TERJEBAK TUNTUTAN HARUS SEMPURNA DIDUNIA DIGITAL
Oleh
Nurhamidah Murotul Nadiroh
Institut Darul Falah Bandung Barat
PENDAHULUAN
Perkembangan media digital memang membawa banyak kemudahan dalam segala hal, mulai dari komunikasi hingga hiburan. Namun, tanpa disadari, media sosial juga menghadirkan tekanan sosial yang perlahan mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Saat ini, tampilan di media sosial sering dianggap sebagai gambaran kualitas hidup seseorang. Foto yang estetik, unggahan yang tampak bahagia, serta profil yang penuh pencapaian membuat banyak orang merasa hidupnya juga harus terlihat sempurna. Tanpa sadar, kebiasaan membandingkan diri pun muncul. Kita jadi membandingkan diri dengan orang-orang yang sebenarnya tidak kita kenal. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Namun, karena konten seperti ini sering muncul, banyak orang menganggapnya sebagai standar hidup yang normal. Akibatnya, muncul rasa lelah dan tertekan karena merasa harus selalu tampil baik, meskipun kehidupan nyata penuh dengan ketidaksempurnaan.
Tekanan tersebut sering kali tidak terasa secara langsung, tetapi muncul dalam kebiasaan sehari-hari. Banyak orang menjadi lebih berhati-hati sebelum mengunggah sesuatu karena takut dinilai buruk oleh orang lain. Hal sederhana seperti mengambil foto pun bisa berubah menjadi kegiatan yang memakan waktu karena harus memilih sudut, cahaya, dan tampilan yang dianggap paling aman. Lama-kelamaan, yang lebih dipikirkan bukan lagi bagaimana menjalani hidup, tetapi bagaimana hidup itu terlihat di mata orang lain. Selain itu, cepatnya arus media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan. Ketika seseorang mulai mengukur nilai dirinya dari apa yang dilihat di layar, rasa tidak puas pun mudah muncul. Inilah yang membuat banyak orang merasa lelah secara mental, meskipun sebenarnya kehidupan mereka berjalan dengan baik.
PEMBAHASAN
- Kebiasaan Membandingkan Diri
Di media sosial, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain terjadi dengan sangat cepat. Dalam waktu singkat, seseorang bisa melihat berbagai pencapaian orang lain. Jika dilakukan terus-menerus, hal ini dapat menimbulkan perasaan tertinggal, kecemburuan, rasa iri, dan menurunkan kepercayaan diri karena standar yang dilihat bukan gambaran nyata, melainkan hasil pilihan terbaik yang ditampilkan.
- Pengakuan Digital sebagai Ukuran Diri
Banyak orang kini menilai dirinya dari jumlah like, komentar, dan pengikut. Tidak sedikit yang merasa ragu sebelum mengunggah sesuatu karena takut responsnya sedikit atau tidak sesuai harapan. Lama-kelamaan, kebutuhan akan pengakuan di dunia digital menjadi sumber utama rasa percaya diri seseorang juga menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
- Standar Penampilan yang Tidak Sesuai Realita
Filter dan aplikasi edit semakin memperkuat tuntutan untuk tampil sempurna. Hal ini membuat pengguna merasa harus tampil semaksimal mungkin juga harus serupa di kehidupan nyata, sehingga muncul jarak antara diri yang sebenarnya dan citra yang ingin ditunjukkan di media sosial.
- Tekanan Mental yang Tersembunyi
Tuntutan untuk selalu terlihat baik dan sempurna dapat memicu stres, rasa cemas, hingga kelelahan mental. Sebagian orang mulai menghindari interaksi sosial karena takut dinilai, sementara yang lain merasa hidupnya kurang memuaskan meskipun tidak menghadapi masalah besar. Tekanan ini sering kali tidak tampak secara nyata, karena di media sosial mereka tetap menampilkan diri seolah-olah baik-baik saja. Padahal, di balik tampilan tersebut, banyak orang menyimpan berbagai tekanan yang memengaruhi keseharian mereka.
- Upaya Mengurangi Tekanan Digital
Tekanan dari media sosial dapat dikurangi dengan mengubah cara kita berinteraksi di dalamnya. Menjadi lebih selektif terhadap konten yang dikonsumsi dan tidak merasa perlu membagikan semua hal ke ruang publik dapat membantu mengurangi beban emosional. Tidak semua pengalaman harus mendapat pengakuan orang lain. Selain itu, membangun kepercayaan diri dari kehidupan nyata melalui hubungan langsung, aktivitas sehari-hari, dan pencapaian kecil dapat menjadi penyeimbang dari dunia digital. Dengan cara ini, media sosial dapat kembali berfungsi sebagai sarana berbagi, bukan sebagai sumber tekanan.
KESIMPULAN
Fenomena tuntutan untuk selalu terlihat sempurna di dunia digital menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi, melainkan telah berubah menjadi arena penilaian sosial yang memengaruhi cara individu memaknai dirinya. Tekanan yang muncul bukan semata-mata berasal dari teknologi, tetapi dari pola penggunaan dan standar tidak realistis yang terus dibangun di dalamnya. Ketika kehidupan dinilai melalui tampilan visual dan respons publik, kelelahan mental menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Oleh karena itu, persoalan utama yang perlu disadari bukan bagaimana menjadi lebih “sempurna” di media sosial, melainkan bagaimana membangun sikap yang lebih kritis dan sadar dalam menggunakannya. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri, tidak menggantungkan harga diri pada validasi digital, serta memberi ruang bagi ketidaksempurnaan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah arus digital yang bergerak cepat. Pada akhirnya, media sosial perlu kembali ditempatkan sebagai alat, bukan sebagai tolak ukur nilai diri. Ketika individu mampu menyeimbangkan kehidupan digital dengan realitas sehari-hari, tekanan untuk tampil sempurna dapat berkurang. Dengan kesadaran tersebut, ruang digital tidak lagi menjadi sumber kelelahan, melainkan dapat berfungsi sebagai sarana yang lebih sehat untuk berekspresi dan berinteraksi.








