SMART SURAU: MENJEMPUT ANAK SEBELUM JALANAN MENGAMBILNYA
Oleh: Duski Samad
Alarm dari Generasi Muda
Tawuran, narkoba, perundungan, dan kekerasan terhadap anak yang terjadi di Kota Padang sepanjang 2024–2025 tidak dapat lagi dipandang sebagai kasus-kasus yang berdiri sendiri. Jika tawuran hanya dianggap persoalan keamanan, narkoba urusan kepolisian, bullying urusan sekolah, dan kekerasan anak urusan keluarga, maka penyelesaiannya akan selalu bersifat parsial.
Data yang tersedia memberikan alarm serius. Januari–Juli 2024 sedikitnya tercatat 11 kejadian tawuran di Kota Padang. Agustus 2024, seorang remaja berusia 16 tahun bahkan kehilangan pergelangan tangan akibat sabetan senjata tajam dalam tawuran di Lubuk Begalung. Persoalan berlanjut pada 2025. Sejumlah remaja kembali diamankan dan pada September 2025 tawuran di kawasan Pauh menyebabkan seorang pelajar meninggal dunia.
Narkoba juga telah menyentuh anak usia sekolah. Januari–April 2024, delapan siswa SMP di Kota Padang berurusan dengan narkotika dan disebut dimanfaatkan sebagai kurir. Data BAPAS Kelas I Padang menunjukkan dari 60 Anak Berhadapan dengan Hukum pada 2024, perkara narkoba merupakan kategori terbanyak, yakni 15 kasus.
Kekerasan terhadap anak juga memerlukan perhatian. Pada 2024 tercatat 78 kasus kekerasan terhadap anak, termasuk 31 kasus kekerasan seksual. Sementara penelitian terhadap 266 siswa pada dua SMP di Padang yang berlangsung Oktober 2024–April 2025 menemukan 54,1 persen responden berada dalam kategori perilaku bullying tinggi. Angka penelitian dua sekolah tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai prevalensi seluruh siswa Kota Padang, tetapi cukup menjadi alarm.
Jika data tersebut disandingkan, persoalannya bukan lagi sekadar kenakalan anak. Kita sedang berhadapan dengan kerentanan ekosistem pengasuhan generasi.
“Jam Kosong” Pendidikan Anak
Pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa anak tawuran atau mengenal narkoba. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang mendampingi anak setelah mereka keluar dari pagar sekolah?
Sekolah memiliki batas waktu. Guru tidak mungkin mengawasi siswa selama 24 jam. Orang tua memiliki pekerjaan dan berbagai kesibukan. Sementara telepon pintar, media sosial, game dan dunia digital hadir hampir tanpa batas.
Muncullah apa yang dapat disebut sebagai “jam kosong pendidikan”: sore, malam, akhir pekan dan masa liburan ketika anak tidak berada dalam pendampingan efektif sekolah ataupun keluarga.
Ruang itu sesungguhnya tidak pernah kosong. Ketika keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mengisinya, dunia lain segera mengambil alih. Kelompok sebaya, jalanan, konten kekerasan, pornografi, perjudian daring, bahkan jaringan narkoba dapat hadir sebagai “guru baru”.
Ketika seorang remaja merasa lebih diterima kelompok tawuran daripada keluarganya, persoalannya bukan hanya kenakalan. Ada kebutuhan psikologis dan sosial yang gagal dipenuhi lingkungan pendidikan anak.
SMART SURAU Menjawab Ruang Kosong
Di sinilah Program Unggulan Wali Kota Padang SMART SURAU menemukan relevansi strategisnya.
SMART SURAU jangan dipersempit hanya menjadi program mengaji atau kegiatan keagamaan tambahan bagi pelajar. Ia harus dibaca sebagai rekonstruksi ekosistem pendidikan anak berbasis surau.
Surau dalam sejarah Minangkabau memang tidak pernah hanya menjadi tempat shalat. Surau adalah tempat mengaji, pembentukan adab, belajar adat, sosialisasi, silek, kepemimpinan, kemandirian, dan pendidikan kehidupan.
Dari surau lahir urang siak, labai, Tuanku, guru mengaji, ulama dan pemimpin masyarakat. Anak nagari dibentuk bukan hanya menjadi orang yang tahu agama, tetapi manusia yang tahu diri, tahu adat, tahu malu, menghormati guru dan mampu hidup bersama masyarakat.
SMART SURAU sejatinya adalah upaya menghadirkan kembali fungsi tersebut dalam konteks generasi digital.
Dari Afirmasi Agama Menuju Proteksi Sosial
Penguatan guru mengaji, MDTW, aktivitas keagamaan siswa, dukungan fasilitas dan konektivitas internet pada masjid merupakan afirmasi keagamaan yang penting.
Namun data tawuran, narkoba dan kekerasan anak mengharuskan SMART SURAU naik satu tingkat: dari afirmasi agama menuju proteksi sosial generasi.
Keberhasilan program tidak cukup diukur dari berapa anak hadir di surau atau berapa kegiatan dilaksanakan. Ukuran keberhasilan juga perlu menyentuh dampaknya: apakah tawuran menurun, apakah anak yang terpapar narkoba berkurang, apakah bullying menurun, apakah aktivitas malam remaja lebih terkendali, dan apakah komunikasi orang tua dengan anak semakin baik?
Ketika indikator tersebut masuk dalam evaluasi, SMART SURAU telah berubah dari program kegiatan menjadi kebijakan pembangunan manusia.
Surau Harus Lebih Menarik daripada Jalanan
Mengaji tetap menjadi fondasi. Namun generasi digital membutuhkan lebih dari sekadar ruang mendengarkan ceramah.
Remaja membutuhkan pengakuan, pertemanan, kreativitas, tantangan, prestasi dan rasa memiliki. Kelompok tawuran bahkan dapat memberikan semuanya dalam bentuk yang salah: solidaritas, keberanian semu, identitas kelompok dan pengakuan teman sebaya.
Karena itu surau harus menawarkan alternatif yang lebih kuat.
SMART SURAU dapat menjadi ruang tahfiz dan mengaji sekaligus mentoring remaja, konseling sebaya, pendidikan anti-narkoba dan anti-bullying, olahraga, silek, seni, kepemimpinan, kewirausahaan serta kegiatan sosial.
Internet masjid harus diarahkan menjadi internet produktif. Anak dapat belajar kecerdasan buatan, desain, coding, produksi konten positif, literasi digital, kewirausahaan dan dakwah digital.
Prinsipnya jelas:
Surau harus lebih menarik daripada jalanan, lebih mendidik daripada algoritma media sosial, dan lebih memberikan rasa memiliki daripada kelompok tawuran.
SMART SURAU dan ABS-SBK
Program ini sekaligus dapat menjadi ruang aktualisasi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
ABS-SBK tidak cukup ditulis pada spanduk atau disampaikan dalam pidato. Ia harus hadir dalam perilaku generasi.
Anak yang memahami agama dan adat semestinya memiliki rasa malu melakukan perundungan. Remaja yang memiliki harga diri sebagai anak nagari tidak akan menganggap membawa celurit sebagai simbol keberanian. Menjadi kurir narkoba bukan kecerdikan. Menghina teman di media sosial bukan kebebasan berekspresi.
SMART SURAU dapat menjadi laboratorium sosial tempat nilai agama dan adat dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari SMART SURAU Menuju Smart Family
Namun surau tidak dapat bekerja sendirian. SMART SURAU harus bertemu dengan Smart Family.
Tidak cukup menyuruh anak pergi mengaji sementara ayah dan ibu masing-masing sibuk dengan telepon genggam. Krisis generasi digital pada tingkat tertentu juga merupakan krisis kehadiran orang tua.
Karena itu orang tua perlu menjadi bagian dari SMART SURAU. Masjid dapat menjadi tempat pendidikan parenting, komunikasi orang tua-remaja, literasi digital keluarga, pencegahan narkoba, bullying, kekerasan seksual dan kesehatan mental.
Formulanya sederhana:
anak dibina di surau, orang tua diperkuat pola asuhnya.
Keluarga dan surau tidak saling menyerahkan tanggung jawab. Keduanya bekerja bersama.
Surau sebagai Early Warning System
SMART SURAU juga berpotensi menjadi early warning system terhadap masalah anak.
Guru mengaji dan mentor yang bertemu anak secara rutin dapat mengenali perubahan perilaku: anak yang mendadak jarang hadir, menarik diri, menjadi korban bullying, mulai merokok, sering pulang larut malam atau mulai bergaul dengan kelompok berisiko.
Tentu guru mengaji bukan polisi atau psikolog. Karena itu diperlukan jejaring rujukan:
Surau → Keluarga → Sekolah → Puskesmas/Psikolog → DP3AP2KB → BNN/Kepolisian sesuai kebutuhan.
Dengan pola tersebut, intervensi dilakukan sebelum masalah menjadi kriminalitas.
Kita tidak harus menunggu seorang anak tertangkap membawa celurit untuk mulai membinanya. Tidak harus menunggu seorang pelajar menjadi kurir narkoba untuk mengenali perubahan pergaulannya.
Dari Program Unggulan Menjadi Gerakan Kota
Tawuran tidak dapat diselesaikan hanya dengan patroli. Narkoba tidak selesai hanya dengan penangkapan. Bullying tidak selesai hanya dengan hukuman sekolah. Kekerasan anak juga tidak selesai hanya dengan pelayanan setelah korban berjatuhan.
Penegakan hukum tetap diperlukan, tetapi harus dipertemukan dengan keluarga, sekolah, surau dan masyarakat.
Karena itu SMART SURAU memiliki peluang besar berkembang dari Program Unggulan Wali Kota Padang menjadi gerakan bersama Kota Padang untuk menyelamatkan generasi.
Paradigmanya harus bergerak:
Dari Surau sebagai Tempat Mengaji menuju Surau sebagai Pusat Pembinaan Generasi.
Surau yang smart bukan semata-mata surau yang memiliki internet. Surau yang smart adalah surau yang mampu membaca zaman, memahami masalah generasi, memanfaatkan teknologi, sekaligus menjaga iman, akhlak, adat dan jati diri anak nagari.
SMART SURAU harus bekerja sebelum anak memegang celurit, sebelum narkoba sampai ke tangannya, sebelum bullying berubah menjadi kekerasan, dan sebelum jalanan serta algoritma digital mengambil alih pendidikan mereka.
Jika keluarga menjadi tempat kasih sayang, sekolah menjadi tempat ilmu, surau menjadi tempat iman dan karakter, masyarakat menjadi ruang perlindungan, serta pemerintah menjadi penghubung seluruh ekosistem tersebut, maka SMART SURAU bukan sekadar program keagamaan.
SMART SURAU adalah investasi peradaban Kota Padang—menjemput anak sebelum jalanan mengambilnya, merangkul mereka sebelum narkoba mendekatinya, dan menyiapkan anak nagari yang beriman, berilmu, beradat, berakhlak, melek digital dan memiliki masa depan.28082026.
