PERTI, MTI, DAN TAREKAT: JARINGAN ILMU, AKHLAK, DAN KEUMATAN DI MINANGKABAU

PERTI, MTI, DAN TAREKAT:
JARINGAN ILMU, AKHLAK, DAN KEUMATAN DI MINANGKABAU

Oleh: Duski Samad
Ziarah bersama jamaah Tarekat Syattariyah bersilsilah pada Syekh H.Salif Tuanku Sutan Pendiri PPMTI Batang Kabung Padang 17 Desember 2025

 

Kehadiran ketua Pimpinan Daerah Persatuan Tarbiyah Islamiyah ( PD-PERTI) Provinsi Sumatera Barat Drs.H. Afrizal Moetwa pada acara wirid dan ziarah penganut tarekat Syattariyah bersilsilah pada Syekh H.Salif Tuanku Sutan pendiri MTI Batang Kabung 17 Desember 2025 ini adalah wujud dari perhatian Pimpinan PD PERTI Sumatera Barat terhadap tradisi tarekat yang menjadi core dan pusat kekuatan perjuangan Perti.

Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), PERTI dan Tarekat adalah satu kesatuan yang tak teroisahkan dan memang tidak pernah akan berpisah.

Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) lahir bukan dari ruang hampa sejarah. Ia tumbuh dari rahim Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang berakar kuat pada jaringan ulama, surau, dan tarekat mu‘tabarah di Minangkabau. Karena itu, membicarakan PERTI tanpa tarekat—khususnya Syattariyah dan Naqsyabandiyah—adalah memutus mata rantai sejarah intelektual dan spiritualnya.

Sejak awal abad ke-17, Minangkabau telah menjadi salah satu pusat penting transmisi Islam di Nusantara. Proses Islamisasi tidak hanya berlangsung melalui fikih dan dakwah lisan, tetapi melalui tarekat sebagai sistem pendidikan ruhani dan sosial.

Tarekat Syattariyah:
Akar Awal Islam Minangkabau.

Tarekat Syattariyah memiliki posisi sangat fundamental dalam sejarah Islam Minangkabau.
Melalui Syekh Burhanuddin Ulakan, murid utama Syekh Abdurrauf as-Singkili (Aceh), Syattariyah tidak hanya menyebarkan dzikir, tetapi membangun struktur keulamaan berbasis surau.

Surau-surau Syattariyah di Ulakan, Pariaman, dan wilayah darek menjadi:
pusat pengajaran Al-Qur’an, kajian fikih mazhab Syafi‘i,
pembinaan akhlak dan adab, serta pendidikan sosial masyarakat nagari.

Dari sinilah lahir model Islam Minangkabau yang khas: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Tarekat Syattariyah bukan jalan menyendiri, tetapi jalan membumi, menyatu dengan adat, pendidikan, dan kepemimpinan lokal.
Naqsyabandiyah:

Penguatan Disiplin dan Etos Spiritual.

Memasuki abad ke-18 dan 19, tarekat Naqsyabandiyah berkembang luas di Minangkabau, terutama melalui jaringan ulama yang memiliki sanad ke Mekkah dan Madinah. Naqsyabandiyah membawa ciri khas: dzikir khafi (dzikir sirr), disiplin spiritual yang ketat, penekanan pada istiqamah dan muhasabah diri.

Tarekat ini banyak berkembang di wilayah darek seperti: Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, hingga Pasaman.

Naqsyabandiyah melahirkan ulama-ulama yang kuat dalam tafaqquh fiddin, berwibawa dalam masyarakat, dan memiliki daya tahan moral yang tinggi. Banyak tokoh Naqsyabandiyah kemudian menjadi guru MTI, pemimpin adat, dan rujukan umat.

MTI: Institusionalisasi Ilmu dan Tasawuf.

Ketika Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) berdiri secara formal pada 5 Mei 1928 di MTI Candung, Bukittinggi, sesungguhnya yang terjadi bukanlah lahirnya sesuatu yang benar-benar baru, melainkan institusionalisasi tradisi surau dan tarekat ke dalam sistem pendidikan madrasah.

MTI menggabungkan:
fikih Syafi‘i, akidah Ahlussunnah wal Jama‘ah, tasawuf Imam al-Ghazali, dan etika tarekat mu‘tabarah.

Para pendiri dan guru MTI banyak berasal dari latar belakang Syattariyah dan Naqsyabandiyah, meski tidak selalu menampakkan identitas tarekat secara formal. Namun nilai-nilainya hadir nyata dalam:
kedisiplinan santri,
adab terhadap guru,
kesederhanaan hidup,
dan orientasi pengabdian umat.

Dari jaringan MTI inilah PERTI lahir sebagai organisasi yang mengurus pendidikan, dakwah, dan keumatan, bukan sekadar organisasi politik atau massa.

PERTI sebagai Jaringan Ilmu dan Akhlak.

PERTI sejak awal berdiri menegaskan dirinya sebagai penjaga:
mazhab Syafi‘i,akidah Asy‘ariyah –Maturidiyah, dan tasawuf al-Ghazali.
Ini adalah sintesis antara syariat, tarekat, dan realitas sosial. Karena itu, PERTI tidak melihat tarekat sebagai praktik eksklusif, tetapi sebagai fondasi pembentukan akhlak dan kepribadian ulama.

Dalam konteks ini, tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah berfungsi sebagai: penjaga kedalaman spiritual, penyeimbang aktivisme sosial, dan benteng dari radikalisme tekstual maupun liberalisme kosong.

Relevansi di Tengah Krisis Moral Kontemporer.

Di tengah krisis kepemimpinan, degradasi etika publik, dan komodifikasi agama, model PERTI–MTI–tarekat justru semakin relevan. Tarekat mengajarkan:
pengendalian nafs,
kejujuran batin,
kesabaran dalam perjuangan, dan keteguhan tanpa kekerasan.

PERTI memiliki modal historis untuk menawarkan Islam beradab, berakar, dan berkelanjutan—Islam yang tidak tercerabut dari tradisi, namun tidak anti perubahan.

Penutup: Merawat Akar untuk Menyambut Masa Depan.

PERTI bukan sekadar organisasi. Ia adalah jaringan sejarah, sanad ilmu, dan warisan akhlak. MTI adalah tulang punggungnya, sementara tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah adalah ruh yang menghidupkannya.
Memutus PERTI dari tarekat berarti melemahkan akarnya. Sebaliknya, memaknai tarekat secara substantif akan menguatkan PERTI sebagai penjaga keseimbangan Islam Nusantara.

Di tengah zaman yang bising oleh ekstremisme dan kekosongan makna, barangkali jalan yang paling selamat adalah kembali ke jalan lama yang lurus—jalan ilmu, adab, dan istiqamah. Ds.18122025.

Leave a Reply