NILAI KEMANUSIAAN YANG MEMIHAK: RELEVANSI ANTARA NILAI GUS DUR BAGI RAKYAT KECIL DAN TOLERANSI
Oleh
Riska Nanda Lestari
Institut Darul Falah Bandung Barat
Dewasa ini, keberpihakan sering sekali disalahartikan sebagai kebencian. Apalagi di era informasi yang semakin maju namun minimnya etika bermedia, perpecahan sangat mudah diciptakan serta menyebar di tengah-tengah masyarakat. Sebagai mahasiswa, saya sangat merasa miris dengan fenomena akhir-akhir ini, di mana nalar sering kalah oleh emosi, dan kebenaran tertutup oleh kebisingan opini-opini yang tersebar di berbagai platform media sosial. Namun di tengah situasi ini, saya menemukan arti nilai keberpihakan serta toleransi dari sosok presiden Republik Indonesia yang ke empat, yakni Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur.
Dari kisah-kisah kecil yang dituliskan oleh orang terdekat Gus Dur, saya mengenal Gus Dur bukan sebagai presiden, melainkan sebagai manusia yang penuh empati juga sebagai manusia yang hadir serta mampu memanusiakan manusia. Bukan melalui pidato yang diagung-agungkan orang banyak, bukan melalui pencitraan di media sosial, melainkan melalui sikap-sikap sederhana Gus Dur yang kadang luput dari sorotan. Justru dari kesederhanaan beliau itulah nilai-nilai kemanusiaan tumbuh dan hidup —bukan hadir hanya sebagai jargon kebangsaan. Cara beliau mendengar tanpa menghakimi, memeluk tanpa membedakan dan membela masyarakat yang lemah tanpa syarat. Bagi Gus Dur, keberpihakan bukan soal siapa yang paling kuat dan lemah, tetapi siapa yang paling membutuhkan perlindungan.
Keberpihakan Gus Dur bukanlah suatu keberpihakan yang di dalamnya terdapat unsur politik, melainkan keberpihakan yang lahir dari keberanian pribadi Gus Dur dalam membela mereka tanpa melihat latar belakang, baik dalam agama, suku maupun status sosial. Salah satu gambaran dari kepribadian tersebut terekam dalam kisah yang dituturkan oleh Imam Anshori Sholeh. Di sela-sela kesibukan beliau sebagai orang nomor satu di negeri ini, Gus Dur tetap berkenan hadir ketika diundang untuk meresmikan sebuah masjid sederhana yang terletak di Seturan, Sleman. Sangat mungkin bahwa undangan tersebut tampak kecil dan jauh dari sorotan media besar, namun bagi Gus Dur, kehadiran di tengah masyarakat adalah bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa dilewatkan.
Keberpihakan Gus Dur yang tulus berjalan seiring dengan nilai toleransi yang beliau pegang sepanjang hayat. Cara Gus Dur dalam memandang perbedaan —baik perbedaan agama, suku maupun cara berpikir— adalah dengan melihat bahwa hal tersebut merupakan suatu kenyataan serta kekayaan yang perlu dirawat serta tidak perlu dipertentangkan. Pandangan beliau ini sangat terasa relevan dengan melihat realitas media sosial hari ini yang kerap dipenuhi polaritas, saling curiga, bahkan saling menyerang karena perbedaan pandangan. Ruang digital yang semestinya digunakan sebagai ruang diskusi atau kegiatan positif lainnya, sering berubah menjadi medan pertempuran emosi serta adu pendapat yang menyebabkan kebencian. Di tengah situasi tersebut, sikap toleran sosok Gus Dur hadir sebagai kekuatan moral karena di dalam sikap beliau terdapat kelapangan hati, serta keberanian untuk tetap menghormati sesama di tengah perbedaan.
Sebagai mahasiswa yang tengah mempersiapkan diri sebagai pendidik di masa mendatang, saya belajar dari Gus Dur bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal mengajar dan mendidik, tetapi juga membentuk moral dan budi pekerti luhur mengenai keberanian untuk berpihak pada yang lemah serta menghormati perbedaan dengan penuh keadaban. Di ruang kelas nanti, saya tidak hanya ingin menyampaikan ilmu, tetapi juga menanamkan kepekaan terhadap sesama, terutama kepada mereka yang sering berada di posisi lemah. Dari Gus Dur juga saya diajarkan bahwa membela tanpa membenci dan menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip adalah sikap yang harus terus dirawat dan dijadikan pegangan sepanjang hayat. Nilai inilah yang ingin saya hidupkan dalam proses mendidik: mengajar dengan ketulusan, membimbing dengan empati, dan memanusiakan setiap peserta didik tanpa kecuali.
Nilai-nilai kemanusiaan keperpihakan kepada minoritas tanpa membeda-bedakan serta sikap toleransi terhadap perbedaan tanpa terkecuali yang dicontohkan Gus Dur sudah seyogyanya tidak berhenti sebagai cerita yang dikagumi, tetapi tumbuh dalam tingkah laku sehari-hari. Barangkali tidak selalu dalam tindakan yang besar, melainkan memulai dengan hal-hal kecil mengenai bagaimana kita bersikap terhadap sesama tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling melukai.






