Simbol dan Sakralitas dalam Adzan Pitu :Analisis Antropologis Tradisi Islam Cirebon
Oleh:
Ahmad Baydhowi , Amellya Vernanda , Dea Ayu Pratiwi
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, SH.,MH.
Jurusan Pariwisata Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Tradisi adzan pitu dimulai sejak masa awal perkembangan Islam di Cirebon, yakni bertepatan dengan pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa pada tahun 1480 M. Tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid peninggalan Syarif Hidayatullah ini juga digunakan sebagai tempat menuntut ilmu agama. Konon pada waktu itu terjadi musibah berupa serangan wabah penyakit di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menyebabkan tiga orang muadzin meninggal dunia berturut-turut secara misterius.
Utusan dari Mataram Kuno, Megananda seorang Hindu, mencoba menggagalkan pembangunan masjid melalui kesaktiannya yang disebut ‘menjangan wulung’. Setiap orang yang terkena kekuatan sihir menjangan wulung akan mati dengan darah di sekujur tubuhnya.
Hal inilah yang diyakini menjadi penyebab kematian misterius tiga muadzin. Untuk mengatasi keadaan tersebut, Nyi Mas Pakungwati pun memerintahkan muadzin untuk melaksanakan adzan oleh beberapa orang.Jumlah muadzin terus bertambah hingga enam orang. Namun, warga setempat masih saja terkena serangan wabah sihir tersebut. Kemudian, jumlah muadzin pun ditambah menjadi tujuh orang. Ternyata, hingga selesai mengumandangkan adzan, tidak terjadi serangan seperti sebelumnya.
Bersamaan dengan itu, dentuman besar terdengar dari arah atap masjid. Akhirnya adzan pitu pun berlanjut setiap kali akan dilaksanakannya shalat lima waktu dengan tujuan untuk mengantisipasi adanya serangan susulan. Setelah dirasa kondusif, adzan pitu dialihkan hanya untuk salat Jumat. Hingga sekarang, adzan pitu masih dilakukan.

Muazin azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Pelaksanaan azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak terlepas dari keyakinan masyarakat terhadap nilai spiritual dan historis masjid tersebut. Salah satu alasan utama adalah keberadaan makam Ratu Nyi Mas Pakungwati, istri Sunan Gunung Jati, yang dipercaya terletak di bawah bedug masjid. Figur Ratu Nyi Mas Pakungwati memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam di Cirebon, karena selain sebagai istri salah satu wali besar, beliau juga dianggap sebagai sosok yang berkontribusi dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Masyarakat percaya bahwa berziarah dan berdoa di makam ini dapat membawa keberkahan, sehingga makam ini dianggap menjadi pusat yang memupuk hubungan masyarakat dengan ajaran Islam. Azan pitu juga memiliki peran sebagai simbol pengingat akan perjuangan para wali, khususnya Sunan Gunung Jati, dalam menyebarkan Islam di Nusantara.
Para wali dikenal mengajarkan Islam dengan cara yang harmonis dan penuh kebijaksanaan, mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal. Tradisi azan pitu, yang hanya dilakukan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, menjadi manifestasi dari warisan tersebut. Dengan melibatkan tujuh muazin, tradisi ini mampu memperkuat identitas budaya dan agama masyarakat Cirebon. Selain itu, pelaksanaan azan pitu dianggap sebagai bentuk perlindungan spiritual.
Berdasarkan penuturan dari seorang muazin Masjid Agung Sang Cipta Rasa, tradisi ini awalnya dilakukan untuk menangkal kekuatan negatif yang pernah mengganggu wilayah sekitar masjid, seperti wabah yang diyakini berasal dari ilmu hitam. Dengan di kumandangkannya azan secara serempak oleh tujuh muazin ,masyarakat percaya bahwa energi positif yang dihasilkan mampu mengusir gangguan tersebut. Sehingga, Tradisi ini pun menjadi simbol warisan Islam yang terus relevan, menyatukan aspek sejarah, keyakinan, dan semangat kolektif umat dalam menjaga tradisi religius yang diwariskan oleh para wali.Pelaksanaan tradisi adzan pitu sebenarnya hampir sama dengan pelaksanaan adzan shalat jumat pada umumnya.Setelah penabuhan bedug, dilanjutkan dengan adzan pitu selama 5-7 menit oleh tujuh orang muadzin yang berjajar di shaf ke-4.
Kemudian, dilanjutkan sholat sunah sebelum adzan kembali dikumandangkan oleh satu muadzin. Satu orang muadzin tersebut merupakan salah satu muadzin yang mengumandangkan adzan pitu.Dalam tradisi azan pitu di Cirebon yang tidak hanya menjadi ritual keagamaan tetapi juga simbol budaya lokal. Pelaksanaannya oleh tujuh muazin secara serentak merepresentasikan ajakan untuk salat sekaligus simbol perlawanan terhadap pengaruh buruk, seperti wabah dan krisis sosial. Tradisi ini tetap relevan di era modern sebagai warisan spiritualyang memperkuat identitas komunitas, menanamkan nilai-nilai moral, dan menjaga kesinambungan kearifan leluhur
Pertama, aspek agama. Dalam tradisi azan pitu, dimensi agama menjadi inti yang tak terpisahkan. radisi ini berfungsi sebagai panggilan bagi umat Islam untuk melaksanakan salat dengan penuh khusyuk dan ketaatan kepada Allah SWT. Salah satu keunikannya adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh muazin secara bersamaan, mencerminkan persatuan dan kekuatan spiritual yang melibatkan seluruh elemen masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berdasarkan kisah yang berkembang, tradisi ini pertama kali dilakukan sebagai upaya kolektif untuk menangkal kekuatan negatif atau ilmu hitam yang diyakini mengganggu masyarakat pada masa lalu.

Pelestarian tradisi azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan warisan budaya dan agama yang telah berlangsung sejak zaman Wali Songo. Pertama, Pelestarian tradisi azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa dilakukan melalui praktik rutin saat salat Jumat. Azan pitu di kumandangkan secara bersama-sama oleh tujuh orang muazin. Praktik ini hanya dilakukan di masjid tersebut, terutama pada salat Jumat, sebagai upaya untuk mempertahankan keaslian dan keunikan tradisi yang telah diwariskan sejak zaman Wali Songo. Dengan tidak menyebarluaskan praktik ini ke masjid lain, Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjaga nilai historis dan keterkaitannya yang kuat dengan sejarah tradisi azan pitu, menjadikannya simbol agama dan budaya yang khas bagi masyarakat Cirebon.
Kedua, pelestarian tradisi azan pitu juga dilakukan melalui pendekatan tutur lisan. Para sesepuh masjid, tokoh agama, dan masyarakat setempat berperan dalam menyampaikan sejarah, makna, dan tata cara pelaksanaan tradisi azan pitu kepada generasi muda. Metode ini dianggap efektif untuk menjaga keaslian cerita dan nilai budaya yang melekat pada tradisi ini.
Ketiga, dilakukan dengan mengadakan lomba azan yang diadakan setiap setahun sekali di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Lomba ini terbuka untuk anak-anak laki-laki Muslim yang duduk di bangku SMP hingga SMA dan bertujuan untuk menarik perhatian generasi muda terhadap tradisi budaya ini. Lomba azan pitu dilakukan dengan cara berkelompok, di mana tujuh orang muazin mengumandangkan azan secara bersama-sama. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian tradisi, tetapi juga sebagai upaya memperkenalkan nilai-nilai budaya Cirebon kepada masyarakat luas.
KesimpulanTradisi azan pitu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa merupakan warisan spiritual, budaya, dan sejarah peninggalan masa Wali Songo yang hingga kini tetap dilestarikan oleh masyarakat Cirebon. Pelaksanaan azan oleh tujuh muazin secara serentak bukan hanya berfungsi sebagai panggilan salat, tetapi juga menjadi simbol persatuan umat, kekuatan spiritual, dan penghormatan terhadap perjuangan penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati serta tokoh-tokoh penting lainnya seperti Ratu Nyi Mas Pakungwati.
Secara historis, tradisi ini diyakini muncul sebagai bentuk ikhtiar kolektif untuk menangkal gangguan kekuatan negatif dan wabah yang pada masanya dianggap berasal dari sihir menjangan wulung. Keberhasilan tujuh muazin dalam mengumandangkan azan tanpa terjadi serangan kemudian menjadi dasar pelestarian tradisi ini hingga kini, terutama pada pelaksanaan salat Jumat.
Pelestarian azan pitu dilakukan secara konsisten melalui praktik rutin di masjid, pewarisan tutur lisan oleh para sesepuh dan tokoh agama, serta penyelenggaraan lomba azan untuk generasi muda. Dengan demikian, azan pitu bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga identitas budaya lokal yang memperkuat jati diri masyarakat Cirebon, menjaga nilai moral, dan memastikan kesinambungan kearifan leluhur di era modern.






