SURAU TAGAK – NAGARI RANCAK: (Menghidupkan Kembali Jiwa Nagari)
Oleh: Duski Samad
Pengasuh surautuankuprofessor series#25.07032026
Nagari dalam tradisi Minangkabau tidak hanya dibangun oleh rumah, jalan, dan kantor pemerintahan. Nagari berdiri karena nilai yang hidup dalam masyarakatnya—nilai adat, agama, dan keteladanan tokoh yang menjadi penuntun arah kehidupan bersama. Di masa lalu, pusat dari kehidupan nilai itu adalah surau.
Surau bukan sekadar tempat shalat. Ia adalah sekolah kehidupan. Di sanalah anak-anak belajar mengaji, pemuda belajar disiplin dan tanggung jawab, serta masyarakat belajar bermusyawarah. Surau melahirkan ulama, tuanku, guru, dan pemimpin nagari yang tidak hanya berilmu, tetapi juga memiliki akhlak dan keberanian moral.
Namun realitas hari ini memperlihatkan perubahan yang cukup tajam. Banyak nagari menghadapi krisis moral, krisis keteladanan, dan melemahnya ikatan sosial masyarakat. Surau masih berdiri, tetapi fungsinya tidak lagi sekuat dahulu. Generasi muda tumbuh di tengah arus teknologi, media sosial, dan perubahan budaya yang cepat, namun tidak selalu diimbangi dengan bimbingan moral yang kuat.
Akibatnya, berbagai persoalan sosial mulai terlihat: konflik kecil yang mudah membesar, penyalahgunaan narkotika, gaya hidup konsumtif, hingga menurunnya rasa tanggung jawab sosial. Masyarakat seperti kehilangan kompas moral yang dahulu membimbing kehidupan bersama.
Di sisi lain, tekanan ekonomi juga semakin terasa. Banyak keluarga menghadapi kesulitan ekonomi di tengah meningkatnya kebutuhan hidup. Budaya konsumtif yang dipengaruhi gaya hidup modern sering membuat masyarakat lebih fokus pada pengeluaran daripada produktivitas. Ketika pendapatan terbatas tetapi gaya hidup meningkat, kemiskinan menjadi semakin kompleks.
Situasi ini diperparah oleh bencana alam yang melanda berbagai daerah di Sumatera Barat dalam beberapa tahun terakhir. Banjir dan longsor tidak hanya merusak rumah dan jalan, tetapi juga menghilangkan sawah dan ladang masyarakat—sumber kehidupan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Banyak petani kehilangan lahan, banyak keluarga kehilangan penghasilan, dan ketahanan ekonomi nagari menjadi semakin rapuh.
Dalam kondisi seperti ini, muncul pula persoalan mentalitas. Sebagian generasi muda menunjukkan melemahnya etos kerja dan semangat produktif. Keinginan mendapatkan hasil cepat sering lebih kuat daripada kesabaran untuk berusaha. Padahal dalam tradisi Minangkabau dan ajaran Islam, kemuliaan manusia terletak pada kerja keras, kemandirian, dan kebermanfaatan bagi orang lain.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa bekerja dengan tangan sendiri lebih mulia daripada hidup bergantung kepada orang lain. Nilai ini dahulu ditanamkan kuat dalam kehidupan masyarakat melalui pendidikan surau.
Karena itu, menghadapi berbagai persoalan tersebut, masyarakat nagari memerlukan sebuah gerakan yang mampu menghidupkan kembali sumber kekuatan moral dan sosial masyarakat. Dalam sejarah Minangkabau, sumber kekuatan itu adalah surau.
Menghidupkan kembali surau berarti menghidupkan kembali pendidikan akhlak, tradisi ilmu, solidaritas sosial, dan pembinaan generasi muda. Surau harus kembali menjadi tempat lahirnya manusia yang kuat iman, luas wawasan, dan tinggi kepedulian sosialnya.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan Program Surau Tagak – Nagari Rancak. Program ini bukan sekadar membangun bangunan surau, tetapi menghidupkan kembali peran surau sebagai pusat pembinaan moral, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat nagari.
Ketika surau hidup, masyarakat akan kembali memiliki ruang untuk belajar, bermusyawarah, dan memperkuat nilai-nilai kehidupan bersama. Dari surau akan lahir kembali generasi yang berilmu, berakhlak, dan bersemangat membangun nagari.
Karena itu, kebangkitan nagari tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik. Yang lebih penting adalah membangun kembali jiwa masyarakatnya.
Dan jiwa itu, dalam sejarah Minangkabau, selalu lahir dari surau.
Jika surau kembali hidup, maka nilai akan kembali kuat.
Jika nilai kembali kuat, maka masyarakat akan bangkit.
Dan ketika masyarakat bangkit, nagari akan menjadi rancak—kuat, bermartabat, dan penuh keberkahan.



