PENCERAMAH VIRAL DAN ULAMA SURAU PENJAGA MORAL ANAK NAGARI
Oleh: Duski Samad
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat
Kegiatan tabligh akbar yang diselenggarakan Polda Sumatera Barat dengan menghadirkan Ustadz Adi Hidayat di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Padang pada 24 Februari 2026 merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Apalagi kegiatan tersebut juga diiringi dengan aksi sosial berupa santunan kepada 1.000 anak yatim, yang menunjukkan bahwa pendekatan keamanan dan pendekatan kemanusiaan dapat berjalan seiring.
Rencana menghadirkan Ustadz Abdul Somad pada 16 Maret 2026 dalam momentum Ramadhan juga menjadi langkah tepat di tengah meningkatnya antusiasme umat memakmurkan masjid. Bulan suci memang selalu menjadi ruang terbaik untuk memperkuat spiritualitas publik, dan menghadirkan penceramah nasional menjadi bagian dari upaya menjawab dahaga keagamaan masyarakat.
Dalam perspektif pembangunan sosial modern, keamanan tidak hanya ditentukan oleh kuatnya penegakan hukum, tetapi juga oleh kuatnya nilai moral masyarakat. Karena itu sinergi antara ulama dan aparat keamanan sejatinya merupakan investasi sosial jangka panjang.
Polri yang PRESISI tidak hanya dibangun dengan teknologi dan sistem, tetapi juga dengan pendekatan kultural dan spiritual.
Fenomena penceramah viral dan perubahan lanskap dakwah
Era digital telah mengubah lanskap dakwah secara signifikan. Jika dahulu pengaruh seorang dai diukur dari jumlah jamaah di masjid, hari ini pengaruh itu juga diukur dari jumlah pengikut di media sosial.
Penceramah dengan jutaan pengikut kini menjadi fenomena baru. Mereka mampu menjangkau umat lintas wilayah dalam waktu singkat. Dakwah tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.
Ini adalah perkembangan positif yang patut disyukuri.
Media digital telah membuka ruang baru bagi penyebaran ilmu agama, meningkatkan literasi keislaman masyarakat, sekaligus menarik perhatian generasi muda yang selama ini lebih dekat dengan dunia digital.
Namun di tengah fenomena itu, ada satu refleksi penting yang tidak boleh dilupakan: bahwa kekuatan moral masyarakat Sumatera Barat sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh penceramah besar yang datang pada momen tertentu, tetapi oleh ribuan ulama kampung yang bekerja dalam diam.
Ulama surau: penjaga sunyi yang menentukan arah moral masyarakat
Realitas sosial Sumatera Barat menunjukkan bahwa hampir setiap nagari memiliki masjid, musala, dan surau yang menjadi pusat pembinaan keagamaan masyarakat. Di balik itu semua ada guru mengaji, imam, khatib, dan muballigh lokal yang secara konsisten membina umat tanpa sorotan publik.
Mereka mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an setiap sore. Mereka memimpin wirid dan majelis taklim. Mereka menjadi tempat masyarakat bertanya tentang persoalan keluarga. Mereka menjadi penengah konflik sosial. Mereka membimbing generasi muda agar tidak terjerumus dalam penyimpangan moral.
Mereka mungkin tidak memiliki jutaan pengikut di media sosial.
Tetapi mereka memiliki ribuan jejak kebaikan di tengah masyarakat.
Mereka tidak viral.
Tetapi mereka vital.
Dalam kajian sosiologi agama, tokoh agama lokal seperti ini sering disebut sebagai social stabilizer, yaitu penjaga stabilitas sosial masyarakat dari dalam. Mereka adalah benteng pertama yang mencegah konflik sosial, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, hingga potensi radikalisme.
Seringkali sebelum persoalan sampai ke kantor polisi, ia sudah lebih dahulu diselesaikan oleh tokoh agama dan ninik mamak di nagari.
Artinya, tanpa disadari, ulama surau sebenarnya adalah mitra strategis aparat keamanan dalam menjaga ketertiban sosial.
Jika polisi menjaga keamanan lahiriah masyarakat, maka ulama menjaga keamanan batin masyarakat.
Jika aparat menjaga hukum, maka ulama menjaga hati.
Keadilan perhatian terhadap ulama nagari
Karena itu penting adanya keseimbangan perhatian. Menghadirkan penceramah nasional adalah langkah baik, tetapi memperkuat ulama lokal adalah langkah strategis.
Karena penceramah nasional biasanya hadir pada momentum tertentu.
Sementara ulama nagari hadir sepanjang waktu.
Mereka tidak datang ketika ada acara besar.
Mereka hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan hidup.
Mereka bukan sekadar memberi ceramah.
Mereka memberi keteladanan.
Jika penceramah nasional memberi inspirasi, maka ulama kampung memberi pembinaan berkelanjutan.
Jika dai besar menggerakkan kesadaran umat, maka ulama nagari menjaga konsistensi moral umat.
Keduanya penting dan tidak boleh dipertentangkan.
Yang dibutuhkan adalah sinergi.
Momentum Ramadhan memperkuat ekosistem dakwah lokal
Momentum Ramadhan yang menghadirkan ulama nasional seharusnya juga menjadi titik awal memperkuat ekosistem dakwah lokal melalui program yang lebih sistematis seperti:
pembinaan dai nagari
penguatan kapasitas guru mengaji
sinergi tokoh agama dengan Bhabinkamtibmas
pemberdayaan imam dan khatib masjid
dukungan program pembinaan generasi muda berbasis masjid
Jika pendekatan ini dilakukan, maka kegiatan tabligh tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi bagian dari pembangunan moral masyarakat secara berkelanjutan.
Karena dakwah yang kuat bukan yang hanya ramai sesaat, tetapi yang hidup terus menerus dalam kehidupan masyarakat.
Iman masyarakat sebagai fondasi keamanan
Dalam konteks Minangkabau, sebenarnya konsep keamanan berbasis moral sudah lama hidup dalam falsafah:
Adat Basandi Syarak
Syarak Basandi Kitabullah
Falsafah ini menegaskan bahwa masyarakat yang kuat nilai agamanya akan lebih mudah menjaga ketertiban sosialnya.
Karena orang yang kuat imannya biasanya memiliki pengendalian diri yang kuat.
Dan pengendalian diri adalah fondasi keamanan yang paling murah dan paling efektif.
Di sinilah pentingnya sinergi antara ulama dan aparat keamanan. Polri PRESISI bukan hanya soal profesionalitas kelembagaan, tetapi juga tentang kemitraan sosial dengan tokoh agama sebagai penjaga moral masyarakat.
Penutup
Kegiatan tabligh akbar yang diselenggarakan Polda Sumatera Barat patut diapresiasi sebagai bentuk pendekatan humanis dalam membangun keamanan berbasis nilai spiritual.
Namun ada satu refleksi yang juga penting kita jaga bersama:
jangan sampai kita hanya antusias menyambut ulama besar yang datang sesekali, tetapi lupa menghargai ulama surau yang menjaga umat setiap hari.
Karena sejatinya:
Ulama besar membangkitkan semangat umat.
Tetapi ulama kampung menjaga kehidupan umat.
Dan jika ingin mewujudkan masyarakat yang aman, damai, dan berakhlak, maka keduanya harus berjalan bersama.
Sebab keamanan sejati tidak hanya lahir dari kekuatan hukum.
Tetapi lahir dari kekuatan iman, taqwa, dan amal saleh masyarakatnya. DS. 15032026.
