Syekh Datu Kahfi Menggali Jejak Tokoh Normatif dan Penyebaran Islam di Indonesia
Oleh :
Dina Aulia, Dede Nursalsabiilah, Mohammad Fakhrizal Amin
Dosen Pengampu: Fadli Daud Abdullah, S.H.,M.H.
CIREBON – Nama Syekh Datu Khafi telah lama menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Islam di wilayah Cirebon. Syekh Datuk Kahfi (dikenal juga dengan nama Syekh Idhofi atau Syekh Nurul Jati atau Syekh Nurjati atau Syekh Nurijati atau Syekh Datuk Barul atau Syekh Datuk Iman atau Syekh Dulyamin) adalah tokoh penyebar Islam di wilayah yang sekarang dikenal dengan Cirebon dan leluhur dari Pembesar Sumedang. Cirebon, sebagai jantung penyebaran Islam di Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang terukir oleh para ulama besar. Mereka tak hanya berdakwah, namun juga meletakkan fondasi pendidikan dan moral masyarakat. Salah satu figur sentral adalah Syekh Datu Kahfi, yang perannya fundamental dalam membentuk spiritualitas dan intelektualitas Cirebon. Berbagai kisah turun-temurun dan catatan setempat mengidentifikasi beliau sebagai guru dari tokoh-tokoh yang kelak mendirikan Kesultanan Cirebon. Hingga kini, nilai-nilai etika yang beliau tanamkan tetap menjadi panduan.
Syekh Datuk Kahfi, yang lebih sering dikenal di kalangan masyarakat Cirebon dengan nama Syekh Nurul Jati atau julukan lokal Ki Gedeng Jati, merupakan salah satu tokoh ulama paling berpengaruh dan motor utama dalam gelombang pertama penyebaran agama Islam di wilayah pesisir Jawa Barat, khususnya di Cirebon. Beliau memiliki peran fundamental dalam meletakkan landasan spiritual dan politis yang kelak akan berkembang menjadi Kesultanan Cirebon. Syekh Datuk Kahfi berasal dari Hadramaut, Yaman, dengan silsilah yang tersambung langsung kepada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husein. Sebelum tiba di Nusantara, beliau menghabiskan waktu bertahuntahun di Mekah untuk menuntut ilmu agama secara mendalam. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan untuk berlayar menuju Pulau Jawa dengan misi dakwah. Setibanya di Cirebon, beliau tidak langsung berdakwah di pusat kekuasaan, melainkan mendirikan sebuah padepokan sederhana di daerah yang kini dikenal sebagai Amparan Jati (di sekitar kompleks pemakaman Gunung Jati). Lokasi ini menjadi markas besar sekaligus pusat pendidikan Islam yang menarik banyak santri dari berbagai daerah. Di padepokan inilah, Syekh Datuk Kahfi mengajarkan ajaran Islam yang moderat, terutama melalui pendekatan tasawuf dan tarekat, yang lebih mudah diterima oleh masyarakat Sunda yang saat itu mayoritas masih menganut Hindu-Buddha atau kepercayaan animisme. Peran beliau sebagai pendidik sangat vital bagi generasi penerus. Murid-murid utama beliau adalah tokoh-tokoh kunci dalam sejarah Cirebon, di antaranya, Pangeran Walangsungsang, putra mahkota dari Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Nyai Rara Santang, adik kandung Pangeran Walangsungsang yang kelak menjadi ibunda dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Nyi Indang Geulis, istri dari Pangeran Walangsungsang.
Melalui bimbingan Syekh Datuk Kahfi, Pangeran Walangsungsang dan Nyi Indang Geulis memeluk Islam dan mendirikan permukiman baru yang berkembang menjadi Keraton Pakungwati, yang merupakan embrio dari Kesultanan Cirebon. Secara tidak langsung, Syekh Datuk Kahfi adalah arsitek spiritual di balik berdirinya negara Islam pertama di Jawa Barat tersebut. Syekh Datuk Kahfi mengabdikan sisa hidupnya untuk berdakwah hingga akhir hayat. Beliau wafat dan dimakamkan di lokasi yang sama dengan padepokannya, yakni di kompleks pemakaman Astana Gunung Jati. Makam beliau terletak berdekatan dengan makam Sunan Gunung Jati, para sultan Cirebon, dan tokoh penting lainnya, menjadikannya salah satu situs ziarah paling sakral di Jawa Barat hingga kini.
Makam Syekh Datu Kahfi ada di daerah Gunung Jati, Cirebon. Tempat ini sudah lama jadi tujuan orang-orang untuk ziarah dan mencari ketenangan batin. Bukan Cuma situs bersejarah, makam ini juga jadi simbol rasa hormat kita pada nilai-nilai baik yang diajarkan Syekh Datu Kahfi. Banyak orang dari mana-mana datang ke tempat ini untuk ziarah, kirim doa, dan mengenang jasa-jasa beliau. Kalau dilihat dari sudut pandang nilai -nilai yang diyakini, kebiasaan ziarah ini menunjukan kalau masyarakat Cirebon itu peduli dan bersedia untuk terus menjaga hubungan batin serta spiritual dengan para pendahulu yang sudah berjasa. Ziarah itu bukan berarti menyembah, tapi lebih ke arah merenung, introspeksi diri supaya akhlak jadi lebih baik, untuk mengingat kembali lagi perjuangan para ulama, dan mengambil pelajaran dari contoh baik yang mereka kasih.

Syekh Datu Kahfi itu guru yang terkenal. Baginya, akhlak atau perilaku baik itu lebih penting daripada seberapa banyak ilmu yang dimiliki. Saat mengajarkan agama, beliau selalu menekankan soal sopan santun, sabar, dan sungguh-sungguh kalau ingin memahami ajaran Islam. Cara mengajar beliau ini pas banget dengan prinsip pendidikan Islam yang memang menyeimbangkan antara ilmu, keyakinan, dan perbuatan baik.Waktu berdakwah, Syekh Datu Kahfi menggabungkan cara budaya dengan cara agama. Beliau sangat menghargai adat istiadat setempat, berbicara baikbaik, dan tidak pernah untuk memaksa masyarakat agar langsung menerima ajaran baru. Karena cara berdakwahnya yang halus ini, Islam bisa diterima dengan damai di Cirebon. Salah satu nilai-nilai yang diajarkan Syekh Datu Kahfi dalam pendidikan masih jadi contoh sampai sekarang, di antaranya, Sopan Santun dan Akhlak Baik. Syekh Datu Kahfi mengajarkan pentingnya menjaga ucapan, menghormati sesama, dan tidak merugikan orang lain. Orang-orang percaya, hidup berkah itu datang dari perilaku yang baik. Peduli Sesama, ajarannya mendorong setiap orang untuk perhatian sama lingkungan sosialnya. Kita diingatkan agar tidak Cuma fokus ibadah sendiri, tapi juga bisa bermanfaat buat orang lain. Melestarikan Adat dan Budaya, Syekh Datu Kahfi tidak menolak tradisi lokal, malah menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Jadi, masyarakat bisa menjalankan agama dengan tenang tanpa kehilangan identitas budayanya. Semangat Meniru Ulama, sebagai pembimbing spiritual, beliau menunjukkan kalau ulama itu tidak Cuma pintar ilmunya, tapi juga baik akhlaknya dan melakukan hal-hal nyata yang bisa menginspirasi.
Di tengah hiruk-pikuk era modern dengan segala tantangan nilai dan perubahan sosial yang cepat, ajaran-ajaran Syekh Datu Kahfi justru semakin menemukan relevansinya. Masyarakat dapat menggali banyak pelajaran berharga dari beliau, terutama dalam empat aspek kunci. Pertama, pendidikan karakter yang menekankan pentingnya menanamkan etika dan moralitas sejak usia dini, persis seperti yang beliau ajarkan. Kedua, moderasi beragama, di mana beliau menjadi teladan dalam mengedepankan pendekatan damai dan toleransi, sangat relevan untuk menjaga kerukunan sosial saat ini. Ketiga, pelestarian budaya, ajaran beliau mendorong kita untuk terus menghargai dan merawat warisan tradisi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa. Terakhir, penguatan spiritual, yang mengajak masyarakat untuk senantiasa mendekatkan diri pada nilai-nilai agama di tengah derasnya arus dinamika kehidupan modern. Seluruh nilai-nilai ini, pada akhirnya, menjadi landasan normatif yang kokoh untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Indonesia secara menyeluruh.
Syekh Datu Kahfi dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki peran besar dalam perkembangan awal Islam di kawasan Cirebon. Pengaruhnya tidak hanya tampak pada sejarah dakwah, tetapi juga pada pembentukan etika dan kehidupan spiritual masyarakat hingga masa sekarang. Nilai-nilai yang beliau tanamkan seperti pentingnya budi pekerti, kesungguhan menuntut ilmu, gaya hidup yang tidak berlebihan, serta penghargaan terhadap budaya setempat telah melekat kuat dalam jati diri masyarakat Cirebon selama berabad-abad. Di tengah perubahan zaman, ajaran-ajaran beliau tetap relevan. Warisan pemikirannya mengingatkan bahwa penguasaan ilmu harus selaras dengan penguatan akhlak. Tradisi berziarah ke makamnya pun bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi juga sarana untuk menata kembali diri, memperdalam refleksi, dan menjaga nilai-nilai moral yang telah diwariskan.
Oleh karena itu, kedudukan Syekh Datu Kahfi tidak hanya penting dalam catatan sejarah lokal, tetapi juga menjadi pedoman inspiratif yang terus mengarahkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih berakhlak, religius, dan harmonis. Muncul pertanyaan apakah semakin naik tangga diziarah syekh makam Datuk Khafi semakin dekat dengan Allah apa itu benar atau tida. Tidak benar secara ajaran Islam bahwa semakin tinggi anak tangga yang dinaiki di area ziarah makam Syekh Datuk Kahfi maka seseorang otomatis semakin dekat dengan Tuhan, karena kedekatan kepada Allah tidak ditentukan oleh tempat, ketinggian, ataupun posisi fisik, melainkan oleh iman, ketakwaan, keikhlasan, dan akhlak seseorang. Tangga dan tingkatan di kawasan ziarah lebih dapat dipahami sebagai simbol perjalanan spiritual dan adab budaya dalam tradisi IslamJawa, yang mengajarkan kesabaran, ketertiban, serta kerendahan hati, bukan sebagai ukuran kesucian atau kemustajaban doa. Oleh karena itu, ziarah seharusnya dimaknai sebagai sarana untuk mendoakan, merenung, dan memperbaiki diri, bukan keyakinan bahwa posisi tertentu secara otomatis membuat manusia lebih dekat dengan Allah. Sebagian besar isi pembahasan mengenai Syekh Datu Kahfi sekitar dua pertiga dari keseluruhan uraian merujuk pada pandangan ulama dan tradisi lokal Cirebon yang bersumber dari babad, cerita tutur masyarakat, serta legitimasi kultural Keraton dan lingkungan Astana Gunung Jati, seperti yang tercermin dalam Babad Cirebon dan Carita Purwaka Caruban Nagari, yang menekankan peran Syekh Datu Kahfi sebagai pendidik spiritual, pendakwah tasawuf, dan arsitek moral awal masyarakat Cirebon. Pandangan tersebut kemudian diperkuat dan dikonferensikan dengan kajian sejarawan Islam Nusantara seperti Azyumardi Azra dan Uka Tjandrasasmita, yang menempatkan dakwah Islam di pesisir Jawa sebagai proses damai, akomodatif terhadap budaya lokal, serta dipengaruhi jaringan ulama Hadramaut, sehingga narasi lokal memperoleh legitimasi akademik. Adapun sepertiga sisanya merupakan analisis reflektif penulis yang bersifat normatif-interpretatif, digunakan untuk menautkan nilai-nilai ajaran Syekh Datu Kahfi seperti akhlak, moderasi beragama, dan pelestarian budaya dengan konteks sosial masyarakat modern.









