TASAWUF BUKAN TAMENG, MELAINKAN JALAN MENUJU HAKIKAT DAN PERADABAN
Meneguhkan Syariat, Ihsan, Khasyah, dan Optimisme Kehidupan
Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag.
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Tasawuf di Tengah Perdebatan
Majalah Hidayatullah edisi April 2026 mengangkat tema menarik, “Tasawuf sebagai Tameng?” Salah satu artikelnya, karya Dr. Syamsuddin Arif berjudul “Wahdatul Wujud: Antara Tauhid dan Kontroversi”, membuka ruang diskusi tentang hubungan tasawuf, tauhid, dan pemikiran metafisika Islam.
Perdebatan mengenai tasawuf sesungguhnya bukan persoalan baru. Sejak masa klasik, para ulama telah mendiskusikan batas antara pengalaman spiritual, pemahaman filosofis, dan ketentuan syariat. Persoalannya, kritik terhadap sebagian pandangan atau praktik tasawuf terkadang berkembang menjadi generalisasi yang menempatkan seluruh tradisi tasawuf sebagai sesuatu yang mencurigakan.
Padahal, tasawuf memiliki kontribusi besar terhadap pembentukan akhlak, pengembangan spiritualitas, dan peradaban Islam. Karena itu, tasawuf seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai tameng pembelaan teologis, melainkan sebagai jalan transformasi manusia menuju kehidupan yang bermakna.
Tasawuf adalah Inti Penghayatan Syariat
Tasawuf tidak berdiri di luar syariat. Ia merupakan dimensi batiniah yang memperdalam penghayatan dan pelaksanaan ajaran Islam. Hubungan keduanya dapat dipahami melalui tiga pilar agama, yaitu iman, Islam, dan ihsan.
Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan ihsan sebagai beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, dan apabila tidak mampu melihat-Nya, meyakini bahwa Allah senantiasa melihat manusia (Muslim, Sahih Muslim, Kitab al-Iman).
Ihsan merupakan inti spiritualitas Islam. Syariat mengatur tata cara ibadah, sedangkan tasawuf membangun kesadaran batin yang menjadikan ibadah bermakna.
Salat tidak cukup hanya memenuhi rukun dan syarat, tetapi harus melahirkan kejujuran. Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan pendidikan pengendalian diri. Zakat tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban, tetapi membentuk solidaritas sosial.
Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan pentingnya penyucian hati agar amal lahiriah memiliki kualitas spiritual (al-Ghazali, t.t.).
Dengan demikian, tasawuf bukan pengganti syariat, melainkan penguatan dimensi ihsan dalam pelaksanaannya.
Tasawuf sebagai Ijtihad Ulama Berbasis Khasyah
Tasawuf berkembang melalui ijtihad keilmuan para ulama dalam memahami kehidupan rohani manusia. Para tokoh seperti al-Junaid, al-Qusyairi, dan al-Ghazali merumuskan pendidikan jiwa melalui muhasabah, muraqabah, sabar, syukur, ikhlas, dan tawakal.
Dasar spiritualnya adalah khasyah, yakni rasa takut dan pengagungan kepada Allah yang lahir dari kedalaman ilmu.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fatir [35]: 28).
Khasyah menjadikan ilmu bukan sekadar instrumen kecerdasan, melainkan sumber kesadaran moral. Orang berilmu semestinya semakin rendah hati, bertanggung jawab, dan menjauhi penyalahgunaan kekuasaan.
Al-Qusyairi menempatkan pembinaan akhlak dan disiplin spiritual sebagai bagian penting perjalanan seorang salik (al-Qusyairi, t.t.).
Namun, karena merupakan hasil penafsiran dan pengalaman manusia, rumusan tasawuf tetap terbuka terhadap kritik ilmiah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Tasawuf Jalan Menuju Hakikat Sejati
Kontroversi wahdatul wujud perlu dipahami secara hati-hati. Perdebatan mengenai pemikiran Ibn Arabi sering berpusat pada hubungan antara keberadaan Allah dan keberadaan makhluk.
Dalam tradisi metafisika sufi, terdapat penekanan bahwa seluruh makhluk bergantung sepenuhnya kepada Allah. Namun, ketergantungan tersebut tidak dengan sendirinya berarti penyamaan zat Tuhan dengan alam.
Al-Qur’an menegaskan:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11).
Pemikiran Ibn Arabi memerlukan pembacaan filosofis dan historis yang cermat, bukan sekadar penilaian berdasarkan istilah yang terlepas dari konteksnya (Chittick, 1989).
Hakikat sejati dalam tasawuf bukanlah klaim penyatuan manusia dengan Tuhan secara zat, melainkan pendalaman makrifat, kesadaran ketergantungan kepada Allah, dan penyempurnaan akhlak.
Semakin tinggi pengalaman spiritual seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.
Tasawuf Membangun Optimisme Kehidupan
Tasawuf sering disalahpahami sebagai ajaran yang menjauhkan manusia dari dunia, melemahkan semangat bekerja, dan menumbuhkan kepasrahan pasif.
Padahal, tasawuf yang sehat justru membangun optimisme.
Tawakal bukan meninggalkan ikhtiar. Zuhud bukan menolak kekayaan. Qanaah bukan mematikan cita-cita. Sabar bukan membiarkan ketidakadilan.
Nilai-nilai tersebut membebaskan manusia dari keserakahan, kecemasan berlebihan, dan ketergantungan terhadap materi.
Al-Qur’an mengingatkan agar manusia tidak berputus asa dari rahmat Allah (QS. Yusuf [12]: 87).
Dalam konteks kehidupan modern, tasawuf dapat menjadi sumber ketahanan spiritual, etika kerja, dan kepedulian sosial. Spiritualitas yang matang bukan menghindari persoalan kehidupan, melainkan menghadapinya dengan kesabaran, keberanian, dan harapan.
Tasawuf Positif dan Negatif
Perlu dibedakan antara tasawuf positif yang berorientasi pada penyucian jiwa dan praktik negatif yang mengatasnamakan tasawuf.
Tasawuf positif memperkuat syariat, mengembangkan ilmu, membangun integritas, menumbuhkan optimisme, dan menghadirkan kemaslahatan sosial.
Sebaliknya, praktik tasawuf negatif dapat muncul ketika seseorang mengabaikan syariat, mengkultuskan guru secara berlebihan, mengklaim pengalaman spiritual tanpa pertanggungjawaban, atau menggunakan agama untuk kepentingan pribadi.
Pembedaan ini bersifat evaluatif, bukan pembagian baku seluruh aliran tasawuf.
Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan pentingnya memahami dimensi positif tasawuf dalam kerangka pandangan hidup Islam yang berpusat pada tauhid dan ilmu (al-Attas, 1981).
Karena itu, penyimpangan praktik spiritual perlu dikritik tanpa meniadakan kontribusi besar tradisi tasawuf.
Tasawuf dan Peradaban Profetik
Tasawuf sejati tidak berhenti pada kesalehan individual. Ia harus melahirkan kesalehan sosial.
Dalam pendidikan, tasawuf mempertemukan ilmu dengan adab. Dalam kepemimpinan, ia membangun amanah dan kejujuran. Dalam ekonomi, ia menanamkan etika kerja dan tanggung jawab. Dalam kehidupan masyarakat, ia menumbuhkan kasih sayang dan perdamaian.
Tradisi surau di Minangkabau memperlihatkan bagaimana pendidikan agama, pembinaan akhlak, dan kehidupan sosial dapat saling memperkuat. Warisan keulamaan Syekh Burhanuddin dan tradisi tarekat merupakan bagian penting dari sejarah pendidikan spiritual masyarakat yang patut dikaji dan dikembangkan secara kritis.
Akhirnya, tasawuf bukanlah tameng untuk membenarkan diri atau menutupi kelemahan. Tasawuf adalah jalan menuju hakikat, membangun optimisme, dan membentuk peradaban berakhlak.
Ukuran keberhasilannya bukan tingginya klaim spiritual, melainkan semakin bersih hati, semakin jujur perilaku, semakin kuat pengabdian, dan semakin besar manfaat seseorang bagi kehidupan.
Tasawuf sejati tidak menjauhkan manusia dari dunia, tetapi menghadirkan kesadaran ketuhanan untuk memperbaiki dunia.
—
Referensi
1. Al-Qur’an al-Karim. QS. Fatir [35]: 28; QS. Asy-Syura [42]: 11; QS. Yusuf [12]: 87.
2. Al-Ghazali, Abu Hamid. (t.t.). Ihya’ ‘Ulum al-Din.
3. Al-Qusyairi, Abd al-Karim. (t.t.). Al-Risalah al-Qusyairiyyah.
4. Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1981). The Positive Aspects of Tasawwuf: Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science. Kuala Lumpur: Islamic Academy of Science.
5. Chittick, William C. (1989). The Sufi Path of Knowledge: Ibn al-‘Arabi’s Metaphysics of Imagination. Albany: State University of New York Press.
6. Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis Jibril.
7. Arif, Syamsuddin. (2026, April). “Wahdatul Wujud: Antara Tauhid dan Kontroversi.” Majalah Hidayatullah, berdasarkan halaman artikel yang ditampilkan.

