepada generasi dibawahnya.

Konsep Bermain Anak

Dunia anak adalah dunia bermain, anak biasanya cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya melalui bermain. Hal ini dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari bahwa waktu yang digunakan untuk bermain oleh anak lebih banyak dibandingkan dengan belajarnya, maka dari itu dengan memahami hal diatas maka kita perlu mestimulus atau memberikan pembelajaran bagi anak melalui bermain karena belajar pada anak usia dini adalah bermain dan bermain.

Bermain bagi anak tidak hanya memberikan kepuasan terhadap anak akan tetapi bermain dapat pula membangun karakter dan membentuk sikap dan kepribadian anak. Docket dan Fleer berpendapat bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Sejalan dengan teori tersebut, Susanto mengemukakan bahwa bermain dapat membentuk sikap mental dan nilai-nilai kepribadian anak diantaranya:

  • Dengan bermain itu anak belajar menyadari keteraturan peraturan dan berlatih menjalankan komitmen yang dibangun dalam permainan tersebut.
  • Anak belajar menyelesaikan masalah dalam kesulitan terendah sampai yang tertinggi.
  • Anak berlatih sabar menunggu giliran setelah temannya menyelesaikan permainannya.
  • Anak berlatih bersaing dan membentuk motivasi dan harapan hari esok aka nada harapan memenangkan permainan
  • Anak-anak sejak dini belajar menghadapi resiko kekalahan yang dihadapi dari permainan.

Bemain merupakan kebutuhan anak yang sangat penting, dengan bermain anak akan membangun pengetahuannya tentang apa yang ada di sekitarnya, dan membangun kreatifitasnya baik dengan menggunakan suatu benda atau alat permainan maupun tidak.

Integrasi kearifan lokal dalam kegiatan bermain “Permainan Congklak”

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, bahasa, adat istiadat, dan kearifan lokal. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia dalam menjaga keutuhan identitas nasional di tengah arus globalisasi yang semakin deras. Kearifan lokal sebagai bagian dari budaya bangsa memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berwawasan kebangsaan, berakar pada nilai-nilai tradisional, serta mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai edukatif tinggi adalah permainan tradisional, yang di masa lalu sangat akrab dengan kehidupan anak-anak di berbagai daerah, termasuk permainan congklak.

Permainan congklak, yang di beberapa daerah dikenal dengan sebutan dakon, mancala, atau sungka, merupakan permainan tradisional yang mengandalkan strategi, ketelitian, kesabaran, dan sportivitas. Permainan ini tidak hanya sekadar sarana hiburan, melainkan juga media pembelajaran nilai-nilai sosial dan budaya kepada anak-anak. Melalui congklak, anak-anak diajarkan untuk bersikap jujur, sabar, sportif, bekerja sama, serta memahami konsep perhitungan dasar secara sederhana. Sayangnya, seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup digital, permainan tradisional ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda, khususnya anak-anak sekolah dasar, yang lebih akrab dengan permainan berbasis gawai dan media digital.

Fenomena ini menjadi keprihatinan bersama, mengingat lunturnya minat anak-anak terhadap permainan tradisional berpotensi memutus mata rantai pewarisan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi berikutnya. Dalam konteks pendidikan dasar, penting bagi sekolah untuk tidak hanya mengajarkan mata pelajaran akademik, tetapi juga nilai-nilai budaya bangsa agar peserta didik memiliki kebanggaan terhadap identitas nasionalnya. Salah satu cara efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal adalah melalui pengenalan kembali permainan tradisional seperti congklak yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan.

Permainan tradisional congklak memiliki keunggulan tersendiri sebagai media pendidikan karakter. Di dalam permainan ini tersimpan nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, pengendalian diri, tanggung jawab, serta kemampuan bekerja sama. Selain itu, congklak juga melatih kecerdasan logika dan keterampilan berhitung dasar secara sederhana, sehingga sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran anak usia sekolah dasar. Penggunaan congklak dalam proses pembelajaran dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis, strategis, dan terencana, sekaligus mengasah keterampilan sosial melalui interaksi langsung antar teman. Dalam situasi seperti ini, terjadi proses pembelajaran tidak langsung (implicit learning) yang sarat dengan muatan budaya bangsa.

Manfaat pengenalan nilai kearifan lokal melalui bermain

Dalam permainan congklak tadi disampaikan bahwa dalam bermain itu akan mengajarkan anak untuk  bersikap jujur, sabar, sportif, bekerja sama, serta memahami konsep perhitungan dasar secara sederhana dan salah satu cara efektif untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal adalah melalui pengenalan kembali permainan tradisional.

Kesimpulan

Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom), dan lokal (local). Secara umum maka local wisdom atau kearifan lokal dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Bermain adalah sarana efektif untuk menanamkan nilai kearifan lokal karena dengan permainan contohnya “congklak” itu dapat menumbuhkan kecintaan terhadap budaya secara sederhana dan salah satu cara efektif menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal.

Kita sebagai pendidik harus menjadi fasilitator sekaligus teladan bagi anak dalam mengenalkan nilai-nilai lokal salah satunya dengan bermain, walaupun di era modern yang dimana tantangannya sangat luar biasa  itu  pendidik dituntut untuk dapat menjadikan peserta didiknya faham akan hal kearifan lokal dan tentunya ini juga butuh dukungan dari keluarga,sekolah dan masyarakat.

Leave a Reply