SULUK TERAPI HEDONISME DAN KRISIS SPIRITUAL
(Revitalisasi Jalan Ruhani di Tengah Peradaban Materialistik)
Oleh: Duski Samad
surautuankuprofessor
@series35. 17032026.
Peradaban modern telah melahirkan kemajuan besar dalam bidang teknologi, ekonomi, dan kemudahan hidup. Namun bersamaan dengan itu, muncul krisis yang jauh lebih dalam dan sering tidak disadari: krisis spiritual. Manusia semakin mudah memperoleh kesenangan, tetapi semakin sulit menemukan ketenangan. Hedonisme menjadi gaya hidup, permisivisme menjadi budaya, dan kebenaran sering kalah oleh kepentingan.
Inilah paradoks zaman: kemajuan material meningkat, tetapi kualitas jiwa menurun.
Realitas ini terlihat dalam meningkatnya kecemasan, depresi, konflik sosial, bahkan kejahatan moral di tengah kehidupan yang secara materi justru lebih baik. Ini menunjukkan satu fakta penting: manusia tidak hanya membutuhkan kemajuan ekonomi, tetapi juga ketenangan jiwa.
Di tengah krisis ini, Islam sebenarnya telah lama memiliki terapi spiritual yang sangat mendalam, yaitu suluk. Suluk bukan sekadar praktik tarekat atau ritual kelompok tertentu, tetapi merupakan metode pendidikan jiwa untuk membersihkan hati, mengendalikan nafsu, dan mengembalikan manusia kepada keseimbangan spiritualnya.
Suluk sebagai jalan penyucian jiwa
Secara bahasa, suluk berarti menempuh jalan. Dalam tradisi tasawuf, suluk adalah perjalanan spiritual menuju kedekatan dengan Allah melalui proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan latihan spiritual (riyadhah).
Al-Qur’an telah meletakkan fondasi jalan ini:
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.”(QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini menegaskan pentingnya mujahadah, yaitu kesungguhan memperbaiki diri. Sebab kerusakan manusia bukan hanya karena lemahnya pengetahuan, tetapi karena lemahnya pengendalian diri.
Allah juga menegaskan:
“Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit paling berbahaya dalam diri manusia bukan kebodohan intelektual, tetapi penyakit hati seperti cinta dunia berlebihan, kesombongan, riya, dengki, dan kerakusan.
Dalam psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai kehampaan makna hidup (existential vacuum), yaitu kondisi ketika manusia memiliki banyak fasilitas hidup tetapi kehilangan makna hidup.
Dalam konteks ini, suluk dapat dipahami sebagai terapi spiritual untuk memulihkan makna kehidupan manusia.
Suluk sebagai terapi hedonisme
Hedonisme lahir dari asumsi keliru bahwa kebahagiaan berasal dari kenikmatan materi. Padahal Al-Qur’an menegaskan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Hedonisme memberi kesenangan sesaat. Suluk memberikan ketenangan mendalam.
Hedonisme melatih pemuasan nafsu. Suluk melatih pengendalian nafsu.
Hedonisme membuat manusia tergantung pada dunia. Suluk membuat manusia merdeka dari dominasi dunia.
Dalam psikologi modern, latihan pengendalian diri dikenal sebagai self regulation. Dalam tradisi Islam, konsep ini sudah lama dipraktikkan melalui dzikir, puasa, tafakkur, muhasabah, dan khalwat.
Karena itu, suluk sebenarnya dapat dipahami sebagai bentuk psikoterapi spiritual Islam klasik.
Perdebatan tentang suluk
Memang dalam sejarah Islam terdapat perdebatan mengenai suluk. Sebagian menganggapnya sebagai praktik yang tidak dikenal pada masa Nabi. Namun para ulama menjelaskan bahwa yang berkembang adalah istilahnya, bukan substansinya.
Rasulullah sendiri melakukan praktik spiritual seperti i’tikaf, qiyamullail, dzikir panjang, dan khalwat sebelum kenabian di Gua Hira. Semua ini merupakan bentuk latihan spiritual yang menjadi dasar tradisi suluk.
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa tasawuf yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah merupakan bagian dari Islam. Yang ditolak bukan tasawuf atau suluknya, tetapi penyimpangan seperti kultus berlebihan terhadap guru, praktik tanpa dasar syariat, atau ajaran yang menyimpang dari akidah.
Dengan demikian, suluk yang benar adalah suluk yang berjalan dalam koridor syariat.
Suluk dan penyembuhan jiwa manusia modern
Manusia modern banyak mengalami kegelisahan batin meskipun hidup dalam kemudahan material. Kecemasan, kesepian, depresi, dan kelelahan mental menjadi fenomena global.
Ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hanya diberi fasilitas hidup, tetapi juga membutuhkan arah hidup.
Suluk memberikan terapi jiwa melalui: dzikir yang menenangkan hati,
sabar yang menstabilkan emosi,
syukur yang membangun mental positif,
tawakkal yang mengurangi kecemasan,
dan taubat yang membersihkan rasa bersalah.
Para ulama tasawuf menyimpulkan satu hal sederhana:
Hati yang sakit tidak disembuhkan oleh dunia, tetapi oleh kedekatan kepada Allah.
Tradisi suluk dalam pengalaman ulama besar
Suluk bukan sekadar teori, tetapi telah menjadi tradisi ulama besar Islam. Imam Al-Ghazali misalnya, mengalami krisis spiritual di puncak karier akademiknya. Ia kemudian meninggalkan jabatan dan popularitas untuk menjalani perjalanan spiritual panjang. Dari pengalaman itu lahir karya besar Ihya Ulumuddin yang hingga hari ini menjadi rujukan dunia Islam.
Imam Junaid Al-Baghdadi menegaskan bahwa jalan tasawuf harus terikat pada Al-Qur’an dan Sunnah, menjadikan suluk sebagai disiplin pembentukan karakter.
Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjalani latihan spiritual berat yang melahirkan integritas moral luar biasa. Ia dikenal berani mengkritik penguasa zalim, menunjukkan bahwa suluk melahirkan keberanian moral, bukan kelemahan.
Imam Nawawi hidup dalam kesederhanaan dan disiplin spiritual yang melahirkan karya besar dalam fiqh dan hadits. Ini membuktikan bahwa kedalaman ilmu lahir dari kedalaman jiwa.
Ibnu Athaillah bahkan mengingatkan:
“Bagaimana mungkin hati akan bercahaya jika masih dipenuhi kecintaan kepada dunia.”
Ini sangat relevan dengan krisis hedonisme modern.
Suluk dalam tradisi ulama Nusantara
Tradisi suluk juga hidup kuat dalam sejarah Islam Nusantara, termasuk dalam tradisi surau di Minangkabau. Ulama seperti Syekh Burhanuddin Ulakan dan jaringan ulama tarekat Syattariyah menjadikan suluk sebagai metode pendidikan karakter.
Suluk di surau tidak hanya menghasilkan ahli ibadah, tetapi melahirkan pribadi-pribadi yang: bijak, rendah hati, berintegritas, dan tidak materialistik.
Inilah model pendidikan karakter yang mampu menjadi benteng terhadap hedonisme.
Suluk sebagai kebutuhan peradaban
Jika ulama dahulu menggunakan suluk untuk menjaga diri dari cinta dunia, maka manusia modern justru lebih membutuhkan suluk karena godaan hari ini jauh lebih besar: hedonisme massal, budaya instan, media sosial, dan permisivisme moral.
Jika dahulu suluk menjaga ulama dari kesombongan ilmu, maka hari ini suluk dapat menjaga manusia dari kesombongan materi.
Karena itu para ulama mengatakan:
Awal perbaikan manusia adalah perbaikan hati.
Dan suluk adalah jalan menuju perbaikan itu.
Penutup
Jika dunia hari ini mengalami krisis moral, itu bukan karena kurang teknologi, tetapi karena kurang spiritualitas.
Jika manusia hari ini gelisah, itu bukan karena kurang hiburan, tetapi karena jauh dari Tuhan.
Jika masyarakat hari ini keras, itu bukan karena kurang aturan, tetapi karena kurang penyucian jiwa.
Mungkin dunia modern tidak hanya membutuhkan pembangunan ekonomi, tetapi juga revitalisasi spiritualitas.
Tanpa spiritualitas, kemajuan bisa melahirkan kehancuran.
Tanpa penyucian jiwa, ilmu bisa melahirkan kesombongan.
Tanpa suluk, manusia bisa kaya materi tetapi miskin makna.
Suluk bukan pelarian dari dunia, tetapi cara agar manusia tidak diperbudak dunia.
Suluk bukan menjauh dari kehidupan, tetapi cara menjaga agar manusia tetap memiliki jiwa yang hidup di tengah peradaban yang sering kehilangan ruhnya.
Dan mungkin di tengah keganasan hedonisme zaman ini, suluk bukan lagi sekadar pilihan spiritual kelompok tertentu, tetapi sudah menjadi: kebutuhan peradaban.ds.
