PROGUL FADLI MAIGUS

PROGUL FADLI MAIGUS SMART SURAU DAN PESANTREN RAMADHAN #01.

Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang

Padang adalah kota metropolitan yang terus tumbuh—secara ekonomi, demografi, dan mobilitas sosial. Namun, di balik dinamika itu, muncul ekses perilaku remaja yang kian mengkhawatirkan: tawuran, geng motor, begal, penyalahgunaan narkoba, dan berbagai tindakan destruktif lain. Data kepolisian dan BNN dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pelaku dan korban kejahatan jalanan didominasi usia produktif dan remaja, dengan faktor pemicu utama lemahnya kontrol sosial, rapuhnya ikatan keluarga, serta berkurangnya ruang pembinaan karakter berbasis komunitas.

Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Padang adalah etalase Minangkabau. Kota ini selama berabad-abad dikenal dengan elok budi, sopan santun, aman, dan damai—nilai yang berakar pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ketika gejala sosial negatif meningkat, sesungguhnya yang sedang diuji bukan hanya aparat keamanan, melainkan ketahanan karakter kolektif masyarakat kota.

Dalam konteks itulah, kebijakan Pemerintah Kota Padang dalam beberapa tahun terakhir—termasuk pada satu tahun kepemimpinan Wali Kota Padang Fadly Amran—perlu dibaca sebagai strategi pencegahan sosial jangka panjang, bukan sekadar program seremonial. Pesantren Ramadhan, Didikan Subuh, Wirid Remaja, Tahfiz, Majelis Taklim, serta penguatan kehidupan religius lintas agama, berfungsi sebagai katup pengaman sosial: menutup celah yang tidak selalu mampu dijangkau oleh pendekatan hukum dan represif.

Berbagai studi sosiologi dan kriminologi menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan berbasis komunitas berkontribusi signifikan dalam menurunkan perilaku berisiko remaja. Pembiasaan ibadah, keteladanan tokoh agama, serta penguatan makna hidup terbukti meningkatkan self-control, empati, dan rasa tanggung jawab sosial. Dalam bahasa kebijakan publik, program-program tersebut adalah investasi karakter—biayanya kecil, dampaknya jangka panjang.

Salah satu dari 9 Program Unggulan Wali Kota Padang 2025–2030 yang patut dicatat secara khusus adalah Smart Surau. Program ini menegaskan kembali fungsi rumah ibadah—khususnya surau dan masjid—bukan hanya sebagai tempat ritual, tetapi sebagai pusat pembinaan karakter, pendidikan, literasi sosial, dan kohesi komunitas. Smart Surau mendorong optimalisasi ruang ibadah sebagai tempat belajar nilai, dialog generasi, penguatan literasi keagamaan-digital, sekaligus benteng dini pencegahan kenakalan remaja.

Pendidikan Keagamaan, Karakter, dan Budaya: Tanggung Jawab Negara

Kebijakan ini memiliki dasar konstitusional dan yuridis yang kuat.
Pertama, UUD 1945 Pasal 29 ayat (1) menegaskan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa—yang implikasinya adalah tanggung jawab negara dalam memfasilitasi kehidupan beragama.
Kedua, PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan menempatkan pendidikan keagamaan sebagai bagian sah dan strategis dari sistem pendidikan nasional.
Ketiga, UU Nomor 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat, khususnya Pasal 5, menegaskan kekhasan Sumatera Barat yang berlandaskan nilai adat dan syarak.
Keempat, berbagai Perda Pendidikan Karakter di Sumatera Barat meneguhkan mandat pemerintah daerah untuk menghadirkan kebijakan yang memperkuat akhlak, budaya, dan jati diri lokal.

Artinya, Smart Surau dan Pesantren Ramadhan bukan kebijakan ekstra, melainkan pelaksanaan mandat konstitusi dan undang-undang dalam konteks lokal Padang.

Ketahanan Sosial di Tengah Bencana

Pengalaman Kota Padang menghadapi banjir dan bencana ekologis dalam beberapa tahun terakhir juga memberi pelajaran penting: agama adalah faktor resiliensi sosial. Dalam situasi krisis, rumah ibadah menjadi pusat distribusi bantuan, dukungan psikososial, dan energi optimisme. Agama berfungsi sebagai pengaman sosial, meredam kepanikan, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan harapan.

Karena itu, memperkuat fungsi surau dan program keagamaan sejatinya adalah memperkuat daya tahan kota—baik terhadap krisis sosial maupun bencana alam.

Penutup

Satu tahun kepemimpinan ini menunjukkan arah yang jelas: membangun Padang tidak cukup dengan beton dan aspal, tetapi dengan karakter dan nilai. Smart Surau dan Pesantren Ramadhan adalah ikhtiar strategis untuk menjaga Padang tetap aman, beradab, dan berdaya saing—sebuah kota modern yang tidak tercerabut dari akar budayanya.

Jika Padang ingin benar-benar menjadi kota maju dan berkepribadian, maka pendidikan karakter berbasis agama dan budaya lokal harus terus diperkuat, diukur dampaknya, dan dijalankan secara berkelanjutan. Ini bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keharusan peradaban. @balairunghotel06022026.

Leave a Reply