SURAU DIGITAL TUANKU PROFESSOR
Series #18 | 03 Ramadhan 1447 H
MENJEPUT RAHMAT DI MEDIO RAMADHAN
Oleh: Duski Samad
Pengasuh Surau Digital Tuanku Professor
Ramadhan berjalan perlahan, namun pasti. Tanpa terasa, kita telah sampai di medio bulan yang agung ini. Separuh perjalanan telah dilalui. Separuh lagi menanti. Di titik inilah seorang mukmin diuji: apakah ia hanya menjalani ritual, atau benar-benar sedang menjemput rahmat?
Nabi ﷺ menyebut Ramadhan sebagai bulan rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka. Medio Ramadhan adalah momentum evaluasi. Rahmat bukan sekadar suasana haru menjelang berbuka. Rahmat adalah sentuhan Allah yang mengubah hidup, mengangkat jiwa, dan membersihkan masa lalu.
Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Rahmat pertama yang harus kita jemput adalah penghapusan dosa. Banyak orang merasa berat oleh masa lalunya. Namun Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Dalam tafsir klasik, ayat ini disebut sebagai ayat paling memberi harapan. Dosa sebesar apa pun akan luluh jika hati sungguh-sungguh kembali. Medio Ramadhan adalah saat terbaik memperbanyak istighfar, meneteskan air mata, dan memohon ampun dengan kesadaran penuh.
Rahmat juga hadir dalam urusan jodoh dan keluarga. Allah menegaskan: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu mawaddah dan rahmah.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Jodoh bukan sekadar takdir biologis, tetapi rahmat. Mawaddah adalah cinta yang hangat, sedangkan rahmah adalah cinta yang bertahan saat ujian datang. Medio Ramadhan adalah saat terbaik memperbaiki komunikasi, memaafkan kesalahan, dan menumbuhkan kembali sakinah dalam rumah tangga. Banyak keluarga retak bukan karena kurang cinta, tetapi kurang rahmat.
Rahmat juga tampak dalam kecukupan hidup. Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki sesuai hikmah-Nya. Tidak semua kelapangan adalah kemuliaan, dan tidak semua keterbatasan adalah kehinaan. Rahmat adalah kecukupan yang menenangkan. Orang yang qana’ah—merasa cukup—seringkali lebih damai daripada yang berlimpah harta. Ramadhan mendidik kita mengendalikan nafsu konsumsi, menumbuhkan empati sosial, dan menyadari bahwa berbagi justru membuka pintu rezeki.
Lebih dalam lagi, rahmat melahirkan sakinah. Allah berfirman:
> “Dialah yang menurunkan sakinah ke dalam hati orang-orang beriman.”
(QS. Al-Fath: 4)
Sakinah bukan hidup tanpa masalah, melainkan tenang di tengah masalah. Ia lahir dari dzikir, tawakkal, dan kesadaran bahwa hidup ini perjalanan pulang. Medio Ramadhan adalah latihan kembali kepada fitrah—menguatkan sabar, menata niat, dan memperhalus hati.
Rahmat tidak datang kepada hati yang keras. Ia turun kepada jiwa yang merendah, yang memohon, yang mau mengakui salah, dan yang bersedia memaafkan. Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membersihkan kesombongan dan mengikis ego.
Kini pertanyaannya sederhana namun dalam:
Sudahkah rahmat benar-benar kita jemput?
Ataukah ia hanya lewat di hadapan kita?
Semoga pada akhir Ramadhan nanti, kita tidak hanya mendapatkan lapar yang berkurang, tetapi dosa yang dihapus. Tidak hanya menahan diri, tetapi menemukan sakinah. Tidak hanya menunggu maghrib, tetapi benar-benar pulang kepada Allah dengan hati yang lebih bersih.
Medio Ramadhan adalah panggilan sunyi:
Kembali.
Bersihkan.
Perbaiki.
Dan jemput rahmat sebelum ia berlalu. 🌙


