Nadran Tradisi dan Warisan Budaya Pesisir yang Tetap Hidup Pendekatan Sosiologis dan Historis

Nadran Tradisi dan Warisan Budaya Pesisir yang Tetap Hidup Pendekatan Sosiologis dan Historis

Oleh:

Farhatun Nida, Gery Satria Rifaldy, Putra Salman Munandar

Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Tradisi Nadran merupakan salah satu budaya pesisir Cirebon yang masih bertahan hingga kini. Berdasarkan penuturan Pak Sadi, warga sekaligus tokoh nelayan setempat, Nadran adalah bentuk sedekah laut yang sudah berlangsung turun-temurun sejak masa leluhur. Tradisi ini tetap dilaksanakan secara konsisten meskipun zaman terus berkembang. Bagi masyarakat nelayan, Nadran menjadi simbol rasa syukur atas rezeki ikan dan keselamatan saat melaut. Karena memiliki nilai historis dan religius, pelaksanaannya tidak pernah ditinggalkan. Meski terjadi perubahan dalam pelaksanaan, esensinya tetap sama dari dulu hingga sekarang.

Pelaksanaan tradisi Nadran biasanya digelar setiap hari Sabtu di bulan Oktober. Namun, tanggalnya tidak ditentukan secara pasti karena mengikuti kondisi kesepakatan masyarakat adat dan tokoh pengurus tradisi. Hari Sabtu menjadi penanda pelaksanaan karena sudah menjadi ketentuan turun-temurun yang tidak berubah sejak lama. Sebelum tradisi ini dimulai, masyarakat melakukan berbagai persiapan secara gotong royong. Bagi masyarakat pesisir, keistimewaan Nadran bukan hanya pada waktu pelaksanaannya, tetapi pada nilai kebersamaan yang terbangun selama proses persiapannya. Tradisi ini menunjukkan kuatnya rasa persatuan warga nelayan.

Salah satu prosesi utama dalam tradisi Nadran adalah pembuatan perahu kecil yang dihanyutkan ke laut sebagai simbol rasa syukur masyarakat nelayan. Perahu tersebut diberi sesaji berupa makanan, buah-buahan, hasil bumi, serta kepala kerbau dan kambing yang memiliki makna filosofis sebagai penghormatan kepada laut. Selain itu, bebauan seperti jandu atau kemenyan turut digunakan sebagai pelengkap ritual adat. Air suci juga berperan penting dalam prosesi ini, terutama untuk memandikan kepala kerbau sebagai bentuk pembersihan simbolis. Air tersebut diambil dari tujuh sungai atau muara yang dikenal sebagai tujuh pancer, mulai dari Kalijaga hingga Bondai. Tidak hanya itu, terdapat pula air dari sembilan sumur adat yang berasal dari wilayah Gunung Jati, Kanoman, dan Kesepuhan. Keseluruhan elemen ini melambangkan kesucian, keseimbangan, serta harapan masyarakat akan keberkahan dan keselamatan dalam kehidupan melaut.

Makna mendalam dari tradisi Nadran juga berkaitan dengan harapan untuk membuang kebodohan dan kesialan dari kehidupan para nelayan. Kepala kerbau, menurut penuturan Pak Sadi, dimaknai sebagai simbol kebodohan. Dengan menghanyutkannya ke laut, masyarakat berharap keburukan dan rintangan dalam mencari nafkah dapat hilang. Selain itu juga ada ritual tolak balak yang menggunakan kambing dan ayam berwarna putih dan hitam. Hal ini melambangkan upaya membersihkan diri dari penyakit, bahaya, hingga kesialan yang mungkin menghalangi keselamatan para nelayan saat melaut.

Setelah perahu dihanyutkan ke tengah laut, tradisi dilanjutkan dengan pagelaran wayang. Wayang ini memiliki fungsi sebagai ritual ruwatan atau pembersihan spiritual. Pertunjukan tersebut menceritakan sejarah laut, kehidupan ikan, serta harapan agar laut tetap menjadi sumber rezeki yang melimpah. Sosok Pangeran Budu Basu disebut sebagai simbol historis dalam tradisi Nadran, yang dipercaya dapat memberikan keberkahan bagi hasil tangkapan ikan. Setelah wayang selesai, warga mengambil air bunga dari prosesi tersebut untuk dioleskan ke perahu atau sampan masing-masing sebagai tanda berkah.

Pak Sadi mengungkapkan bahwa perubahan dalam tradisi Nadran lebih terlihat dari sisi pelaksanaannya, bukan dari nilai adat yang terkandung. Dulu, sepuh atau sesepuh kampung selalu hadir dan menjadi tokoh pengarah dalam upacara. Mereka mengawasi jalannya prosesi, memberikan nasihat, serta memimpin doa. Namun kini, sebagian sesepuh sudah tiada sehingga peran tersebut banyak dilanjutkan generasi muda. Meski demikian, unsur adat dan keagamaan tetap dipertahankan. Generasi muda menjalankan tradisi ini dengan tetap memegang nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Tradisi Nadran juga memiliki nilai sosial yang kuat karena menjadi ajang silaturahmi dan kebersamaan warga dari berbagai kampung nelayan. Menurut Pak Sadi, terdapat tiga daerah utama yang berpartisipasi, yaitu Cangkol, Dan Pesisir. Sunian biasanya ikut serta dengan bergabung di wilayah Cangkol karena jumlah nelayannya tidak terlalu besar. Semua nelayan ikut terlibat baik dalam persiapan maupun pelaksanaan. Tradisi ini membentuk ikatan sosial yang sulit ditemukan pada kegiatan modern. Ikatan emosional ini membuat masyarakat merasa memiliki dan berkewajiban menjaga kelestarian tradisi.

Tradisi Nadran mendapat dukungan besar dari pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, termasuk pendanaan dan fasilitas rutin setiap tahun. Pelaksanaannya biasanya dipersiapkan sejak Juli atau Agustus dan sering menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Cirebon, yang menegaskan posisinya sebagai identitas budaya kota.

Tradisi Nadran di Cirebon yang digelar baru-baru ini turut dihadiri oleh berbagai perwakilan dan pejabat dari Pemerintah Daerah, baik dari Kota maupun Kabupaten Cirebon. Pembukaan acara dilakukan oleh Drs. Agus Sukman Jaya yang hadir mewakili Wali Kota Cirebon.

Terkait wisatawan mancanegara, meskipun belum ada data resmi mengenai jumlah turis asing yang datang, dapat dipastikan bahwa penyelenggaraan Nadran memang diarahkan untuk menarik minat wisatawan dan memperkuat daya tarik pariwisata daerah.

Pak Sadi berharap dukungan pemerintah semakin kuat guna membantu kesejahteraan nelayan yang menghadapi kendala seperti pendangkalan sungai dan tingginya biaya melaut. Tradisi ini juga menarik perhatian akademisi dan jurnalis dari berbagai daerah, menunjukkan nilai budaya yang terus hidup. Selama masyarakat menjaganya, Nadran diyakini tidak akan hilang dan tetap menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Leave a Reply