Misteri dan Tradisi Panjang Jimat: Menggali Jejak Sejarah Nyimas Gandasari di Panguragan

Misteri dan Tradisi Panjang Jimat: Menggali Jejak Sejarah Nyimas Gandasari di Panguragan

Oleh:

Muhamad Kholilurrohman, Hasna Maritza Ilmi Dwi Cahya, Agnia Nurkhasanah

Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Cirebon, [20 September 2025] – Tradisi Panjang Jimat yang dianggap suci di Panguragan, Cirebon, memiliki akar yang dalam dalam cerita seorang tokoh legendaris, Nyimas Ratu Mas Gandasari. Berdasarkan kisah yang beredar di daerah tersebut, Nyimas Gandasari berasal dari Aceh dan dibawa ke Jawa oleh Ki Walang Sungsang, atau yang dikenal sebagai Mbah Kuwu Sangkan, anak dari Prabu Siliwangi, ketika ia masih bayi. Ia dibesarkan dan menerima pendidikan di Pamuragan, yang dahulu dikenal sebagai Pengusen, hingga akhirnya menjadi murid dari Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kecantikan dan kekuatannya menarik perhatian banyak bangsawan dari kerajaan-kerajaan sekitar, termasuk Bayalangu dan Lemah Tambak, yang ingin meminangnya.

Dengan banyaknya pelamar,Mbah Kuwu Sangkan mengadakan sebuah perlombaan. Aturannya adalah siapa pun yang dapat mengungguli kemampuan Nyimas Gandasari, berhak untuk menikahinya. Meski banyak yang mencoba, tidak ada satu pun yang mampu menang atas kesaktiannya. Hingga suatu saat, datang seorang pria berambut panjang dari Sam, yang dikenal sebagai Syekh Magelung Sakti, yang awalnya tidak datang untuk mencari pasangan, tetapi untuk memotong rambutnya.

Pertemuan yang tidak terduga terjadi di desa Karang Getas. Mbah Kuwu Sangkan sudah mengetahui bahwa Syekh Magelung akan datang, jadi ia berpura-pura sebagai seorang petani. Saat Syekh Magelung berpaling, Mbah Kuwu langsung memotong rambutnya. Syekh Magelung lalu mencari orang yang memotong rambutnya dan akhirnya sampai ke tempat acara sayembara. Di sana, ia berhasil memilih Nyimas Gandasari. Nyimas Gandasari kemudian meminta bantuan kepada ayahnya, Mbah Kuwu, dan akhirnya Syekh Magelung, yang kemudian dikenal sebagai Syekh Magelung Sakti, menjadi menantunya. Pernikahan ini menjadi awal dari sejarah penting di wilayah tersebut.

Desa Panguragan di pugar kan oleh NY.H.Marie Elina Ratuhundya pada tanggal 6 Maret 1991.

Tradisi Panjang Jimat adalah acara tahunan yang digunakan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merayakan ulang tahun peristiwa sejarah.Secara langsung, Panjang Jimat adalah kegiatan mengarak pusaka kuno seperti keris dan tombak yang sudah dimandikan (dikeramatkan) serta mengiringi tumpeng. Tumpeng yang diarak itu secara simbolis diambil dari lumbung keramat yang merupakan peninggalan leluhur.

Acara utama Panjang Jimat dilaksanakan pada tanggal 12 dan 13 bulan Mulud menurut kalender Jawa. Pada Malam hari, sekitar b’da maghrib, diawali dengan proses pengantaran pusaka dan tumpeng, berkeliling area Panguragan, yang berlangsung selama sekitar dua jam. Setelah proses pengantaran selesai, dilanjutkan dengan marhabanan, yaitu pembacaan selawat yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Setelah marhabanan selesai, tumpeng keramat tersebut dibagikan kepada warga sekitar.

Tumpeng dalam tradisi ini memiliki ciri khas khusus, yaitu terbuat dari beras yang belum digiling, melainkan langsung disisir (disebut juga bubuk lulut). Bubuk lulut ini berasal dari hasil panen lumbung keramat. Bubuk lulut serta nasi dari tumpeng ini diyakini memiliki kekuatan spiritual dan dicari oleh masyarakat untuk berbagai tujuan seperti pengasihan, kesuburan sawah, atau kelancaran usaha.

Keris pusaka yang dibawa sebelumnya setiap tahun menjalani ritual mandi. Air yang digunakan untuk memandikan keris ini juga dicari masyarakat. Mereka meminta air tersebut untuk tujuan yang berkaitan dengan agama atau kepercayaan, seperti penyembuhan, kecintaan, dan kesuburan. Hal ini menunjukkan keyakinan yang sangat dalam terhadap benda-benda peninggalan leluhur.

Pertunjukan Panjang Jimat dulu melibatkan banyak kreativitas, termasuk membuat miniatur yang menyerupai makhluk “mengerikan” seperti buta (beruk) atau ular.Namun, sekarang aktivitas tersebut sudah dilarang. Karnaval kini lebih menekankan pada pengiringan tumpeng jimat dengan nuansa yang lebih agamis, menghormati Nabi Muhammad SAW, serta diisi dengan membaca selawat, sehingga menghilangkan unsur-unsur yang dianggap tidak sesuai.

Tempat di mana tradisi ini diadakan adalah bekas wilayah kerajaan yang kini dikenal sebagai Keraton Nyimas Gandasari, dan di sini pula terdapat makamnya. Selain makam, masih ada beberapa peninggalan bersejarah seperti lumbung, pendaringan, dan beberapa sumur keramat, seperti Sumur Tutup dan Sumur Kejayaan. Sumur-sumur ini sering digunakan oleh pengunjung untuk mandi dengan tujuan spiritual, seperti mencari jodoh, meningkatkan aura, atau memperlancar usaha.Meskipun sering dipahami salah, kunjungan spiritual ke Keraton Nyimas Gandasari bukanlah untuk pesugihan, melainkan untuk meminta karomah, yaitu berkah atau daya spiritual.Pecinta yang datang biasanya meminta tiga hal yang diyakini terkait dengan tiga tokoh utama: Nyimas Gandasari (untuk memperkuat mahabbah atau pengasihan), Nyimas Saptarengga (untuk perlindungan dan pengawasan usaha), serta Nyimas Panguragan (untuk mengadili atau membalas rasa sakit hati secara spiritual).

Bronisław Malinowski (Ahli Antropologi Klasik)

Metode utama: Penelitian Lapangan Terlibat (Participant Observation). Malinowski menekankan pentingnya tinggal bersama dengan masyarakat yang diteliti dalam waktu lama, berpartisipasi aktif dalam kehidupannya sehari-hari, dan memahami budaya dari sudut pandang warga setempat (emic perspective). Ia juga mengutamakan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan dokumentasi kehidupan sehari-hari.