Sanggar Seni di Cirebon Lestarikan Tari Topeng Sebagai Identitas Daerah
oleh:
Najwa Habibah, Nabil Athoulloh Haryadi, Hassan John
Dosen Pengampu : Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Cirebon – Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan derasnya budaya populer yang begitu mudah masuk ke kehidupan masyarakat, sejumlah sanggar seni di Cirebon tetap konsisten menjaga keberadaan Tari Topeng sebagai simbol kebanggaan daerah. Tari tradisional ini bukan hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga representasi perjalanan sejarah panjang masyarakat Cirebon yang telah berlangsung sejak masa kerajaan. Para pelaku seni memandang Tari Topeng sebagai warisan luhur yang memuat nilai moral, kearifan lokal, hingga pesan spiritual yang menjiwai kehidupan masyarakat pesisir utara Jawa. Keberadaannya menjadi bukti bahwa hingga hari ini, masyarakat Cirebon masih memegang erat identitas budaya yang diwariskan oleh leluhur, meskipun tantangan modernisasi terus datang silih berganti.
Untuk memastikan Tari Topeng tetap bertahan, sanggar-sanggar seni di Cirebon merancang berbagai kegiatan secara terstruktur guna menarik minat generasi muda. Mereka membuka kelas tari reguler, menyusun modul pembelajaran sederhana, hingga mengadakan lokakarya yang mengangkat filosofi di balik karakter topeng. Program-program tersebut tidak hanya mengajarkan teknik gerak, tetapi juga memberikan pemahaman tentang makna simbolik yang terkandung dalam setiap karakter. Upaya ini dilakukan karena para pelatih menyadari bahwa seni tradisional akan sulit berkembang apabila tidak ada regenerasi yang kuat. Dengan mengajak anak-anak mengenal Tari Topeng sejak dini, sanggar seni berharap tumbuh kesadaran budaya yang lebih mendalam pada generasi penerus.
Keunikan Tari Topeng Cirebon terletak pada lima karakter utama yang masing-masing memiliki cerita panjang dan pesan kehidupan yang berbeda. Tokoh Panji, misalnya, dikenal sebagai simbol kesucian, ketenangan, dan keanggunan yang tercermin melalui gerakan lembut dan penuh kontrol. Sementara itu, karakter Samba menggambarkan keceriaan serta semangat masa muda, sehingga gerakannya lebih dinamis dan penuh energi. Ada pula Rumyang yang melambangkan proses pencarian jati diri serta penerangan batin, yang biasanya ditampilkan dengan suasana yang lebih khidmat. Tumenggung hadir sebagai simbol ketegasan, kepemimpinan, serta kedisiplinan, sedangkan Kelana mewakili sifat ambisi, nafsu duniawi, dan gejolak emosi manusia. Dengan keragaman karakter ini, Tari Topeng tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain mengadakan latihan rutin, sanggar-sanggar seni di Cirebon juga aktif mengikuti berbagai acara budaya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Mereka sering tampil dalam festival budaya, kegiatan pemerintahan, dan acara resmi kota. Setiap penampilan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Tari Topeng kepada publik yang lebih luas. Kegiatan ini menjadi penting karena eksposur yang tinggi dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap seni tradisional. Para pelaku seni berharap bahwa semakin banyak panggung yang menampilkan Tari Topeng, semakin besar pula peluang kesenian ini untuk tetap dihargai dan dipelajari oleh generasi masa kini.
Selain acara yang berlangsung di sanggar, usaha untuk melestarikan budaya di Cirebon juga tampak melalui kegiatan yang dilaksanakan secara rutin di Lapangan Kebumen Kota Cirebon (BAT) setiap malam Minggu. Dalam agenda mingguan ini, para seniman lokal dan sanggar mempersembahkan berbagai tarian tradisional, seperti Tari Sintren, Tari Gembyung, serta pertunjukan musik tradisional. Keberadaan panggung budaya di ruang publik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional di tengah tekanan budaya modern. Program ini sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisional masih eksis, berkembang, dan menjadi bagian dari aktivitas sosial masyarakat Cirebon setiap akhir pekan.

Acara budaya di lapangan Kebumen Kota Cirebon (BAT) senantiasa menarik perhatian banyak orang dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat setempat hingga wisatawan dari luar daerah. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati pertunjukan tarian tradisional, melainkan juga untuk merasakan atmosfer malam Cirebon yang semakin ceria berkat kehadiran pedagang makanan, kerajinan tangan, dan stan komunitas seni yang menampilkan karya-karya inovatif. Banyak pengunjung menyatakan ketertarikan mereka karena acara ini menawarkan pengalaman yang unik, Menyaksikan seni tradisional dalam suasana publik yang terbuka, ramah untuk keluarga, dan dipenuhi dengan interaksi alami antara seniman dan masyarakat. Ini adalah alasan mengapa lapangan Kebumen Kota Cirebon (BAT) menjadi salah satu tempat favorit bagi warga Cirebon setiap akhir pekan, serta membuktikan bahwa ruang publik bisa berperan sebagai pusat pelestarian identitas budaya daerah.
Pemerintah daerah Cirebon turut memberikan dukungan melalui program pembinaan seni budaya. Mereka menyediakan ruang latihan, memberikan bantuan alat musik tradisional, serta melibatkan sanggar seni dalam program pariwisata budaya yang digelar sepanjang tahun. Dengan memasukkan Tari Topeng sebagai bagian dari agenda resmi pariwisata, pemerintah ingin memastikan bahwa seni tradisional tetap memiliki tempat di tengah masyarakat. Langkah ini bukan hanya menjaga budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni, sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitas pelestarian dengan lebih mandiri.
Keterlibatan orang tua juga menjadi aspek penting dalam pelestarian ini. Banyak keluarga di Cirebon kini mulai menyadari bahwa pendidikan budaya merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter anak. Orang tua yang mengikutsertakan anaknya ke sanggar tari berharap mereka tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami nilai-nilai kesopanan, disiplin, ketekunan, dan rasa hormat terhadap warisan leluhur. Dukungan dari keluarga menjadi energi baru bagi sanggar untuk terus berkembang, karena tanpa partisipasi orang tua, regenerasi seni tradisional akan sulit berjalan.
Para seniman Tari Topeng juga menekankan bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada sanggar seni atau pemerintah saja. Masyarakat luas turut berperan dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional. Dengan menonton pertunjukan, menghadiri festival, atau sekadar mengenalkan Tari Topeng kepada generasi muda di lingkungan sekitar, masyarakat telah berkontribusi dalam pelestarian budaya. Semakin besar kesadaran masyarakat, semakin kuat pula pondasi bagi Tari Topeng untuk tetap hidup dan menjadi kebanggaan daerah.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan secara kolektif, para pelaku seni optimistis bahwa Tari Topeng Cirebon akan terus bertahan dan berkembang sebagai identitas budaya yang melekat pada masyarakat. Kolaborasi antara sanggar seni, pemerintah daerah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian ini. Para seniman meyakini bahwa selama ada komitmen bersama, Tari Topeng tidak hanya akan bertahan sebagai sejarah, tetapi juga menjadi bagian penting dalam kehidupan budaya masyarakat Cirebon di masa sekarang maupun masa yang akan datang.










