PARADOKS KELUARGA DIGITAL
Tinggal Serumah, tetapi Hidup dalam Layar Masing-Masing
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Ada pemandangan yang semakin biasa dalam keluarga hari ini. Ayah, ibu, dan anak-anak berada dalam satu rumah, bahkan duduk berdekatan di ruang keluarga, tetapi masing-masing sibuk dengan layar. Ayah membuka WhatsApp dan mengikuti berbagai informasi, ibu menjelajahi media sosial, anak bermain gim, sementara remaja menikmati video pendek dengan earphone di telinganya. Mereka berada pada tempat yang sama, tetapi pikiran, perhatian, dan emosinya sedang berada di dunia yang berbeda.
Inilah paradoks keluarga digital: tinggal serumah, tetapi hidup dalam layar masing-masing. Teknologi yang dirancang untuk mendekatkan manusia ternyata dapat melahirkan jarak baru. Kita dapat berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi kadang-kadang tidak mengetahui kegelisahan anak yang tidur di kamar sebelah.
Tentu teknologi bukan musuh keluarga. Internet, telepon pintar, media sosial, dan kecerdasan buatan telah memberikan manfaat luar biasa bagi pendidikan, pekerjaan, dakwah, ekonomi, dan komunikasi. Persoalan muncul ketika teknologi mengambil ruang yang seharusnya diisi oleh percakapan, perhatian, keteladanan, sentuhan kasih sayang, dan pendidikan keluarga.
Krisis Pengasuhan, Bukan Sekadar Krisis Anak
Ketika terjadi tawuran pelajar, perundungan, kekerasan, penyalahgunaan narkoba, pornografi, ataupun berbagai perilaku menyimpang remaja, perhatian masyarakat dengan cepat diarahkan kepada anak. Muncul keluhan bahwa anak sekarang semakin sulit diatur, generasi muda semakin berani, atau media sosial telah merusak perilaku mereka.
Penilaian seperti itu mungkin memiliki dasar, tetapi tidak cukup jika semua persoalan dibebankan kepada anak. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: di mana orang dewasa ketika anak-anak itu sedang bertumbuh?
Di mana ayah dan ibu ketika anak mulai mengenal dunia? Di mana keluarga ketika anak mengalami kegelisahan? Di mana sekolah ketika anak mencari jati dirinya? Di mana masyarakat ketika remaja membutuhkan ruang untuk menyalurkan energi? Dan di mana surau ketika generasi muda sedang membutuhkan nilai, keteladanan, dan lingkungan pergaulan yang sehat?
Krisis anak sering kali merupakan permukaan dari krisis yang lebih dalam, yaitu krisis ekosistem pengasuhan. Anak tidak tiba-tiba menjadi pelaku tawuran, pecandu narkoba, atau pelaku kekerasan. Perilaku manusia dibentuk melalui proses panjang yang melibatkan pengalaman keluarga, lingkungan pergaulan, teman sebaya, tontonan, pendidikan, pengalaman emosional, kebutuhan akan penerimaan, dan nilai yang terus dikonsumsi.
Karena itu, razia, hukuman, dan penindakan tetap diperlukan dalam batas tertentu, tetapi semuanya bekerja di hilir. Pencegahan yang lebih mendasar harus menyentuh hulunya, yaitu keluarga dan kualitas pengasuhan.
Siapa yang Sebenarnya Mengasuh Anak Kita?
Pertanyaan keluarga modern tidak lagi cukup berhenti pada berapa jam anak menggunakan telepon pintar. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: siapa yang sedang mengasuh pikiran, emosi, selera, dan jiwa anak melalui telepon pintar itu?
Pada masa lalu, sumber pembentukan nilai anak relatif mudah dikenali. Ada ayah, ibu, guru, mamak, ninik mamak, lingkungan kampung, sekolah, masjid, dan surau. Sekarang semua lembaga pendidikan tersebut harus berbagi ruang dengan TikTok, YouTube, Instagram, gim daring, influencer, komunitas virtual, dan kecerdasan buatan.
Algoritma bahkan dapat mengenali kecenderungan seorang anak dengan sangat cepat. Ia mengetahui video apa yang ditonton sampai selesai, konten apa yang dilewati, siapa yang diikuti, apa yang dicari, dan tema apa yang membuat seseorang bertahan lebih lama di depan layar. Berdasarkan jejak itu, layar terus menawarkan konten berikutnya.
Ketika keluarga tidak cukup kuat memberikan nilai, dunia digital tidak pernah berhenti menawarkan nilai alternatif. Di sinilah persoalan menjadi serius. Algoritma tidak bekerja berdasarkan kepentingan pendidikan anak, tetapi terutama berdasarkan perhatian dan keterlibatan pengguna.
Maka sangat mungkin seorang anak mempunyai orang tua lengkap, rumah yang bagus, sekolah yang baik, gawai terbaru, dan internet tanpa batas, tetapi mengalami kemiskinan perhatian. Secara metaforis, keadaan seperti ini dapat disebut sebagai “yatim digital”. Bukan yatim karena kehilangan ayah atau ibu secara biologis, tetapi mengalami kekurangan kehadiran emosional orang tua.
Ayah ada, tetapi bukan tempat bercerita. Ibu ada, tetapi tidak mengetahui kegelisahan anak. Rumah tersedia, tetapi anak justru lebih nyaman mencurahkan isi hatinya kepada orang yang tidak dikenalnya secara nyata di dunia maya.
Tawuran dan Narkoba: Mencari Identitas di Tempat yang Salah
Masa remaja adalah fase pencarian identitas. Remaja ingin diakui, dihargai, diterima, dianggap berani, dan menjadi bagian dari kelompok. Kebutuhan psikologis itu sebenarnya wajar. Persoalan muncul ketika keluarga dan lingkungan sosial tidak menyediakan ruang yang sehat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Tawuran, misalnya, tidak selalu dapat dijelaskan sebagai kenakalan semata. Di balik tindakan itu dapat bekerja kebutuhan akan solidaritas, gengsi kelompok, keberanian, eksistensi, loyalitas, dan pengakuan teman sebaya. Anak ingin dianggap “ada” oleh kelompoknya.
Demikian pula narkoba. Pencegahan tidak cukup dengan mengatakan bahwa narkoba berbahaya. Sebagian anak terjerumus karena pergaulan, tekanan teman sebaya, rasa ingin tahu, pelarian dari persoalan keluarga, kekecewaan, ataupun kebutuhan memperoleh penerimaan sosial.
Di sinilah keluarga harus menjadi ruang penerimaan pertama, sebelum anak mencari penerimaan di jalanan. Anak yang merasa dihargai, didengar, dan diterima di rumah mempunyai modal psikologis yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan lingkungan.
Islam Memulai Pendidikan dari Keluarga
Islam sejak awal menempatkan keluarga sebagai institusi pendidikan yang sangat menentukan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa menjaga keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan material. Membayar biaya sekolah, menyediakan makanan, pakaian, kendaraan, kamar, telepon pintar, dan kuota internet tentu merupakan bagian dari tanggung jawab. Namun tanggung jawab orang tua jauh melampaui itu. Ada amanah menjaga iman, akhlak, adab, karakter, dan masa depan ruhani anak.
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam keluarga digital, tanggung jawab tersebut semakin kompleks. Dahulu orang tua terutama menjaga pintu rumah agar anak terlindungi dari bahaya luar. Kini ada pintu digital yang terbuka dua puluh empat jam dan dapat membawa dunia luar langsung masuk ke kamar anak.
Karena itu, kemampuan orang tua memahami dunia digital bukan lagi sekadar pilihan. Ia telah menjadi bagian dari kompetensi pengasuhan.
Dari Parental Control Menuju Self-Control
Pengawasan orang tua tetap diperlukan. Anak membutuhkan aturan tentang waktu penggunaan gawai, jenis tontonan, aktivitas media sosial, waktu belajar, istirahat, dan interaksi digital. Namun pengawasan orang tua mempunyai keterbatasan. Ayah dan ibu tidak mungkin berada di samping anak dua puluh empat jam sehari.
Tujuan tertinggi pendidikan karena itu bukan sekadar parental control, tetapi melahirkan self-control, kemampuan anak mengendalikan dirinya ketika tidak ada orang yang mengawasi.
Dalam khazanah tasawuf, pengendalian diri memperoleh fondasi spiritual melalui konsep muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah mengetahui dan mengawasi manusia. Allah SWT berfirman, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat” (QS. Qaf [50]: 18).
Pesan ayat tersebut menjadi sangat relevan di dunia digital. Akhlak tidak berhenti ketika seseorang memegang telepon pintar. Apa yang ditulis adalah bagian dari amal. Apa yang dikomentari adalah bagian dari amal. Apa yang dibagikan mempunyai konsekuensi moral. Bahkan apa yang terus-menerus ditonton akan perlahan membentuk pikiran, selera, dan jiwa.
Generasi muda membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai muraqabah digital: kemampuan menghadirkan kesadaran kepada Allah ketika berhadapan dengan layar. Pendidikan berhasil ketika anak mampu mengatakan, “Saya tidak melakukan ini bukan semata-mata karena takut diketahui ayah, ibu, atau guru, tetapi karena saya sadar Allah mengetahui apa yang saya lakukan.”
Smart Surau: Mengembalikan Ekosistem Pengasuhan
Dalam tradisi Minangkabau, keluarga sesungguhnya tidak pernah bekerja sendirian dalam mendidik generasi. Ada rumah, sekolah, masyarakat, ninik mamak, dan terutama surau. Surau bukan sekadar bangunan tempat shalat. Secara historis, surau adalah ruang pendidikan, mengaji, pembentukan karakter, sosialisasi, belajar adat, pembinaan spiritual, serta tempat generasi muda memperoleh teladan dari orang-orang yang lebih dewasa.
Dalam konteks inilah Smart Surau memperoleh relevansinya. Smart Surau seharusnya tidak dipahami sebatas menyediakan internet di masjid atau membawa perangkat digital ke dalam surau. Jika hanya itu, kita mungkin sekadar memindahkan layar dari rumah ke surau.
Smart Surau harus dimaknai lebih substantif sebagai upaya menjadikan surau ruang pembelajaran generasi digital yang berbasis agama, akhlak, interaksi sosial, dan teknologi yang sehat. Anak mengaji, shalat berjamaah, belajar adab, bertemu guru, berinteraksi dengan teman secara nyata, sekaligus memperoleh literasi digital yang memampukannya menggunakan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Teknologi tidak ditolak, tetapi diarahkan. Digitalisasi tidak dimusuhi, tetapi diberi nilai. Kemajuan tidak dihentikan, tetapi dibimbing oleh iman dan akhlak.
Dengan demikian, Smart Surau dapat menjadi titik temu antara iman, ilmu, adat, teknologi, dan kehidupan sosial. Di sanalah falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah memperoleh aktualisasi baru di tengah masyarakat digital.
Kembalikan Maghrib kepada Keluarga dan Surau
Tidak semua solusi membutuhkan anggaran besar. Ada ikhtiar sederhana yang dapat dimulai dari setiap rumah: kembalikan waktu Maghrib kepada keluarga dan surau.
Dari Maghrib sampai Isya, gawai dapat diletakkan sejenak. Gim dihentikan. Video ditutup. Televisi dimatikan. Keluarga shalat berjamaah. Anak mengaji atau pergi ke surau. Setelah itu tersedia ruang untuk makan dan berbicara bersama.
Orang tua dapat bertanya tentang sekolah, teman, aktivitas harian, atau sesuatu yang sedang viral di media sosial anak. Namun yang lebih penting, dengarkan sebelum menasihati dan pahami sebelum menghakimi.
Banyak anak sesungguhnya tidak kekurangan ceramah. Mereka kekurangan orang dewasa yang bersedia mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh.
Percakapan sederhana yang dilakukan terus-menerus akan membangun kepercayaan. Dari kepercayaan lahir keterbukaan. Dari keterbukaan orang tua dapat mengetahui persoalan anak sebelum masalah tersebut berkembang menjadi lebih berat.
Jangan Sampai Wi-Fi Lebih Kuat daripada Ikatan Keluarga
Kita tidak mungkin menghentikan revolusi digital. Kecerdasan buatan akan semakin canggih, algoritma semakin mengenali perilaku manusia, media sosial terus berubah, dan dunia virtual akan semakin menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, yang perlu diperkuat bukan tembok untuk menghalangi teknologi, melainkan manusia yang menggunakannya.
Anak membutuhkan iman sebagai kompas, akhlak sebagai batas, ilmu sebagai alat memilih, keluarga sebagai tempat pulang, dan surau sebagai ruang pembentukan jiwa.
Jangan sampai rumah memiliki jaringan Wi-Fi yang kuat, tetapi hubungan ayah, ibu, dan anak justru kehilangan sinyal. Jangan sampai perangkat semakin pintar, sementara hubungan antarmanusia semakin dangkal.
Ada saatnya layar harus diletakkan dan wajah anak kembali dipandang. Ada saatnya notifikasi tidak perlu segera dijawab karena suara anak jauh lebih penting untuk didengarkan. Ada saatnya keluarga harus kembali makan bersama, shalat bersama, mengaji, bercanda, berdiskusi, dan saling mendoakan.
Sebab keluarga bukan sekadar sekumpulan orang yang tercatat dalam satu Kartu Keluarga dan tinggal pada alamat yang sama. Keluarga adalah perjumpaan hati, kehadiran, perhatian, keteladanan, kasih sayang, dan tanggung jawab.
Teknologi semestinya mendekatkan yang jauh tanpa menjauhkan yang dekat.
Rumah harus kembali menjadi ruang kasih sayang, sekolah menjadi ruang pendidikan, masyarakat menjadi ruang perlindungan, dan surau menjadi ruang pembentukan jiwa. Dengan ekosistem seperti itulah kita dapat berharap lahir generasi yang bukan hanya cerdas secara digital, tetapi juga sehat secara psikologis, matang secara sosial, kokoh secara spiritual, dan mulia secara moral.28082026
