Saat Nelayan Cirebon Rayakan Syukur dan MerawatTradisi Lintas Generasidengan Pesta Laut Nadranan

Artikel, Wisata78 Views

Saat Nelayan Cirebon Rayakan Syukur dan MerawatTradisi Lintas Generasidengan Pesta Laut Nadranan

Oleh:

Istiannah, Jihan Ayu, M.Syauqi

Dosen Pengampu: Fadli Daud  Abdullah, S.H., M.H.

Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)

UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

 

Cirebon,  [biasanya  dilakukan  pada   bulan  september/oktober]   Dentuman  musik tradisional  dan  semarak  arak-arakan  perahu  hias  kembali  memenuhi  pesisir  utara Cirebon dalam perayaan Nadran atau Sedekah Laut. Tradisi tahunan ini menjadi puncak ungkapan syukur para nelayan atas limpahan hasillaut setahun penuh, sekaligus upaya kolektif merawat warisan budaya nenek moyang.

Nadran atau Sedekah Laut adalah upacara adat tahunan masyarakat nelayan Cirebon. Kegiatan   utamanya   adalah    pelarungan   (pelepasan)    sesajen   atau   ancak   yang ditempatkan dalam miniatur kapal ke tengah laut. Sesajen ini umumnya berisi kepala kerbau/kambing,  hasil  bumi,  dan  aneka  makanan,  yang  dimaknai  sebagai  bentuk sedekah dan penghormatan terhadap alam. Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Upacara ini melibatkan seluruh komunitas nelayan dan masyarakat pesisir Cirebon, termasuk tokoh  agama, tokoh  adat,  serta  didukung  oleh  pemerintah  daerah.  Para nelayan adalah pelaku utama yang bergotong-royong menyiapkan ancak, menghias perahu, dan melakukan prosesi pelarungan.

Secara rutin dilaksanakan setahun sekali, biasanya menyesuaikan denganwaktu pasang surut  air   laut  atau  pada  bulan-bulan  tertentu,  seperti  September  atau  Oktober (tergantung   kesepakatan   setempat).   Rangkaian   acara   bisa   berlangsung   selama beberapa hari, diawali dengan pengajian, pembuatan ancak, hingga puncaknya yaitu arak-arakan dan pelarungan sesajen.

Perayaan Nadran tersebar di beberapa Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan desa-desa nelayan di sepanjang pesisir Cirebon, sepertiTPI Kesenden (Samadikun), TPI Pesisir, TPI Cangkol Lemahwungkuk (Kota Cirebon), serta desa-desa di Kabupaten Cirebon, seperti Bandengan Mundu.

Tujuan utama Nadran adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia hasil tangkapan laut yang melimpah, keselamatan saat melaut, dan memohon agar tahun  mendatang  diberikan  rezeki  yang  lebih  baik.  Selain  itu,  tradisi  ini  juga merupakan  cara  melestarikan  warisan  leluhur  dan  mempererat  tali  persaudaraan antarwarga pesisir.

Acara dimulai dengan ritual pengajian dan pembuatan ancak (sesajen) yang diletakkan dalam miniatur perahu. Kemudian, miniatur kapal ini diarak dalam karnaval meriah mengelilingi kampung menuju dermaga, diiringi berbagaikesenian daerah sepertiburok, sisingaan, hingga drumband. Didermaga, miniatur ancakyangtelah didoakan kemudian dilarungkan  ke  tengah  laut  diiringi  ratusan  perahu  nelayan  yang  berhias.  Setelah pelarungan, perayaan dilanjutkan dengan hiburan rakyat.

Akar Pra-Islam dan Nilai Keselarasan Alam

Jauh  sebelum  masuknya  Islam,  masyarakat  pesisir  Nusantara,  termasuk  Cirebon, memilikikepercayaan animisme dan dinamisme yang kuat. Mereka sangat menghormati alam, terutama laut, yang dianggap sebagai sumber kehidupan sekaligus kekuatan yang harus dihormati. Tujuan Awal: Upacara “memberi makan” laut (cikalbakal sedekahlaut) dilakukan sebagai upaya untuk menenangkan roh penunggu laut atau dewa laut agar hasil tangkapan melimpah, dan perahu para nelayan selamat dari bencana (ombak besar, badai, atau perompak).

Akulturasi Islam berkaitan dengan Sejarah Nadran modern tidak bisa dilepaskan dari peran  Wali  Songo,   khususnya   Sunan  Gunung  Jati  (Syarif   Hidayatullah),   dalam menyebarkan Islam di Cirebon pada abad ke-15 hingga ke-16. Penyelarasan Nilai dari para  ulama  lokal  tidak  serta-merta   menghilangkan  tradisi   pra-Islam  yang  sudah mengakar. Mereka melakukan akulturasi. Ritual pemberian sesajen yang awalnya kental dengan unsur kepercayaan lokal (syirik) diselaraskan dengan ajaran Islam.

Perubahan  makna  atau  istilah  “Sedekah  Laut”  muncul,  yang  menekankan  bahwa tindakan pelarungan sesajen dimaknai sebagai sedekah (amal baik) dan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan melalui laut, bukan lagi untuk menyembah  roh  laut.  Penambahan  Ritual  Islam  dalam  rangkaian  acara  Nadran diperkaya dengan ritual keagamaan, seperti pembacaan doa (tahlil) dan pengajian, yang wajib dilakukan sebelum prosesi pelarungan ancak (miniatur perahu berisi sesajen).

Perkembangan  dan  Perlindungan  Budaya  dengan  seiring  berjalannya  waktu,  tradisi Nadran berkembang menjadi pesta rakyat yang meriah. Perayaan initidakhanya menjadi ritual keagamaan dan rasa syukur, tetapi juga menjadi ajang. Penguatan Solidaritas seluruh masyarakat desa pesisir terlibat dalam persiapan, mulai dari menghias perahu, membuat ancak, hingga mengatur hiburan, yang secara otomatis memperkuat ikatan sosial antarwarga. Ekspresi Seni Budaya: Nadran menjadi wadah bagi kesenian khas Cirebon, seperti ta ri topeng, sintren, atau pertunjukan burok, untuk ditampilkan dalam arak-arakan.

Pada tahun 2017, tradisi Nadran (Sedekah Laut) di Cirebon resmi ditetapkan sebagai Warisan  Budaya  Tak  Benda  (WBTB)   Indonesia  oleh  Kementerian  Pendidikan  dan Kebudayaan. Hal ini menegaskan nilai sejarahdan budaya yang harus terus dilestarikan. Sejarah Nadran adalah contoh nyata dari akulturasibudaya yang sukses di Cirebon, di mana tradisilokalbertemu dengan ajaran Islam, menghasilkan sebuah perayaan yang menggabungkan rasa syukur kepada Tuhan dengan penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur.