QUBUR RASUL, BAQI’, DAN DIRI Refleksi Umrah Menjelang Usia 66 Tahun

QUBUR RASUL, BAQI’, DAN DIRI
Refleksi Umrah Menjelang Usia 66 Tahun

Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Subuh di Masjid Nabawi selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Di tempat yang setiap hari dipenuhi ribuan bahkan puluhan ribu jamaah dari berbagai penjuru dunia, hati terasa lebih mudah tersentuh oleh firman Allah. Pada suatu Subuh, imam membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama dan Surah Al-Insan pada rakaat kedua. Ketika ayat sajadah dibaca, seluruh jamaah bersujud bersama. Sujud itu terasa begitu panjang dalam batin. Seolah Allah sedang mengajak setiap hamba merenungkan perjalanan hidupnya, dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Surah As-Sajdah mengingatkan bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan. Allah menyempurnakan bentuknya, kemudian meniupkan ke dalam dirinya ruh ciptaan-Nya. Karena itu manusia bukan sekadar tubuh yang bergerak dan berpikir, tetapi makhluk yang membawa amanah ruhani. Dengan ruh itulah manusia mengenal Tuhannya, membedakan yang benar dan yang salah, serta bertanggung jawab atas setiap langkah kehidupannya.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Ilmu bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan mengangkat derajat manusia di hadapan Allah apabila melahirkan rasa takut kepada-Nya, kerendahan hati, dan manfaat bagi sesama. Surah As-Sajdah juga melukiskan orang-orang beriman yang meninggalkan kenyamanan tempat tidurnya pada malam hari untuk bermunajat kepada Allah. Mereka hidup dengan hati yang tunduk, bukan dengan kesombongan.

Kemudian Surah Al-Insan membawa renungan itu semakin dalam. Allah mengingatkan bahwa manusia berasal dari setetes air mani yang bercampur. Dari asal yang sangat sederhana itu Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, akal, dan petunjuk. Semua nikmat itu bukan sekadar pemberian, melainkan ujian. Allah menunjukkan dua jalan: jalan syukur dan jalan kufur. Barang siapa memilih bersyukur, baginya kenikmatan yang kekal. Sebaliknya, siapa yang mengingkari nikmat-Nya akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Getaran ayat-ayat itu belum hilang ketika saya melangkah menuju makam Rasulullah SAW, lalu menziarahi Baqi’. Di hadapan makam manusia termulia itu, hati bertanya: bagaimana mungkin usia beliau hanya enam puluh tiga tahun, tetapi warisan perjuangan, ilmu, akhlak, dan kasih sayangnya tetap hidup hingga hari ini? Jutaan manusia dari berbagai bangsa datang mengucapkan salam, mencintainya, dan berusaha mengikuti sunnahnya. Ternyata kemuliaan hidup tidak diukur oleh panjangnya usia, melainkan oleh besarnya manfaat yang ditinggalkan.

Demikian pula Baqi’. Di sana bersemayam keluarga Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, dan generasi awal Islam yang dipuji Allah sebagai as-sābiqūn al-awwalūn. Usia mereka telah berakhir berabad-abad yang lalu, tetapi nama, perjuangan, dan keteladanan mereka tetap hidup dalam Al-Qur’an, hadis, dan sejarah. Kuburan-kuburan sederhana itu seakan berbicara bahwa setiap manusia pasti akan kembali kepada tanah, sementara yang terus hidup hanyalah iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan jejak kebaikan.

Di tempat itulah saya berdialog dengan diri sendiri.

Pada 18 Juli 2026, insya Allah saya memasuki usia 66 tahun. Usia ini telah melampaui usia Rasulullah SAW ketika beliau kembali menghadap Allah. Pertanyaan yang muncul bukanlah berapa lama lagi saya akan hidup, melainkan apa yang telah saya lakukan selama hidup ini.

Apakah ilmu yang Allah titipkan telah menjadi cahaya bagi umat? Apakah amanah yang pernah diemban telah dijalankan dengan jujur? Apakah tulisan-tulisan yang lahir dari pena ini benar-benar mengajak manusia lebih dekat kepada Allah? Apakah keluarga telah dibimbing menuju ketakwaan? Apakah masih ada amal yang akan terus mengalir ketika jasad ini telah berbaring di dalam tanah?

Di hadapan Qubur Rasulullah SAW dan pemakaman Baqi’, semua kebanggaan dunia terasa sangat kecil. Gelar akademik, jabatan, penghormatan, dan pengakuan manusia tidak akan menyertai seseorang ke dalam liang lahat. Yang menemani hanyalah iman, amal saleh, keikhlasan, dan rahmat Allah SWT.

Umrah ini akhirnya saya rasakan bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Ia adalah perjalanan kembali kepada diri sendiri. Perjalanan untuk memperbarui niat, membersihkan hati, memperbanyak syukur, memperbaiki amal, dan meneguhkan tekad agar sisa usia menjadi lebih bernilai daripada usia yang telah berlalu.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala kekhilafan, menjadikan sisa umur sebagai ladang kebaikan, dan ketika saat kembali itu tiba, mempertemukan kita dengan Rasulullah SAW dalam keadaan memperoleh rahmat dan ridha-Nya.

Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.