PERTI MENGGENGGAM TRADISI:
(Menyelamatkan Ittihad, Menegakkan Tarbiyah, Menghidupkan Islamiyah)
Oleh: Duski Samad
Majelis Profetik Indonesia @series125.05052026.
Tulisan ini dibuat sebagai wujud apresiasi hari kelahiran (Milad) ke 98 Perti 05 Mei 1928 – 05 Mei 2026. Pikiran ini mencermati arus dinamika pimpinan dan jamaah PERTI terkini, seperti yang juga terjadi di perkumpulan lainnya.
Refleksi ini adalah mengaca diri untuk mengenal kelemahan dan peluang peningkatan di masa depan. Harus diakui perubahan sosial sering kalah cepat dari perubahan tekhnologi yang ikut membentuk prilaku dan tatanan sosial.
Di tengah zaman yang kian cair dan penuh godaan, kita dipaksa untuk jujur bertanya: apakah tradisi yang kita banggakan masih hidup dalam diri umat, atau hanya tinggal nama dalam organisasi?
PERTI lahir pada 5 Mei 1928 bukan sekadar sebagai institusi, tetapi sebagai gerakan keulamaan yang berakar pada tradisi besar Islam—tradisi yang menyatukan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, mazhab Syafi’i, tasawuf Imam al-Ghazali, dan tarekat mu’tabarah dalam satu napas peradaban. Tradisi ini dahulu hidup, mengalir, dan membentuk manusia yang utuh: berilmu, berakhlak, dan berjiwa istiqamah.
Namun hari ini, realitas berbicara lain. Kita menyaksikan fenomena umat yang “ngambang”—tidak berpijak, tidak terikat, dan tidak teguh dalam prinsip. Ini bukan sekadar gejala sosial, tetapi tanda adanya retakan dalam tiga pilar utama PERTI: Ittihad, Tarbiyah, dan Islamiyah.
Ittihad: Persatuan yang Kehilangan Ruh
Islam mengajarkan bahwa orang beriman itu bersaudara, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat. Persatuan dalam Islam bukan sekadar berkumpul, tetapi menyatu—seperti air dan teh yang melebur dan saling menguatkan.
Namun yang terjadi hari ini, persatuan sering hanya tampak di permukaan. Banyak yang terlihat bersama, tetapi hatinya berjarak. Fenomena ini telah diingatkan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hasyr: mereka tampak bersatu, tetapi hati mereka tercerai-berai.
Persatuan yang dibangun di atas kepentingan tidak akan bertahan. Ia rapuh, mudah pecah, dan gampang dibeli. Maka tidak heran jika muncul loyalitas semu—setia ketika ada manfaat, berpaling ketika kepentingan berubah.
Tarbiyah: Pendidikan yang Terpecah
Tarbiyah dalam tradisi PERTI adalah pendidikan yang utuh—menghubungkan manusia dengan Rabb-nya, dibimbing oleh murabbi, dan tumbuh dalam lingkungan yang membentuk akhlak.
Namun hari ini, tarbiyah sering tereduksi menjadi sekadar pengajaran. Ilmu disampaikan, tetapi jiwa tidak disentuh. Akibatnya lahir generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara spiritual.
Rantai pendidikan yang dahulu kuat—rumah, surau, madrasah, dan majelis taklim—kini banyak yang terputus. Murid tidak lagi terikat dengan guru, bahkan dalam banyak kasus, hubungan itu kehilangan nilai sakralnya.
Dari sinilah lahir generasi yang tidak memiliki arah. Mereka belajar ke banyak tempat, tetapi tidak berakar di mana pun. Mereka mengenal banyak guru, tetapi tidak setia kepada satu pun.
Islamiyah: Identitas yang Memudar
Islam seharusnya menjadi watak dan kepribadian. Ia tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam sikap hidup: jujur, amanah, istiqamah, dan teguh dalam janji.
Namun yang terjadi, nilai-nilai Islam sering tergeser oleh pragmatisme. Banyak yang menimbang keputusan bukan berdasarkan benar atau salah, tetapi untung atau rugi. Loyalitas bukan lagi kepada nilai, tetapi kepada peluang.
Inilah yang melahirkan manusia oportunis—mudah berpindah, mudah berubah, dan mudah dipengaruhi. Ketika iman tidak menjadi pusat, maka kepentinganlah yang mengambil alih.
Realitas Jamaah: Antara Ideal dan Fakta
Kita tidak bisa menutup mata bahwa di tengah umat hari ini, muncul fenomena yang mengkhawatirkan:
Jamaah yang tidak memiliki loyalitas
Murid yang tidak setia kepada guru
Aktivis yang mudah diarahkan oleh materi
Keputusan yang bisa dipengaruhi oleh kepentingan sesaat
Ini bukan sekadar kelemahan individu, tetapi tanda bahwa sistem nilai kita sedang melemah.
Padahal dalam tradisi Islam, guru adalah penuntun jalan, bukan sekadar pengajar. Ketika hubungan ini rusak, maka arah perjalanan umat pun menjadi kabur.
Kembali Menggenggam Tradisi
PERTI tidak akan kehilangan masa depan jika mampu kembali kepada akarnya. Yang dibutuhkan hari ini bukan sekadar penguatan struktur, tetapi penghidupan kembali ruh tradisi.
Ittihad harus dibangun di atas nilai, bukan kepentingan.
Tarbiyah harus kembali utuh, tidak terpecah.
Islamiyah harus menjadi karakter, bukan sekadar identitas.
Umat harus kembali belajar tentang kesetiaan, tentang adab kepada guru, dan tentang istiqamah dalam jalan yang benar.
Penutup
Sejarah telah membuktikan bahwa PERTI besar karena tradisinya. Ia mengakar karena nilai-nilainya hidup dalam jiwa umat.
Jika hari ini kita melihat gejala “ngambang”, maka itu bukan karena tradisinya lemah—tetapi karena kita mulai menjauh darinya.
Kini saatnya kembali.
Menggenggam tradisi dengan kesadaran.
Menghidupkan nilai dengan keteladanan.
Karena hanya dengan itu, kita tidak sekadar bertahan—
tetapi mampu menjemput masa depan dengan kekuatan iman dan peradaban.








