MTQ SYIAR PERADABAN:
Membumikan Al-Qur’an untuk Meneguhkan Sabar dan Ikhlas di Tengah Musibah Zaman. Dari Kompetisi Tilawah Menuju Gerakan Tazkiyah Sosial dan Ketahanan Spiritual Umat
Oleh: Duski Samad
MTQ Bukan Sekadar Lomba
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sering dipersepsikan semata sebagai ajang perlombaan membaca Al-Qur’an dengan kaidah tajwid dan keindahan suara. Padahal, dalam hakikatnya, MTQ adalah syiar peradaban—media strategis untuk membumikan Al-Qur’an di tengah perubahan zaman yang ditandai oleh krisis ekologis, bencana kemanusiaan, keguncangan moral, dan kegamangan spiritual.
Di saat musibah datang silih berganti—banjir bandang, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial—umat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan material. Umat membutuhkan keteguhan batin, dan itulah yang disemai oleh Al-Qur’an: sabar, ikhlas, dan harapan.
Al-Qur’an sebagai Sumber Keteguhan Jiwa
Allah Swt. menegaskan: “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Isrā’: 82)
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya bacaan ritual, melainkan obat bagi luka batin dan rahmat dalam situasi krisis. MTQ, ketika dimaknai sebagai syiar, berfungsi menghidupkan relasi umat dengan Al-Qur’an—bukan hanya di mimbar lomba, tetapi dalam kehidupan nyata.
Dalam konteks musibah, Al-Qur’an mengajarkan sikap sabar aktif: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Sabar dalam Al-Qur’an bukan kepasrahan yang lumpuh, melainkan ketahanan moral dan spiritual yang mendorong ikhtiar dan solidaritas sosial.
Cinta Al-Qur’an sebagai Pondasi Akhlak
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)
Hadis ini menempatkan relasi dengan Al-Qur’an sebagai indikator kualitas manusia dan masyarakat. Ulama seperti Imam al-Ghazali menegaskan bahwa Al-Qur’an harus dihidupkan dalam qalb (hati), bukan berhenti di lisan. Jika MTQ hanya melahirkan juara suara, tetapi gagal melahirkan jiwa Qur’ani, maka ia kehilangan ruhnya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam berbagai taushiyahnya menegaskan pentingnya internalisasi nilai Al-Qur’an dalam menghadapi bencana dan krisis sosial: nilai tawakal, ta’awun (tolong-menolong), keadilan, dan amanah ekologis.
MTQ sebagai Tazkiyah Sosial
Dari sudut pandang sosiologi agama, MTQ berfungsi sebagai ritual publik yang memperkuat kohesi sosial. Di tengah trauma kolektif akibat bencana, lantunan Al-Qur’an menciptakan ruang bersama untuk:
1.Pemulihan psikososial (collective healing)
2.Penguatan identitas religius dan budaya
3.Transformasi nilai dari kompetisi menuju empati
Dalam konteks masyarakat Minangkabau, MTQ sejalan dengan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ketika Al-Qur’an dibumikan, adat menemukan arah etiknya, dan masyarakat menemukan kembali daya tahan sosialnya.
MTQ yang visioner seharusnya melahirkan gerakan lanjutan: penguatan literasi Al-Qur’an, kepedulian lingkungan, etika kepemimpinan, dan keadilan sosial—bukan berhenti pada seremoni tahunan.
Dari MTQ Menuju Peradaban Qur’ani
Lebih dari sekadar kompetisi, MTQ adalah ikhtiar peradaban. Ia adalah panggilan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas moral dalam menghadapi perubahan zaman dan musibah kehidupan.
Melalui cinta Al-Qur’an, umat dibimbing untuk:
Bersabar tanpa putus asa
Ikhlas tanpa kehilangan daya juang
Bangkit tanpa meninggalkan nilai
Jika MTQ dimaknai sebagai gerakan membumikan Al-Qur’an, maka ia tidak hanya melahirkan qari dan qariah terbaik, tetapi juga masyarakat yang tangguh, berakhlak, dan berdaya di tengah ujian zaman.ds.19122025











