PERAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH DALAM MENANGGULANGI KRISIS PENDIDIKAN DI WILAYAH TERPENCIL
Oleh
Syahrul Ridwan
Institut Darul Falah Bandung Barat
Pendidikan di Indonesia masih menghadapi ketimpangan yang signifikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil. Salah satu sektor yang terbilang sangat terdampak adalah sektor pendidikan agama, khususnya di Madrasah Ibtidaiyah MI yang berada di kawasan pelosok. Krisis pendidikan di daerah-daerah ini tidak hanya soal keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga tantangan dalam menyiapkan guru yang berkualitas dan terlatih. Salah satu solusi yang tengah digalakkan oleh pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan adalah memperkuat pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI. Para lulusan PGMI diharapkan dapat mengisi kekurangan tenaga pengajar di daerah-daerah terpencil dan memberikan pendidikan yang berkualitas, terutama untuk anak-anak yang terisolasi dari akses pendidikan yang memadai.
Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, sekitar 25% dari total Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia masih menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan guru yang memiliki kualifikasi yang sesuai. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah dengan infrastruktur pendidikan yang kurang berkembang, seperti di Papua, Nusa Tenggara Timur, dan beberapa daerah di Kalimantan. Dr. Hadi Susanto, seorang pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa lulusan PGMI memiliki kompetensi untuk tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga pendidikan agama Islam yang esensial untuk karakter anak-anak di Madrasah Ibtidaiyah. Guru-guru PGMI dilatih untuk memadukan kurikulum umum dengan nilai-nilai agama, sehingga mereka tidak hanya mengajarkan matematika atau bahasa Indonesia, tetapi juga moral dan etika, ujarnya.
Pelatihan intensif bagi calon guru di program studi PGMI juga mencakup metodologi pengajaran yang adaptif terhadap situasi di daerah terpencil. Penggunaan teknologi digital, misalnya, menjadi salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan sarana di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Meskipun PGMI memiliki potensi besar dalam mengatasi krisis pendidikan di daerah terpencil, tantangan terbesar yang dihadapi adalah penyebaran guru yang berkualitas dan penyediaan sarana pengajaran yang memadai. Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah di Sumba Barat, Aliyah Rahmawati, mengatakan bahwa meskipun para guru PGMI memiliki kualifikasi, banyak sekolah di daerah tersebut masih kekurangan alat bantu mengajar dan koneksi internet yang memadai.
Pemerintah melalui program Gerakan Sekolah Menyenangkan dan beasiswa khusus untuk guru di daerah terpencil juga mulai memperkenalkan program pelatihan dan pengiriman tenaga pengajar dari PGMI ke daerah-daerah tersebut. Meskipun ada kemajuan, masih banyak yang harus dilakukan untuk menciptakan pemerataan pendidikan yang berkualitas di seluruh pelosok Indonesia. Pendidikan guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI memegang peranan kunci dalam menanggulangi krisis pendidikan di daerah-daerah terpencil. Dengan penguatan pelatihan dan pengiriman guru berkualitas ke wilayah yang kekurangan tenaga pengajar, diharapkan anak-anak di daerah terpencil bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan setara dengan mereka yang tinggal di kota besar. Namun, upaya ini memerlukan dukungan lebih lanjut dari pemerintah dan masyarakat untuk memastikan keberlanjutan dan kualitas pendidikan di masa depan.








